Deretan Fakta Terkait Vaksin Covid-19 Pfizer Yang Diklaim 90% Efektif

Ilustrasi Vaksin Covid-19. Foto : iStock

 

Dalam uji klinis fase III, vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan BioNTech dikatakan menjadi vaksin dinyatakan sukses pertama. Adapun efektivitas vaksin ini diklaim mencapai 90 persen.

 

Seperti dikutip dari laman detik.com, Selasa (10/11/2020), Pfizer yang diketahui berbasis di Amerika Serikat (AS) ini, diharapkan mendapat Emergency Use Authorization (EUA) di Amerika Serikat dalam beberapa pekan ke depan. Dalam pengujiannya, vaksin ini teruji untuk usia 16-85 tahun.

 

Terkait vaksin buatan Pfizer-BioNTech ini, ada deretan fakta yang perlu diketahui di antaranya sebagai berikut.

 

1.    Jenis Vaksin

BNT162b2 atau nama dari vaksin Covid-19 ini berbasis teknologi messenger RNA (nRNA). Dibandingkan dengan teknologi biasa, vaksin ini menggunakan gen sintetis yang lebih mudah diciptakan sehingga bisa diproduksi lebih cepat.

 

2.    Cara Kerja

Vaksin Covid-19 ini sebelumnya dibuat dari virus atau patogen yang tidak aktif atau dilemahkan. Nantinya, virus yang tidak aktif ini tidak akan menyebabkan sakit. Akan tetapi, virus ini justru akan mengajari sistem imun untuk memberikan respons perlawanan.

 

Vaksin Pfizer-BioNTech ini dikembangkan dengan menggunakan teknologi yang berbeda. Dalam prosesnya, seseorang akan disuntik dengan mRNA menggunakan kode genetik dari virus tersebut. Dan hasilnya, tubuh akan memproduksi protein yang merangsang respons imun.

 

3.    Klaim ’90 persen efektif’

Berdasarkan data yang tersedia saat ini, merupakan analisis interim yang dilakukan terhadap 94 partisipan. Dimana, kurang dari 9 di antaranya mengalami gejala Covid-19 usai diberi vaksin.

 

Walaupun dikatakan masih baru temuan awal, namun angka 90 persen ini sangat mengejutkan. Sebab, para ilmuwan selama ini hanya memperkirakan efektivitas vaksin Covid-19 tidak akan lebih dari 70 persen.

 

Sementara itu, untuk uji klinis jjuga masih berjalan. Bahkan, para pakar dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat juga mengaku masih akan mereview lebih banyak data untuk memastikan keamanannya.

 

4.    Dikatakan hanya mampu mencegah gejala?

Dilansir dari laman Businessinsider, analisis ini dikatakan belum bisa menguji apakah vaksin tersebut juga mencegah infeksi asimptomatis atau tanpa gejala. Pasalnya, partisipan hanya dites ketika bergejala. Oleh karena itu, belum bisa dipastikan seberapa efektif vaksin ini untuk mencegah seseorang jadi carrier asimptomatis.