Penutupan Kembali Akses Jemaah Umrah Asal Indonesia Oleh Arab Saudi

 

Ilustrasi Jemaah Umrah. Foto : Saudi Press Agency

 

Penyelenggaraan umrah untuk jemaah asal Indonesia kembali ditutup oleh Arab Saudi. Diketahui pada 1 November 2020 lalu, Pemerintah Arab Saudi padahal telah memberi izin kepada jemaah dari luar negaranya untuk menyelenggarakan umrah. Bahkan, Indonesia mendapat kehormatan menjadi yang pertama, selain Pakistan. Akan tetapi, sejumlah jemaah asal Indonesia diketahui positif Covid-19 setelah menjalani pemeriksaan di Saudi.

 

“Saat ini Pemerintah Arab Saudi sedang menutup proses visa dalam rangka melakukan evaluasi dan pengaturan terhadap penyelenggaraan ibadah umrah bagi jemaah Indonesia,” kata Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Oman Fathurahman dalam keterangannya, seperti dikutip dari laman Merdeka.com, Selasa (17/11/2020).

 

Dalam tiga fase keberangkatan tanggal 1, 3, dan 8 November 2020, total yang berangkat ke Arab Saudi berjumlah 359 jemaah umrah asal Indonesia. Menurut hasil pengawasan, Kemenag juga telah meminta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk melakukan persiapan secara lebih komprehensif terkait penyelenggaraan umrah di masa pandemi Covid-19. Termasuk halnya dalam mengadakan sosialisasi dan edukasi jemaah.

 

“PPIU yang akan memberangkatkan jemaah umrah pada masa pandemi covid-19, harus mempersiapkan jemaahnya. Kuncinya edukasi. Jadi PPIU harus berikan edukasi secara intensif dan terperinci terkait prosedur pelaksanaan ibadah umrah saat pandemi,” terang Oman.

 

Oman menjelaskan, bahwa edukasi dan sosialisasi harus dilakukan agar sebelum berangkat, jemaah benar-benar memahami dan memaklumi situasi dan kondisi di Arab Saudi. Terutama hal- hal seperti ketaatan, kepatuhan, dan kedisiplinan jemaah dan penyelenggara untuk mematuhi dan mengikuti protokol kesehatan juga sangat diperlukan. Hal ini bertujuan agar jemaah tetap sehat dan aman dalam menjalankan perjalanan ibadah umrah.

 

“Protokol kesehatan harus benar-benar dijalankan secara disiplin dan ketat untuk memastikan jemaah tetap sehat dan tidak terpapar Covid-19. Jika ada satu jemaah saja yang kedapatan positif Covid, apalagi saat sudah berada di Saudi, maka akan berdampak pada jemaah lainnya yang berangkat dalam satu rombongan,” ujarnya.

 

Diungkapkan oleh Oman, bahwa ada sejumlah temuan yang didapat dalam proses pengawasan penyelenggaraan ibadah umrah pada masa pandemi Covid-19. Yang pertama, yakni terdapat prosedur pemeriksaan PCR/SWAB pada saat karantina di hotel. Adapun pemeriksaan ini dilakukan saat kedatangan para jemaah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan jemaah yang akan melaksanakan ibadah umrah atau salat lima waktu di Masjidil Haram benar-benar terbebas dari virus Covid-19.

 

“Ketentuan ini tidak tertuang dalam aturan yang disampaikan Pemerintah Arab Saudi. Ini agar dipahami bersama oleh seluruh jemaah,” ujarnya.

 

Kemudian yang kedua, ada sebanyak 13 jemaah asal Indonesia yang terkonfirmasi positif dari hasil tes PCR/SWAB yang dilakukan Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Puluhan jemaah tersebut, kemudian diisolasi di hotel tempat jemaah menginap sampai dengan 10 hari sejak terkonfirmasi positif. Baru setelahnya, akan diijinkan untuk salat di Masjidil Haram dan umrah.

 

“Setelah itu, mereka meninggalkan Makkah untuk kembali ke Indonesia,” jelasnya.

 

Yang ketiga, yakni ketika melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, jemaah umrah diharuskan mendapat pendampingan yang ketat dari muassasah. Hal ini dilakukan sebagai wujud pengendalian dan pengawasan mobilitas jemaah dan memastikan protokol kesehatan diterapkan.

 

Selanjutnya yang keempat, jemaah umrah asal Indonesia yang berangkat pada 1 dan 3 November 2020, tidak dapat melanjutkan ziarah ke Madinah. Pasalnya, terdapat kasus positif dalam rombongan tersebut.

 

Dan yang terakhir, saat kepulangan di tanah air, jemaah yang tidak memiliki dokumen hasil PCR/SWAB dari Arab Saudi, akan dilakukan karantina. Selain itu juga diwajibkan menjalankan pemeriksaan PCR/SWAB di tanah air oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soetta.