Heboh Tokoh Muslim AS Serukan Boikot Aplikasi Muslim Pro

Ilustrasi Aplikasi Muslim Pro. Foto : detik.com

 

Terkait dugaan jual-beli data pengguna aplikasi Muslim Pro ke Militer AS, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Awad mendesak agar hal tersebut segera dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

 

Berdasarkan laporan Vice Motherboard, disebutkan bahwa militer AS menggunakan dua metode terpisah untuk mendapatkan data lokasi pengguna Muslim Pro. Yang pertama, yakni dengan melibatkan produk bernama Locate X. Dan yang kedua yakni dengan mendapatkan data tersebut dari perusahaan bernama X-Mode.

 

Nantinya, data yang diperoleh tersebut memungkinkan militer untuk mengidentifikasikan lokasi geografis dan pergerakan pengguna aplikasi. Dimana, CAIR menilaihal tersebut sebagai pengawasan pemerintah tanpa jaminan terhadap Muslim Amerika.

 

“Kami mendesak agar Kongres menyelidiki lebih dalam dan untuk memastikan bahwa lembaga pemerintah atau pemain lain tidak menyalahgunakan data atau memiliki akses ilegal yang melanggar kepercayaan dan privasi pengguna,” ujar Awad seperti dikutip dari laman detik.com, Kamis (19/11/2020).

 

Seperti diketahui, bahwa aplikasi Muslim Pro yang dikembangkan oleh Bitsmedia yang berbasis di Singapura ini telah menjangkau hampir 100 juta pengguna. Bahkan, aplikasi ini telah digunakan di lebih dari 216 negara seluruh dunia.

 

Menanggapi adanya kabar tersebut, CAIR mengajak umat Islam untuk berhenti menggunakan aplikasi Muslim Pro dan aplikasi lainnya. Yakni sampai sang pemilik dari layanan tersebut menawarkan transparansi dan berjanji untuk mengakhiri memanfaatkan data pengguna oleh pemerintah. Selain itu, CAIR juga akan mengajukan petisi kepada Kongres untuk mengusut tuntas persoalan jual-beli data pengguna Muslim Pro ke Militer AS itu.

 

“Kami kejar masalah ini sampai kita mendapatkan jawabannya,” tegas Awad.

 

Usai ramai digemparkan dengan laporan jual-beli data pengguna, Muslim Pro akhirnya langsung memberikan klarifikasi dan membantah semua tudingan kabar tersebut. Dimana, Muslim Pro menyatakan bahwa pemberitaan tersebut tidak benar. Di samping itu, Muslim Pro juga telah berkomitmen untuk melindungi data privasi para penggunanya.

 

“Laporan media yang beredar bahwa Muslim Pro telah menjual data pribadi penggunanya ke Militer AS. Ini SALAH dan TIDAK BENAR,” begitu pernyataan terjemahan Muslim Pro di website miliknya.