Cek Fakta Ilmuwan Kelelawar Temukan Bukti Baru Terkait Virus Covid-19

Ilustrasi Foto : Shutterstock.com

 

Baru-baru ini, sejumlah ilmuwan mengatakan bahwa virus Covid-19 yang terhubung dengan SARS-CoV-2 mungkin beredar pada kelelawar di seluruh bagian dari Asia. Bahkan, mereka telah menemukan virus yang mirip dengan penyebab Covid-19 pada sejumlah kelelawar di suaka margasatwa Thailand timur.

 

Seperti dikutip dari laman dream.co.id, Jumat (12/2/2021), diperkirakan virus serupa mungkin terdapat pada kelelawar di berbagai negara dan kawasan Asia. Adapun temuan ini memperluas wilayah cakupan ditemukannya virus hingga jarak 4.800 km. Dan juga turut memberikan petunjuk mengenai bagaimana Covid-19 bisa muncul.

 

Diketahui, adanya temuan ini telah dimuat dalam laporan Nature Communications. Dimana, para peneliti mengakui pengambilan sampel sangat terbatas. Akan tetapi, mereka yakin virus Covid-19 yang memiliki tingkat keterkaitan genetik tinggi dengan Sars-CoV-2 secara luas terdapat pada kelelawar di banyak negara dan wilayah di Asia. Termasuk Jepang, China, dan Thailand.

 

Sebelumnya, studi sempat menunjukkan bahwa Sars-CoV-2 muncul pada hewan, kemungkinan besar kelelawar, sebelum menyebar ke manusia. Bahkan, asal muasal virus tersebut tidak diketahui dan telah diselidiki oleh tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Sementara itu, dalam penelitian terbaru, tim yang dipimpin oleh Lin-Fa Wang dari Universitas Singapura mendeteksi kerabat dekat Sars-CoV-2 pada kelelawar tapal kuda yang hidup di gua buatan di suaka margasatwa Thailand. Dimana, virus yang dinamai RacCS203, sangat mirip dengan kode genetik Sars-CoV-2. Yakni dengan tingkat kemiripan genom mencapai 91,5 persen.

 

Hal ini juga terkait erat dengan virus Covid-19 lain dengan kode RmYN02 yang ditemukan pada kelelawar di Yunnan, China. Terlebih lagi, tingkat kemiripan genomnya dengan SARS-CoV-2 mencapai 93,6 persen.

 

“Tentu saja, kami perlu melakukan lebih banyak pengawasan pada hewan untuk menemukan asal sebenarnya, pekerjaan pengawasan harus melampaui perbatasan China,” kata Wang.

 

Di sisi lain, salah satu perhatian besar adalah kemampuan virus Covid-19 untuk berpindah di antara mamalia yang berbeda seperti kucing, anjing, dan cerpelai. Adapun dengan berpindah antar spesies, maka virus dapat bermutasi dan berkembang menjadi patogen baru yang dapat menjelaskan bagaimana Covid-19 muncul.

 

Menurut Thiravat Hemachudha dari Universitas Chulalongkorn Bangkok, Thailand, menjadi bagian dari tim peneliti internasional tersebut, virus yang ditemukan pada kelelawar di Thailand dan China bertindak sebagai replika yang sempurna.

 

“Adanya virus dapat bergabung kembali dengan yang lain dan akhirnya berkembang sebagai patogen baru yang muncul, virus Covid-19 sebagai satu,” katanya.

 

Bahkan, para peneliti juga memeriksa antibodi pada kelelawar dan trenggiling yang disita dari perdagangan hewan di Thailand selatan. Dimana, antibodi tersebut mampu menetralkan pandemi virus. Sehingga, menjadi bukti lebih lanjut menyatakan virus Covid-19 terkait Sars-CoV-2 beredar di Asia Tenggara.

 

Menanggapi laporan tersebut, Martin Hibberd dari London School of Hygiene & Tropical Medicine mengatakan bahwa temuan itu menyoroti penyebaran kelelawar dan virus yang mungkin termasuk pemicu wabah saat ini.

 

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana Sars-CoV-2 ditularkan dari hewan ke manusia, dengan investigator WHO baru-baru ini di Wuhan menunjukkan hingga saat ini, belum ada bukti konklusif tentang bagaimana ini terjadi,” katanya.