Soal Teleponan dengan Netanyahu, Inilah Perbedaan Donald Trump dan Joe Biden

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Foto : AFP

 

Dalam mendiskusikan kebijakan dan kerjasama terkait sejumlah isu, Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden diketahui telah menelepon sejumlah pemimpin negara. Meski demikian, timbul pertanyaan ketika Biden tak kunjung menghubungi kawan akrabnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

 

Seperti dikutip dari laman detik.com, Jumat (12/2/2021), munculnya pertanyaan banyak pihak itu pun langsunng direspons oleh Biden. Dalam pengakuannya, dia mengaku tidak terburu-buru untuk menghubungi pemimpin Israel itu. Hal ini tentu berbeda dengan yang dilakukan pendahulunya, Donald Trump.

 

Melihat tindakan Biden tersebut, membuat beberapa pengamat menilai hal itu sebagai sinyal awal. Dimana, artinya bahwa AS tidak akan lagi memberikan kekuasaan penuh kepada sekutunya itu.

 

Terhitung setelah tiga minggu dilantik sebagai presiden, Biden belum juga menelepon Netanyahu. Meskipun dia sendiri telah berbicara dengannya setelah pemilihan presiden tahun lalu. Dan keduanya bahkan memiliki hubungan yang sangat ramah selama bertahun-tahun.

 

Sementara itu, dalam pidato pertama tentang kebijakan-kebijakannya, Biden bahkan tidak menyebut Israel sama sekali. Yakni ketika dia berbicara tentang upayanya untuk memperkuat aliansi AS.

 

Sontak saja, pesan tersirat itu direspons oleh ketua sayap global Partai Likud pimpinan Netanyahu, Danny Danon. Melalui akun Twitternya, ia membuat daftar percakapan telepon Biden dengan para pemimpin dunia dan menanyakan, “Mungkinkah sekarang saatnya untuk menelepon pemimpin Israel, sekutu terdekat dari AS?”. Bahkan, Danon juga memposting nomor telepon kantor Netanyahu.

 

Di pihak lain, para pengamat Timur Tengah mengatakan Biden kemungkinan sedang menimbang perlu tidaknya dia melibatkan Netanyahu sebelum pemilihan umum Israel pada 23 Maret mendatang. Yang mana, kemungkinan akan mengakhiri jabatan perdana menteri terlama Israel itu. Sementara Netanyahu sendiri, kini juga diketahui sedang menghadapi persidangan atas kasus korupsi.

 

Hal ini jauh berbeda dengn Trump yang basis Kristen evangelisnya sangat pro-Israel. Dimana, dia memenuhi sejumlah daftar keinginan Netanyahu termasuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bahkan, ia juga turut mendukung permukiman di wilayah pendudukan dan membagikan insentif AS kepada negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

 

Akan tetapi, pemerintahan Biden telah mengatakan akan melanjutkan hubungan dengan Palestina dan memulai kembali pemberian dana bantuan untuk badan pengungsi Palestina. Diungkapkan oleh presiden J Street sebuah kelompok advokasi AS pro-Israel yang progresif, Jeremy Ben Ami mengatakan bahwa pemerintahan Biden harus mengubah lebih banyak kebijakan Trump. Termasuk temuan mantan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo bahwa permukiman di tanah Palestina adalah legal.

 

“Di bawah pemerintahan Trump, mereka mendapat lampu hijau untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan di Tepi Barat dan mengejar aneksasi. Kami berharap ‘lampu merah menyala’ segera,” kata Ben Ami.

 

Selain itu, Ben Ami juga meminta agar pemerintahan Biden lebih agresif dalam memberlakukan konsekuensi. Yakni jika Israel melanjutkan pembangunan permukiman di Palestina, termasuk memanfaatkan US$ 3 miliar dana bantuan tahunan AS.