Begini Kisah Mahasiswa Indonesia yang Turut Merasakan Gempa di Jepang

Ilustrasi Foto : AP

 

Bencana gempa bumi baru-baru ini kembali melanda Negeri Sakura, Jepang. Badan Meteorologi Jepang mengatakan bahwa pusat gempa berada di lepas pantai prefektur Fukushima pada kedalaman 60 km (36 mil).

 

Dikutip dari laman detik.com, Senin (15/2/2021), bencana gempa mengguncang gedung-gedung untuk beberapa waktu saat gempa melanda sekitar pukul 11.08 waktu setempat (1408 GMT/ 21.08 WIB).Bahkan, gempa ini cukup terasa sampai ke kota tetangga. Yakni seperti di Okinawa, pulau di selatan Jepang.

 

Pada hari Jumat (13/2/2021) cuaca panas dan cerah banget. Tapi begitu hari Sabtu, mulai pagi cuaca aneh seharian,” cerita mahasiswa S2 Indonesia, Ulung Jantama Wisha yang kuliah di University OF Ryukyu di Okinawa.

 

Dalam penuturannya, Ulung bercerita bahwa dirinya baru tinggal di Jepang selama 6 bulan. Adapun dari cerita senior-seniornya, bulan Februari Jepang sudah memasuki musim semi.

 

Iya kalau spring semua cerah. Terus musim bunga sakura bermekaran. Tetapi, pada Sabtu kemarin enggak. Bahkan, aku aja sampai tanya ke temen-temen apakah sering kaya gini cuacanya,” ungkapnya.

 

Bahkan, cuaca aneh tersebut tidak hanya dirasakan oleh Ulung. Namun, semua mahasiswa Indonesia yang tinggal di Okinawa juga terheran-heran dengan cuaca tersebut.

 

“Jadi, mulai Sabtu subuh itu udara dingin, padahal harusnya panas. Dan terus anginnya kenceng banget sampai enggak berani buka pintu,” lanjutnya.

 

Diakui Ulung bahwa selama satu hari tersebut angin dirasa begitu kencang. Apalagi, jendela dan pintu berderak saking kerasnya tiupan angin.

 

Ketika aku ngambil handuk di jemuran depan aja enggak berani. Dan untungnya handuk aku jepit jadi enggak terbang. Tetapi aku handukan pakai baju bekas,” katanya.

 

Tak berselang lama, notifikasi di smartphone Ulung terus berdering. Dimana, berbagai macam info dibagikan di grup Perhimpunan Pelajar Indonesia.

 

Dan pas jam berapa itu ada berita tsunami kecil di Okinawa. Namun, rupanya bukan tsunami, tetapi gelombang besar karena angin,” jelasnya.

 

Diketahui, Okinawa sendiri memang langganan badai tyhpon. Sehingga, hal itu sudah dianggap biasa bagi warganya dengan adanya badai dan kencangnya angin di musim tertentu. Akan tetapi, tidak dengan bulan Februari.

 

Dan makin malam justru makin serem. Ya, entah angin atau gempa tapi jendela dan pintu bunyi dan goyang gitu karena kan dari kaca. Pokoknya ya mencekam banget,” tambahnya.

 

Di sisi lain, Ulung pun berselancar di media sosial untuk mengetahui bencana yang terjadi di Jepang. Dan ternyata, gempa berkekuatan magnitudo 7,3 M terjadi di Fukushima.

 

Kalau di Jepang itu sistem mitigasinya sudah bagus banget. Ya kalau ada bencana pasti akan dapat SMS dari pemerintah. Bahkan, aku sendiri sama teman-teman di Okinawa enggak dapat. Dikarenakan, itu kan terjadinya di mainland. Sementara kami jauh dan masih aman. Hari ini cuaca agak mendung karena habis hujan. Namun, yang pasti aku sendiri ngerasa aman di sini dibandingkan di Indonesia. Ya karena sistem mitigasinya memang sebagus itu,” tutupnya.