Terkait Demokrasi Saat Donald Trump Kembali Lolos Pemakzulan, Joe Biden Beri Sindiran Keras

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Foto: AFP

Terhitung sudah dua kali ini Donald Trump kembali selamat dari pemakzulan. Menanggapi hal tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden pun tak segan untuk melempar sindiran keras.

Seperti dilansir dari laman AFP, Senin (15/2/2021), Trump sebelumnya diketahui lolos dari pemakzulan. Yakni usai senat Amerika Serikat memutuskan untuk membebaskannya atas tuduhan penghasutan dan pemberontakan terkait kerusuhan di Capitol AS. Bahkan, sebanyak 57 senat sepakat memakzulkan Trump sedangkan 43 lainnya menolak.

Adapun sidangpemakzulan Trump sendiri, selesai setelah berlangsung selama 5 hari. Namun, Trump lolos lantaran dibutuhkan 2/3 atau 67 senat yang setuju akan pemakzulan.

Tentu saja, hal ini menjadi catatan sejarah lantaran Trump menjadi Presiden AS pertama yang dimakzulkan DPR AS untuk kedua kalinya dan lolos. Bahkan, sedari awal Trump mengaku tidak khawatir dengan Amandemen ke-25 yang memungkinkan kabinetnya mencopotnya dari jabatan.

Trump bahkan mengaku tak khawatir ketika DPR AS yang dipimpin Partai Demokrat mengupayakan resolusi untuk mendesak Wakil Presiden Mike Pence menerapkan Amandemen ke-25 tersebut.

“Amandemen ke-25 tidak berisiko bagi saya,” kata Trump.

Adapun hal itu disampaikan saat Trump berbicara di depan bagian tembok perbatasan Meksiko di Texas. Yakni simbol kebijakan imigrasi ketat yang dia lakukan selama empat tahun jabatannya.

Dikatakan oleh Trump, bahwa penggunaan Amandemen ke-25 dengan cara ini “akan kembali menghantui Joe Bidendan pemerintahan Biden. Bahkan, hal itu seperti ada disebut, “berhati-hatilah dengan apa yang Anda inginkan”.

Sementara itu, Biden tampak kecewa dengan lolosnya Trump dari pemakzulan tersebut. Bahkan, dia menyebut hal ini sebagai babak menyedihkan dalam sejarah demokrasi AS.

Tentu saja, ini adalah babak menyedihkan dalam sejarah kita, mengingatkan bahwa demokrasi itu rapuh,” kata Biden beberapa jam setelah Senat gagal mengumpulkan dua pertiga mayoritas yang diperlukan untuk menghukum Trump.

Sementara itu, Biden mencatat bahwa 57 senator. Termasuk tujuh dari partai Republik yang memilih untuk menyatakan Trump bersalah dalam sidang. Akan tetapi, hal tersebut tidak mencukupi untuk menjatuhkan hukuman bagi Trump.

Dan meskipun pemungutan suara akhir tidak menghasilkan vonis, substansi dakwaan tidak dalam sengketa. Bahkan mereka yang menentang hukuman, seperti Pemimpin Minoritas Senat (Mitch) McConnell, percaya Donald Trump bersalah atas ‘kelalaian yang memalukan’ dan ‘bertanggung jawab secara praktis dan moral untuk memprovokasi’ kekerasan yang terjadi di Capitol,” kata Biden.

Di samping itu, Biden mengatakan bahwa ia sedang memikirkan para korban akibat pengepungan Capitol 6 Januari lalu. Salah satunya seperti petugas Polisi Capitol Brian Sicknick yang meninggal. Dimana, dia merupakan petugas yang dengan berani berjaga dan mereka yang kehilangan nyawa.

Bahkan, Biden juga turut memuji keberanian mereka yang melakukan upaya untuk melindungi integritas demokrasi AS. Termasuk Demokrat dan Republik, pejabat dan hakim pemilu, perwakilan terpilih, dan petugas pemungutan suara.

Adanya babak menyedihkan dalam sejarah kita ini mengingatkan kita bahwa demokrasi itu rapuh. Bahwa itu harus selalu dipertahankan. Bahwa kita harus selalu waspada. Kekerasan dan ekstremisme tidak memiliki tempat di Amerika. Dan bahwa kita masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai orang Amerika, dan terutama sebagai pemimpin, untuk membela kebenaran dan mengalahkan kebohongan, “ujarnya.

Lebih lanjut, presiden dari partai Demokrat itu mengatakan tugasnya adalah mengakhiri “perang tidak beradab dan menyembuhkan jiwa bangsa kita”.