Tuntutan Keluarga Korban Penembakan di Wina Agar Pemerintah Austria Beri Kompensasi

Lokasi Penembakan di Wina. Foto : AP

 

Pemerintah Austria mendapat tuntutan dari keluarga dua korban serangan jihadis di pusat kota Wina agar memberikan kompensasi. Hal ini karena kegagalannya dalam mencegah aksi serangan teror tersebut. diketahui, serangan penembakan yang terjadi pada November 2020 itu dilakukan oleh ISIS.

 

Seperti dilansir dari laman AFP, Rabu (17/2/2021), simpatisan ISIS, Kujtim Fejzulai diketahui telah membunuh empat orang sebelum ditembak mati oleh polisi dalam serangan besar pertama di Austria. Yakni selama beberapa dekade dan yang pertama dituduhkan pada seorang jihadis. Adapun ibu dari salah satu korban yang merupakan pelajar dari Jerman berusia 24 tahun dalam penembakan itu, turut menuntut kompensasi.

 

“Pemerintah Austria tidak melakukan segala daya mereka untuk mencegah serangan semacam itu,” kata pengacara Norbert Wess.

 

Sementara itu, berdasarkan laporan independen yang diperintahkan secara resmi atas kegagalan keamanan menjelang serangan tersebut, baru-baru ini diketahui memperoleh temuan. Dimana, ada beberapa peluang yang terlewatkan untuk bertindak berdasarkan tanda-tanda peringatan serangan teror oleh Fejzulai itu.

 

Sebenarnya, keluarga korban sebelumnya telah ditawari total 5.800 euro ($ 7.025) sebagai kompensasi dan bantuan untuk biaya pemakaman. Akan tetapi, Wess mengatakan jumlah itu bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya pengangkutan jenazah ke Jerman.

 

Adapun dalam naskah gugatan tersebut mengatakan bahwa ibu korban “harus dirawat karena depresi dan minum obat setiap hari”, serta tidak fit untuk bekerja. Selain itu, gugatan tersebut juga menuntut total lebih dari 104.000 euro untuk mencerminkan trauma yang diderita keluarga dan tingginya biaya pemakaman.

 

Bahkan, keluarga tersebut merasa tidak diperlakukan karena ketidakpekaan otoritas Austria setelah serangan itu. terlebih lagi untuk menerima kompensasi, saudara perempuan korban harus “membuktikan, melalui foto dan sarana serupa, bahwa ada ikatan emosional yang erat dengan korban”.

 

Menurut Wess, pihak berwenang mungkin dapat menerapkan pendekatan yang lebih akomodatif. Dia bahkan menyebut keharusan memberikan bukti hubungan itu “sangat membebani saudara perempuan korban”.

 

Hal yang sama juga disampaikan oleh pengacara dari orang tua dari korban lainnya. Dimana, dia mengaku juga mengajukan gugatan menuntut kompensasi. Adapun gugatan menuntut kompensasi itu diajukan dengan alasan yang sama.

 

Tentu kami akan menuntut kompensasi atas kesedihan, keterkejutan dan biaya pemakaman,” kata Mathias Burger.

 

Dikatakan oleh Burger, bahwa ada kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi serangan yang dilakukan Fejzulai. Dia juga mengatakan telah terjadi pengabaian berat dari pihak berwenang.

 

Bahkan, dia mengatakan tuntutan tersebut sebesar 30.000 euro untuk setiap orang tua. Hal itu juga ditambah biaya pemakaman dan kompensasi tambahan untuk ibu korban. Dimana, ibu korban digambarkan mengalami “trauma berat”.

 

“Kami berharap bisa menyelesaikan ini tanpa melalui persidangan,” ujarnya.

 

Kemudian, beberapa korban luka lainnya juga mengajukan gugatan untuk pertanggungjawaban resmi karena gagal mencegah serangan itu. Bahkan, mereka juga menuntut kompensasi yang lebih murah hati.