Gegara Remehkan Virus Covid-19, Presiden Brasil Dianggap Psikopat Oleh Gubernur Sao Paulo

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro. Foto : AFP

 

Dikarenakan terus meremehkan pandemi Covid-19, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro dianggap oleh Gubernur Sao Paulo, Joao Doria sebagai “pemimpin psikopat”. Hal ini lantaran tren penularan di Negara tersebut semakin hari terus meningkat seiring kemunculan varian baru Covid-19.

 

“Kita berada dalam salah satu momen tragis dalam sejarah ketika jutaan orang menanggung konsekuensi mahal karena memiliki pemimpin psikopat yang tidak siap bertanggung jawab atas urusan negara,” kata Doria seperti dikutip dari CNN Indonesia, (24/3/2021).

 

Terhitung hingga sejauh ini, Brasil dikatakan masih menjadi negara dengan kasus dan kematian akibat Covid-19 tertinggi kedua di dunia. Tercatat ada lebih dari 12 juta kasus Covid-19 dan 295 ribu kematian akibat virus Covid-19 yang terjadi di negara Amerika Selatan itu.

 

Di samping itu, Doria mengatakan bahwa banyak kematian akibat Covid-19 yang sebenarnya bisa dicegah. Yakni jika Bolsonaro dapat dengan tegas “bertindak dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya sebagai presiden.”

 

Bahkan, Doria menyebut Bolsonaro telah membuat kesalahan besar. Yakni dengan berselisih dengan dirinya sebagai “Gubernur yang berusaha melindungi penduduk.” Diketahui, Bolsonaro sendiri dianggap menjadi salah satu pemimpin negara yang kerap meremehkan bahaya virus Covid-19 di awal penyebaran.

 

Bahkan, Bolsonaro juga pernah beberapa kali memimpin demonstrasi yang menentang penerapan kebijakan penguncian wilayah (lockdown) yang diterapkan sejumlah negara bagian demi meredam penularan Covid-19.

 

Menurut Bolsonaro, adanya kebijakan lockdown justru akan mematikan perekonomian. Sehingga, dia menganggap Covid-19 sebagai flu biasa yang tak perlu direspons secara berlebihan.

 

Diakui oleh Doria, bahwa dia dan sebagian gubernur lain di Brasil menghadapi tantangan besar selama pandemi berlangsung. Hal ini lantaran kerap kali berseberangan dengan pemerintah pusat dalam menerapkan kebijakan pencegahan pandemi.

 

Doria mengaku bahwa ia harus merestrukturisasi sistem kesehatan “dalam waktu singkat” dan mencari cara mengurangi krisis ekonomi yang melanda negara itu selama pandemi. Adapun dalam wawancara itu, Doria juga menyinggung kapasitas rumah sakit dan ruang ICU yang hampir penuh.

 

Lebih lanjut, Doria mengatakan bahwa seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Sao Paulo telah melipatgandakan jumlah tempat tidur. Hal ini dilakukan demi menampung lebih banyak pasien Covid-19.