Kecaman Keras Turki Terkait Tudingan Macron Soal Intervensi Pemilu Prancis

Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Foto : AP

 

Tudingan Presiden Emmanuel Macron soal Ankara yang disebut-sebut mencampuri pemilihan umum Prancis yang akan berlangsung pada 2022 mendatang, turut dikecam oleh pihak Turki.

 

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (25/3/2021), Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa tudingan Macron “tidak dapat diterima dan bertentangan dengan persahabatan dan aliansi antara kedua negara.”

 

Menurut Ankara, tudingan “berbahaya” Macron itu dinilai dapat mengancam komunitas warga Turki yang berjumlah 800 ribu orang di Prancis. Kemlu Turki menilai bahwa pernyataan Macron itu telah merusak upaya kedua negara untuk memperbaiki hubungan.

 

“Kami pikir pernyataan Macron sangat disayangkan dan tidak konsisten ketika kita tengah mengambil langkah untuk menggantikan ketegangan dengan ketenangan dan persahabatan,” bunyi pernyataan Kemlu Turki.

 

Di samping itu, Turki melontarkan kecaman ini usai Macron memperingatkan Ankara agar tidak mencampuri pesta demokrasi lima tahunan yang akan berlangsung di Prancis pada April 2022.

 

Diketahui, Macron mengatakan bahwa bentuk campur tangan Turki bisa berupa “bermain-main dengan opini publik.” Bahkan, dia juga menuding Ankara memutarbalikkan komentarnya tentang Islam pada Oktober lalu setelah rentetan serangan yang terjadi di Prancis oleh para ekstremis.

 

“Sangat jelas musim gugur lalu ada politik kebohongan. Kebohongan negara, kebohongan yang disebarkan oleh media yang dikendalikan oleh Turki, disebarkan oleh saluran berita besar tertentu yang dikendalikan Qatar,” katanya Macron sambil merujuk pada stasiun televisi Al-Jazeera yang berbasis di Doha, Qatar.

 

Bahkan, Macron juga menekankan bahwa Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan disebut-sebut ingin memperbaiki hubungan dengan Paris. Hal ini yakni usai terguncang akibat konflik di Libya, Suriah, Nagorno-Karabakh, hingga tudingan Ankara atas Islamofobia di Prancis.

 

Meski demikian, Macron mengatakan bahwa hal itu sulit terealisasi jika perilaku Ankara tidak berubah. Sebelumnya, hubungan antara Macron dan Erdogan dinilai memang terus merenggang dan mencapai titik terendah pada tahun lalu. Dimana saat itu, Erdogan menganggap Macron membutuhkan “pemeriksaan mental” karena undang-undang baru Prancis yang melarang Islam radikal.

 

Dan pada Desember lalu, Erdogan juga mengungkapkan harapannya agar Prancis bisa “menyingkirkan” Macron secepat mungkin. Serta menggambarkan Presiden Prancis itu sebagai “masalah” bagi negara Uni Eropa tersebut. Bahkan beberapa bulan sebelumnya, Macron juga mengeluarkan komentar yang mengisyaratkan bahwa rakyat Turki “pantas mendapatkan sesuatu yang lain” selain kebijakan Erdogan.