Menakjubkan, Ilmuwan Ini Bisa Sulap Kulit Durian Jadi Perban Hidrogel Antibakteria

Ilustrasi Foto : Shutterstock

 

Salah satu buah yang memiliki aroma khas dan membuat orang-orang terpukau adalah durian. Namun siapa sangka jika dalam dunia medis, ternyata kulit durian bisa diolah menjadi suatu yang bermanfaat.

 

Seperti dikutip dari laman Channel News Aisa, Jumat (26/3/2021), salah seorang ilmuan Singapura berhasil mengubah kulit buah yang dijuliki King of Fruit itu, menjadi perban hidrogel antibakteria. Diketahui, perban buatan ilmuwan Nanyang Technological University (NTU) itu sengaja dikembangkan sebagai upaya Singapura menuju nol limbah.

 

Menurut keterangan Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan NTU, Profesor William Chen mengatakan bahwa sebanyak 12 juta durian dikonsumsi tiap tahunnya tapi kebanyakan kulitnya dibuang.

 

Dalam hal ini, sekam durian yang terdiri dari sekitar 60 peren dari durian, biasanya juga dibuang dan dibakar. Hal inilah yang umumnya menimbulkan masalah lingkungan.

 

Namun, untuk perban hidrogel sendiri bersifat bidegradable dan tidak beracun. Sehingga, ini menunjukkan bahwa perban ini memiliki jejak lingkungan lebih kecil, ketimbang perban sintetis konvensional yang biasa dipakai.

 

Diungkapkan oleh Prof Chen, bahwa dia dan timnya membuat perban dengan mengekstrasi selulosa berkualitas tinggi dari kulit durian. Kemudian, mereka mengubah sekam menjadi bubuk selulusa melalui pemotongan, pengeringan beku, dan penggilingan bila sebelum menghilangkan kotoran.

 

Dalam pengakuannya, Prof Chen mengaku bahwa penggunaan perban ini menekan biaya yang signifikan dibanding metode tradisional menggunakan enzim. Adapun untuk metode tradisional bisa mengeluarkan biaya sekira 27.000 dolar Singapura atau setara Rp 289 juta per kg. Sementara hidrogel anti-bakteria, dia hanya memakan biaya 120 dolar Singapura atau setara Rp 1,2 juta per kg, untuk mengekstraksi jumlah selulosa yang sama.

 

Usai mengekstrasi selulosa, peneliti akan menggabungkan ekstrak dengan gliserol, produk sampingan limbah dari industri biodesel dan sabun yakni untuk membuat gel lembut. Dalam penelitian ini, gel yang mirip selembarang silikom, dapat dipotong menjadi perban berbagai bentuk dan ukuran.

 

Selain itu, perban buatan Prof Chen juga diklaim bisa berfungsi dalam kondisi cuaca ekstrem sekalipun. Dia menyebut bahwa tambalan hidrogel konvesional yang beredar berbahan dasar sintetis. Hal ini dilakukan agar mereka memiliki sifat antimikroba dengan menggunakan senyawa logam seperti ion perak atau tembaga.

 

Untuk bahan-bahan tersebut bahkan kini menjadi lebih mahal ketimbang buatan Prof Chen yang berasal dari alam. Sehingga, sangat penting untuk menjaga prosesnya tetap sederhana, berbiaya rendah dan ramah lingkungan.