Cerita Pilu Seorang Ayah Kenang Bocah 6 Tahun yang Ditembak Aparat Myanmar

Ilustrasi Foto : AFP

 

Dalam pengakuannya, ayah dari bocah berusia 6 tahun yang tewas ditembak aparat Myanmar, Khin Myo Chit mengaku tak bisa menahan kepiluan ketika harus mengenang kembali momen kala ia harus kehilangan anaknya.

 

Dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (27/3/2021), pria itu masih teringat betul saat kejadian yang terjadi pada hari Selasa. Dimana, dia sedang duduk memangku anaknya ketika aparat tiba-tiba masuk ke rumahnya di Mandalay dalam operasi perburuan mencari orang yang ikut serta dalam demonstrasi anti-kudeta.

 

Dan mereka menembak anak saya ketika dia bersandar di dada saya. Saya lari dan menggendongnya. Saya bahkan tak melihat mereka [aparat] setelah dia tertembak,” ujar pria itu.

 

Pria itu bahkan langsung melarikan Khin ke klinik darurat yang didirikan para dokter dan perawat untuk menangani para demonstran. Namun, dia mengaku tak bisa ke rumah sakit lantaran semua fasilitas sekarang diduduki oleh militer. Sehingga, pria itu tiba di klinik itu pukul 18.00. Akan tetapi, dokter yang menangani putrinya mengatakan bahwa Khin sudah meninggal.

 

“Kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan nyawa dia,” ujar dokter itu seperti ditirukan oleh ayah korban.

 

Diketahui, Khin diyakini sebagai korban termuda dari kekerasan aparat di tengah pergolakan di Myanmar akibat kudeta militer pada Februari lalu. Khin awalnya dilaporkan berusia 7 tahun. Namun, kini keluarga mengonfirmasi bahwa bocah itu masih berumur 6 tahun.

 

Selain menghilangkan nyawa Khin, aparat juga rupanya membawa salah satu putra dari keluarga ini. Bahkan hingga saat ini, keluarga Khin masih belum mengetahui keberadaan anak tersebut.

 

“Dia ditahan oleh militer dan kami tak tahu ia masih hidup atau tidak. Kami belum dapat informasi tentang dia,” ujar salah satu kakak Khin.

 

Saat ini, pihak keluarga hanya dapat mengenang Khin sembari hidup dalam persembunyian. Hal ini lantaran mereka takut akan kejaran aparat setelah pemberitaan tentang adiknya merebak.

 

“Kami tak berani pulang dan masih di tempat persembunyian sampai sekarang. Masih ada tentara dan polisi di rumah kami,” katanya.