Kemerosotan Saham Sepatu Nike dan Adidas Gegara Diboikot China

Ilustrasi Foto : news.nike.com

 

Lantaran merek-merk fashion barat diboikot China, saham produsen sepatu Nike, Adidas, dan beberapa merek lainnya dikabarkan merosot. Diketahui hal ini terjadi lantaran para investor mengaku khawatir untuk menaruh uang mereka ke perusahaan-perusahaan tersebut.

 

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Minggu (28/3/2021), saham Nike diketahui mengalami penurunan lebih dari tiga persen pada Kamis (25/3/2021) waktu setempat di Wall Street. Sementara untuk saham Adidas dilaporkan tenggelam lebih dari enam persen di Frankfurt. Lalu di London, Inggris, saham Burberry juga mengalami melorot lebih dari empat persen. Adapun untuk saham H&M juga terpantau turun dua persen di Swedia.

 

Diketahui, badai politik yang melanda China ini awalnya dipicu oleh postingan di media sosial dari sebuah kelompok. Yakni yang berkaitan dengan Partai Komunis yang berkuasa. Imbas dari postingan tersebut, H&M membuat pernyataan bahwa terjadi kerja paksa pada September 2020 lalu di pabrik mereka di Xinjiang, China.

 

Tak hanya itu, kelompok hak asasi manusia telah berulang kali menuduh Beijing menahan Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainya. Dimana, mereka dipaksa untuk membuat produk yang dapat masuk ke teknologi global dan rantai pasokan ritel.

 

Analis Bernstein Aneesha Sherman mengatakan bahwa ‘badai’ politik China kemungkinan akan berhenti. Dan saham H&M diprediksi akan mengalamai kenaikan sebesar satu persen. Berbeda dengan saham Nike yang bisa meningkat sekitar 1,5 persen.

 

Dalam hal ini, China diketahui menyumbang sekitar lima persen dari penjualan H&M pada 2019. Menurut perkiraan Sherman, angka itu tumbuh sekitar 10 persen pada 2020. Hal ini lantaran ekonomi China sudah pulih lebih cepat dari virus Covid-19.

 

“Dalam tahun seperti ini, bahkan memotong lima persen dari garis atas adalah kesuksesan besar ketika H&M mencoba untuk pulih,” kata Sherman.

 

Bahkan, merek-merek perusahaan fashion ternama lain, seperti Burberry diketahui lebih melesat sahamnya. Hal ini lantaran sifat masyarakat di China yang cenderung lebih konsumtif. Meski demikian, ketegangan Amerika-China masih belum hilang sepeninggalan era Donald Trump.

 

Terlihat setelah Joe Biden menjabat, ketegangan perang dagang kedua negara adidaya tersebut masih terjadi. Hal ini bahkan menciptakan tantangan bagi perusahaan Barat yang beroperasi di pasar China.