Krisis Fasilitas Kesehatan Akibat Covid-19, RS Malaysia Kini Mulai Tolak Pasien

Ilustrasi Foto : Shutterstock.com

Rancah.com – Adanya kasus lonjakan virus Covid-19 di Negeri Jiran, Malaysia berakibat pada semakin menipisnya sumber daya medisnya hingga bangsal kritis terisi dan beberapa pasien ditolak atau menunggu lama.

Dikutip dari laman dream.co.id, Selasa (1/6/2021), lonjakan kasus Covid-19 ini juga mengakibatkan lebih banyak ruang perawatan diubah menjadi bangsal Covid-19. Sehingga, hal ini berdampak pada fasilitas perawatan pasien non-Covid-19 yang semakin sedikit.

Dalam menangani hal tersebut, pihak berwenang mengatakan bahwa negara itu, yang sekarang memiliki lebih banyak kasus per juta orang daripada India. Hal ini belum mencapai tahap di mana petugas kesehatan harus menentukan prioritas dalam memilih pasien untuk perawatan berdasarkan peluang mereka untuk bertahan hidup.

Meski demikian, ada tanda-tanda keluarga pasien non-Covid-19 mulai harus membuat keputusan seperti itu tentang orang yang mereka cintai di tengah krisis.

Bahkan, seorang petugas kesehatan di rumah sakit utama di Kuala Lumpur mengatakan bahwa ada beberapa pasien yang membutuhkan perawatan kritis terpaksa ditolak. Sebab, kondisi ini terjadi lantaran tidak tersedianya tempat tidur.

“Kami mencoba untuk mengakomodasi semua, tetapi kami tidak selalu memiliki ventilator dan tempat tidur,” kata petugas rumah sakit, yang berbicara tanpa menyebut nama.

Tak hanya itu, dia juga turut menceritakan sebuah insiden di mana keluarga pasien non-Covid-19 yang sakit kritis diberitahu untuk memilih antara membawa orang yang mereka cintai pulang sehingga meninggal di rumah. Atau memilih untuk tetap menahan pasien di rumah sakit dengan hasil yang sama.

Mirisnya, keluarga pasien Covid-19 juga menghadapi perjuangan untuk mengamankan tempat tidur perawatan kritis untuk orang yang mereka cintai.

Di sisi lain, seorang profesional yang baru-baru ini kehilangan ayahnya berusia 85 tahun lantaran komplikasi virus Covid-19 juga mengatakan jika saat dia didiagnosis dengan Covid-19, dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam bagi keluarganya untuk mendapatkan tempat tidur di sebuah rumah sakit semi-pemerintah di Selangor. Sebab, tempat tidur penuh di semua rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 dalam kondisi kritis.

“Dokter yang merawat ayah saya menelepon setiap rumah sakit di kota yang masih menyediakan tempat tidur untuknya begitu hasil tes kembali positif. Itu adalah saat yang menegangkan bagi kami karena ayah juga seorang pasien dialisis,” kata pria tersebut.

Sementara itu, negara bagian utara Kedah, yang mengalami lonjakan drastis dalam beberapa pekan terakhir, menyatakan mereka mungkin tidak lagi menerima pasien sakit kronis di unit perawatan intensif (ICU). Tidak diketahui secara pasti mengenai apakah mereka pasien Covid-19 atau bukan.

“Saya merasa berat hati apakah akan mengumumkan hal ini, tetapi saya harus mengatakannya. Dalam kasus tertentu, dokter harus memilih siapa yang akan dikirim ke ICU, dan jika pasien sakit parah dan tidak memiliki harapan, kami tidak memasukkan mereka ke ICU,” kata anggota Dewan Eksekutif Kesehatan Kedah, Mohd Hayati Othman.