Buntut Panjang Menampar Presiden Perancis, Pelaku Dihukum Empat Bulan Penjara

Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Foto : AP

Rancah.com – Lantaran menampar Presiden Perancis, Emmanuel Macron pada Selasa (8/6/2021) lalu, pria bernama Damien Tarel resmi dijatuhi hukuman Pengadilan Perancis empat bulan penjara.

Dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (11/6/2021), hakim dalam pembacaan putusan pada Kamis (10/6/2021) kemarin menyatakan bahwa pihaknya menerima rekomendasi dari jaksa untuk membui Tarel selama 18 bulan. Akan tetapi, menurutnya empat bulan tahanan dinilai sudah cukup.

Sementara itu, Tarel dalam persidangan justru mengaku jika dirinya “bertindak tanpa berpikir” saat menampar Macron. Adapun hal ini dilakukannya usai menunggu lawatan sang presiden di depan sebuah sekolah diTain-l’Hermitage.

Tak hanya itu, Tarel juga mengaku bersimpati dengan gerakan “rompi kuning” di negaranya. Tarel yang diketahui sebagai pengangguran dan mengaku jika hidupnya bergantung pada kekasihnya, justru menganggap Macron tak berbuat apa-apa untuk kesejahteraan.

“Macron melambangkan kemunduran negara ini,” ucap Tarel.

Menurut Tarel, adanya kunjungan Macron pada pekan ini ke daerahnya ini dinilai hanya merupakan cara untuk menarik perhatian warga menjelang pemilihan umum tahun depan. Bahkan saat Macron berjalan ke arah kumpulan warga sambil tersenyum, Tarel tak mampu menahan amarahnya.

“Ketika saya menyadari wajahnya yang ramah, saya menyadari bahwa ia ingin mengubah saya menjadi seseorang yang mau memilihnya,” tutur Tarel.

Dikatakan oleh Tarel bahwa aksi tamparan kepada Macron ini merupakan dampak dari luapan emosinya.

“Saya dibanjiri perasaan tidak adil,” katanya.

Dan setelah mendengar penjelasan Tarel, pengadilan memerintahkan Tarel untuk mencari pekerjaan atau mengikuti program pelatihan. Bahkan, hakim juga melarang Tarel membawa senjata apa pun selama lima tahun ke depan.

Di sisi lain, Macron sendiri justru menganggap bahwa insiden ini tak bisa dianggap wajar. Namun, dia sendiri juga mengaku tak kapok untuk mengunjungi warga.

“Anda akan terbiasa melihat kebencian di media sosial sehingga semuanya sudah menjadi normal. Ketika Anda berhadapan langsung dengan orangnya, Anda merasa biasa saja. Itu tak dapat diterima,” ucap Macron.