Wakil Presiden Taiwan Menjadi Senjata Taiwan dalam Melawan Virus Corona

Chen Chien-Jen, Wakil Presiden Taiwan. Foto : Kompas.com

Sebagai salah satu negara yang disebut sebagai salah satu negara terbaik dalam penanganan wabah virus corona, ternyata ada sosok yang menjadi vital yaitu Wakil Presiden Taiwan, Chen Chien-jen (68). Diketahui Chen merupakan seorang ilmuwan yang memperoleh gelar doktor dalam bidang epidemiologi dan genetika manusia dari John Hopkins University pada tahun 1982.

 

Di balik sosoknya sebagai orang nomor dua di negara Taiwan, dirinya juga terus berupaya untuk melakukan pelacakan infeksi, mengimbau masyarakat di tengah pandemi virus corona, serta mendorong terciptanya vaksin, alat tes dan sebagainya selayaknya pemimpin lain. Sebagai seorang ilmuwan, Chen juga kerap dimintai pendapat dan pandangannya oleh para pejabat kesehatan terkait virus corona yang saat ini menjadi pandemi global dunia. Sosoknya itulah yang menjadikan Chen kini tampil di baris terdepan dalam upaya penanganan krisis akibat wabah virus corona saat ini.

 

Selain berperan ganda sebagai ahli dan sebagai wakil presiden, Chen mengatakan jika sejauh ini hanya ada sebuah fakta yang dapat mendasari dalam mengambil setiap kebijakan di balik banyaknya ahli kesehatan negara yang mendebat terkait soal Covid-19.

 

“Karena pada dasarnya bukti lebih penting dibandingkan dengan bermain politik,” kata Chen, dikutip dari Today, Minggu (10/5/2020).

 

Di akhir jabatannya sebagai Wakil Presiden nanti tanggal 20 Mei, Chen mengaku jika kesempatan ini tidak akan disia-siakannya untuk mencapai keberhasilan Taiwan dalam melawan Covid-19.

 

Dikutip dari laman kompas.com dan berdasarkan data dari Worldometer per Selasa (12/5/2020), sejauh ini total kasus infeksi virus Covid-19 di Taiwan hanya berjumlah 440 kasus dengan angka kematian sebanyak 7 kematian. Hal inilah yang membuatnya menuai banyak pujian dalam menghindarkan infeksi Covid-19 yang parah juga angka kematian yang hebat.

 

Pada tahun 2003 saat terjadinya wabah SARS, Chen pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan yang mendorongnya untuk melakukan reformasi dalam mempersiapkan negaranya dalam menghadapi wabah yang suatu saat nanti bisa saja terjadi. Persiapan itulah yang akhirnya sangat dibutuhkan bagi negara Taiwan saat pandemi virus corona terjadi saat ini. Hal inilah yang nantinya diharapkan oleh Chen agar negaranya dapat berperan utama dalam upaya membantu pemulihan dunia internasional dari serangan virus corona baru ini dan bangkit secara ekonomi.

 

“Taiwan tidak akan tinggal diam jika melihat negara lain berada dalam bahaya besar,” ujarnya.

 

Sosoknya yang dikenal sebagai kutu buku, membuat karir Chen begitu cemerlang karena jauh dari sensasi atau bahkan terlibat dalam pertikaian politis dengan pihak lain. Bahkan mantan mahasiswa Chen, yang merupakan Wakil Perdana Menteri Taiwan menyebut jika sosok Chen dikenal sebagai orang terpelajar yang tidak peduli dengan kekuasaan.

 

“Dia merupakan seorang sarjana yang tidak terlalu peduli dengan permainan kekuasaan. Yang membuatnya populer ya karena dia netral,” nilainya.

 

Saat ini, Chen dipercaya Presiden sebagai wakil Taiwan di dunia global dalam melawan pandemi virus corona Covid-19. Bahkan saat corona muncul di awal-awal Desember lalu, Chen sempat memperingatkan WHO terkait potensi penyebaran virus tersebut, meskipun pada akhirnya WHO mengabaikannya dengan menyangkalnya.

 

Hal ini membuat Chen segera memerintahkan pihak berwenang untuk menyaring kedatangan orang China dan meminta orang-orang bergejala untuk diisolasi. Bahkan pada 21 Januari lalu, dimana kasus pertama terjadi di Taiwan, pemerintah segera mulai memproduksi masker. Selain itu, Chen bahkan setiap hari sekitar jam 7 pagi, pergi ke gereja, tempat banyak misa dibatalkan karena virus.

 

“Saya berdoa agar memiliki keberanian dalam mengubah apa yang nantinya bisa kita ubah. Untuk itu kita juga harus menerima apa yang tidak bisa kita ubah,” katanya.

 

Chen kemudian memanfaatkan moment tersebut dengan mengecam China yang sebelumnya memblokir Taiwan agar tidak ikut bergabung dengan WHO, begitupun sebaliknya, dimana mereka menyerukan negara-negara lain untuk belajar dari bagaimana Taiwan mengendalikan wabah ini. Namun rupanya, keberanian Chen ini menuai kritikan dari para pejabat China yang menyebut Taiwan hanya memanfaatkan momentum untuk memerdekakan diri mengingat negara Taiwan masih dianggap sebagai bagian dari negara China.

 

Chong Ja-lan yang merupakan seorang Profesor Ilmu Politik dari National University of Singapore, menyebut jika sosok Chen memang memiliki kekuatan campuran antara politik dan keahlian teknis. Terlebih, masyarakat Taiwan dikenal sebagai masyarakat yang yakin terhadap ilmu pengetahuan dan begitu menghormati profesionalisme medis.