Akibat Krisis Ekonomi, Libanon Selalu Merasakan pemadaman Listrik Setiap Harinya

Rancah.com – Krisis ekonomi di negara Libanon membuat negara tersebut kini mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk para penduduknya.

Seperti dilansir Middle East Monitor yang dimuat dalam CNN Internasional pada Kamis (30/07/20), ibu kota Beirut dilaporkan sempat gelap gulita selama satu jam pada Rabu kemarin. Hal ini lantaran para pemilik generator yang menyewakan listrik mereka kepada penduduk serentak menghentikan operasional generator yang disewakan.

Penyebabnya adalah mereka protes terhadap tingginya harga bahan bakar diesel di Libanon, akibat krisis ekonomi.

Gangguan pasokan listrik di Libanon sudah terjadi sejak setahun yang lalu. Saat itu perusahaan listrik negara, Electricite du Liban (EDL), hanya mampu memasok listrik selama 21 jam di ibu kota Beirut. Sisanya penduduk mengandalkan para pemiliki generator yang mau menyewakan jasanya.

Bahkan, karena tingginya harga solar, sebagian besar wilayah Libanon di luar Beirut hanya bisa merasakan aliran listrik selama 12 jam per harinya. Akibatnya, pemadaman listrik besar-besaran di Beirut turut memicu kekacauan penduduk setempat. Salah satunya , fasilitas umum yang ada di jalan raya, di mana lampu pengatur lalu lintas jalanan tidak berfungsi dengan baik.

Selain tingginya harga solar, Libanon juga menghadapi masalah lainnya yaitu pasokan bahan bakar untuk pembangkit listrik dari perusahaan Aljazair, Sonatrach, yang tiba pada bulan Mei lalu dilaporkan tercemar atau dioplos sehingga mengakibatkan mesin pembangkit listrik tidak bisa berfungsi secara maksimal.

Hassan Diab selaku Perdana Menteri Libanon, mengklaim persediaan bahan bakar di negaranya cukup hingga enam bulan mendatang. Akan tetapi, dengan kinerja mesin pembangkit listrik yag demikian, sudah dipastikan pengoperasiannya tidak akan semaksimal seperti yang diharapkan.

Menanggapi hal tersebut, para pemilik generator perorangan menuduh pejabat Libanon menjual solar kepada pihak lain untuk menaikkan harga. Kondisi itu diperparah dengan konflik antara milisi Syiah Hizbullah dan Israel di kawasan perbatasan.

Semoga ke depannya masalah krisis ekonomi ini dapat segera terselesaikan dengan baik. Mengingat saat ini semua keadaan di dunia juga sedang prihatin. Saling menguatkan dan bekerja sama adalah salah satu kunci yang saat ini bisa dilakukan.