Daftar Negara Yang Masih Menyimpan Amonium Nitrat Penyebab Ledakan Lebanon

Ledakan Dahsyat di Beirut, Lebanon. Foto : kompas.com

 

Di tengah pandemi Covid-19, ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon yang terjadi minggu lalu telah menyita perhatian dunia. Diduga, peristiwa tersebut terjadi lantaran ribuan ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di pelabuhan. Adanya peristiwa ini pun sempat memunculkan pertanyaan tempat penyimpanan bahan kimia tersebut selain di Beirut.

 

Melansir dari laman BBC, Rabu (12/8/2020), ada setidaknya lima negara lain yang tercatat juga menyimpan amonium nitrat. Di antaranya yakni di India, Yaman, Irak, Australia, dan Inggris.

1.    India

Di 37 peti kemas yang berjarak 700 meter atau setengah mil dari daerah pemukiman, sekitar 20 km di luar Chennai, salah satu kota besar di India, tersimpan sebanyak 740 ton amonium nitrat. Diketahui, amonium nitrat ini telah tersimpan selama lima tahun.

 

Langkah secara hukum telah diambil oleh pihak berwenang di negara bagian selatan Tamil Nadu untuk melawan perusahaan yang menyimpan bahan pembuatan pupuk atau peledak ini. Pada tahun 2015, perusahaan penyimpan amonium nitrat ini melakukan impor dari Korea Selatan, dengan tujuan pertanian. Namun, bea cukai menolak impor tersebut.

 

Perusahaan yang memiliki substansi di bawah lesensi yang tidak valid dan menjualnya ke pihak swasta yang bergerak di bidang pertambangan, diungkapkan melalui investigasi yang dilakukan. Bahkan, sebagian kecil bahan kimia dibuang setelah rusak akibat banjir yang berlangsung pada 2015.

 

Kini, sebanyak 697 ton sisanya telah dilelang dan diangkut ke negara bagian tetangga, yakni Telangana.

 

2.    Yaman

Terkait laporan media yang menyebutkan bahwa lebih dari 100 kontainer amonium nitrat disimpan di pelabuhan selatan Aden, Jaksa Agung di Yaman telah memerintahkan untuk melakukan penyidikan. Bahan kimia tersebut, dikatakan telah diimpor tiga tahun lalu dan disita oleh pasukan pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah yang diakui PBB.

 

“Pasukan yang dikerahkan di pelabuhan bertanggung jawab untuk menyimpan kargo berbahaya ini, termasuk 4.900 ton amonium nitrat yang disimpan di 130 kontainer pengiriman,” kata Gubernur Aden, Tariq Salam.

 

Akan tetapi, perusahaan Pelabuan Aden Teluk Yaman mengelak dan menyampaikan bahwa kontainer tersebut sebenarnya digunakan untuk menyimpan urea organik sebagai pupuk pertanian.

 

“Mereka bukan bahan peledak atau radioaktif, dan tidak dilarang untuk mengelola atau menyimpannya,” ujar perusahaan itu.

 

3.    Irak

Peninjauan secepat mungkin telah diperintahkan pemerintah Irak terhadap bahan berbahaya  di pelabuhan dan bandara. Yang mana, hasilnya menunjukkan bahwa mereka menemukan amonium nitrat telah disimpan di Bandara Internasional Baghdad.

 

“Direktorat Teknik Militer Kementerian Pertahanan Irak dengan aman mengangkut bahan-bahan yang sangat berbahaya dari bagian kargo udara di Bandara Baghdad ke tujuan mereka, gudang Direktorat Teknik Militer,” kata seorang pejabat militer dalam cuitan Twitter pada 9 Agustus 2020.

 

4.    Australia

Diketahui, orang-orang di Newcastle, New South Wales telah meminta timbunan amonium nitrat di gudang yang berjarak 3 km dari pusat kota untuk dipindahkan atau dikurangi, sebelum terjadinya ledakan besar di Beirut, Lebanon.

Namun, Orica salah satu perusahaan yang memasok bahan peledak ke industri pertambangan mengatakan, bahwa bahan peledak tersebut disimpan dengan aman di tempat yang tahan api dan dibangun secara eksklusif dari bahan yang tidak mudah terbakar.

 

Menurut pengawas keselamatan tempat kerja Australia Selatan, SafeWork SA menuturkan, bahwa amonium nitrat disimpan di 170 lokasi yang diatur dan dipantau ketat di seluruh wilayah tersebut.

 

5.    Inggris

Associated British Ports (ABP) melakukan investigasi ke lokasi penyimpanann amonium nitrat di pelabuhan besar di Lincolnshire, Immingham, dan tempat lain di wilayah Humber. Mereka mengatakan, bahwa pelabuhan Inggris harus mengikuti peraturan ketat dan memastikan zat tersebut disimpan dan ditangani dengan aman.

 

Diketahui, sebuah perusahaan yang berbasis di pelabuhan Portsmouth, Portico, telah menarik aplikasi untuk menyimpan amonium nitrat dan mengatakan zat tersebut tidak akan melewati lokasi penyimpanan. Perusahaan bahkan menyampaikan, jika hal ini hanya untuk alasan bisnis meski pengumuman itu datang tak lama setelah ledakan di Beirut. Menurut Ketua Asosiasi Koordinasi Penanganan Kargo Internasional, Richard Brough menuturkan, amonium nitrat diatur karena merupakan zat berbahaya yang terdaftar.

 

“Dengan sendirinya, itu adalah zat yang relatif aman. Tapi yang menjadi masalah adalah saat terkontaminasi misalnya dengan minyak,” ujarnya.