Begini Imbauan Ridwan Kamil Soal Relawan Vaksin Covid-19

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Foto : Dok. Pemprov Jabar


 

Terkait beredarnya kabar mengenai relawan vaksin Covid-19 Sinovac di Bandung yang terpapar positif Covid-19, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku enggan untuk berkomentar lebih jauh. Pasalnya, Emil sapaan akrab Ridwan Kamil ini juga telah menjadi bagian dari pengujian vaksin Covid-19 itu sendiri.

 

“Saya tidak punya kapasitas untuk menceritakan secara teknis karena saya objek dari vaksinasi sendiri. Walaupun saya dengar (kabar seorang relawan positif Covid),” ucapnya dalam jumpa pers di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (15/9/2020).

 

Bahkan, Emil menjadikan temuan relawan yang dikabarkan terkonfirmasi positif Covid-19 sebagai pelajaran juga bagi dirinya.

 

“Jangan banyak bepergian ke zona yang berbahaya karena nanti akan mengganggu proses statistiknya. Itulah kenapa tidak semua yang daftar relawan itu lulus jadi relawan. Bahkan saya dengar masih terbuka kalau masih ada yang mau jadi relawan karena yang mendaftar tidak semuanya memenuhi kualifikasi. Ada yang semangat tapi ada comorbit, ada sakit jantung dan lain-lain,” kata mantan wali kota Bandung tersebut.

 

Seperti diketahui, bahwa dari 450 subjek penelitian uji klinis vaksin virus Covid-19 China di Bandung, salah seorang diberitakan terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Kronologi relawan yang terpapar virus Covid-19 di tengah siklus vaksinasi itu juga turut diungkapkan oleh Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Kusnandi Rusmil.

 

“Perlu kami sampaikan bahwa kronologis pada relawan tersebut, setelah mendapatkan ‘suntikan’ (tidak diketahui vaksin atau plasebo) pertama pada kegiatan penelitian vaksin Covid-19, bepergian ke luar kota,” kata Kusnandi dalam keterangan tertulis.

 

Kusnandi mengatakan, pada kunjungan penyuntikan kedua, relawan secara klinis dinyatakan sehat dan diberikan penyuntikan kedua. Lantaran ada riwayat ke luar kota, relawan yang tak disebutkan identitasnya itu menjalani program pemeriksaan swab nasofaring (swab test) dari Dinas Kesehatan (Dinkes) pada keesokan harinya. Petugas kemudian melakukan pengambilan bahan dari apus hidung dari relawan tersebut. Baru kemudian, dikirimkan ke laboratorium BSL-2 milik Dinkes dengan hasil positif.

 

“Hasil yang positif tersebut harus disampaikan kepada yang bersangkutan,” tutur Kusnandi.

 

Bagi orang dengan hasil apus hidung positif, maka akan dilakukan isolasi mandiri. Selain itu, juga terdapat program pemantauan secara ketat setiap harinya.

 

“Selama sembilan hari pemantauan kondisi relawan dalam keadaan baik,” ujar Kusnandi.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan apus hidung positif, disimpulkan Kusnandi bukan berasal dari tim penelitian. Namun, berdasarkan hasil dari program pemeriksaan swab nasofaring oleh pemerintah dan perlu dilanjutkan dengan pengawasan ketat.

 

Dalam uji klinis ini, terdapat dua kelompok yang mendapat plasebo dan ada yang mendapat vaksin. Dimana, uji klinis ini dilakukan dengan prinsip observer blind/tersamar. Sehingga, tidak diketahui mana yang dapat plasebo dan mana yang dapat vaksin. Oleh karena itu, Kusnandi mengatakan bahwa semua relawan tetap diimbau untuk menerapkan protokol pencegahan yang sudah dianjurkan pemerintah.

 

“Pada yang mendapat vaksin, kekebalan diharapkan paling cepat dua minggu pasca suntikan kedua,” katanya.

 

Lebih lanjut Kusnandi mengatakan, bahwa para relawan uji klinis masih akan dipantau kesehatannya selama enam bulan pasca suntikan terakhir.

 

“Uji klinis ini masih panjang jalannya, agar kita bersama-sama dapat menjaga privasi dari sukarelawan,” katanya.