Kronologi Dugaan Pengeroyokan Putra Bupati Jeneponto ke Mahasiswa

Ilustrasi Pengeroyokan. Foto : dok detikcom

 

Diduga terlibat dalam kasus pengeroyokan tiga mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), putra Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, yakni Isman Triadi dilaporkan ke pihak kepolisian. Diduga, Isman Triadi sebagai otak pengeroyokan terhadap tiga mahasiswa, yakni Herman, Ilham, dan Alam. Adapun laporan polisi tertuang dalam LP bernomor: LP/342/IX/2020/POLDA SULSEL/RESTABES MKS. Sementara saat ini, pihak kepolisian tengah mendalami laporan ini.

 

“Sementara kita tindak lanjuti laporannya. Terlapor anak Bupati Jeneponto,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Agus Khairul seperti dikutip dari laman detik.com, Selasa (15/9/2020).

 

Dalam pengakuan ketiga korban, mereka mengaku merupakan mahasiswa di salah satu universitas swasta di Makassar. Akibat pengeroyokan tersebut, ketiga korban dilaporkan mengalami luka lebam dan bengkak di beberapa bagian tubuhnya. Mulai dari bagian wajah, tangan, dan dada akibat ditendang.

 

“Nanti kita akan periksa para korban, termasuk melakukan visum,” sambung Kompol Agus.

 

Menurut dugaan pengeroyokan tersebut terjadi di parkiran sebuah mal, Jalan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar, pada Kamis (10/9/2020) dini hari. Kronologi kejadian bermula dari tendangan di lift sebuah mal di Jalan Metro Tanjung Bunga, Mariso, Makassar.

 

Korban dan kelompok putra bupati, diungkapkan Kapolsek Mariso, Kompol Ahmad Yulias, sama-sama sempat diamankan pada hari kejadian, Kamis (10/9/2020) dini hari. Dalam pengakuannya, putra Bupati mengaku jika pengeroyokan itu dilakukan lantaran ia berusaha membela seorang rekannya yang ditendang oleh korban.

 

“Karena pengakuannya yang diduga keluarga bupati, katanya ditendang temannya di lift sama yang diduga korban penganiayaan ini,” beber Kompol Ahmad.

 

Dengan adanya insiden tendangan dalam lift tersebut, menjadi awal mula terjadinya dugaan pengeroyokan di area parkiran mal. Hal itulah yang membuat tim Sabhara Polda Sulsel langsung datang ke lokasi dan langsung membawa kelompok korban dan putra Bupati bersama rekan-rekannya ke Polsek Mariso.

 

Diakui Kompol Ahmad, bahwa pihaknya telah meminta korban untuk melakukan visum dan membuat laporan polisi. Diketahui, korban awalnya sempat menolak dan memilih pulang ke rumah, begitu pun dengan putra Bupati bersama rekannya. Namun di hari kemudian, mereka langsung membuat laporan.

 

“Korban ndak mau dibuatkan laporan, nda mau dibuatkan visum. Tahu-tahunya besoknya buat laporan di Polrestabes Makassar,” beber Kompol Ahmad.

 

Atas kasus dugaan pengeroyokan ini, pihak kepolisian masih menyelidiki lebih lanjut.