Begini Respons Ahli Lokal Terkait Cara China Menangani Pandemi Covid-19 Tanpa Vaksin

Ilustrasi Foto : AP


 

Terkait keberhasilan China dalam meredakan pandemi Covid-19, Ahli Biologi Molekuler mengungkapkan, bahwa Negeri Tirai Bambu tersebut melakukan protokol kesehatan secara ketat. Dimana, mereka melakukan 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) mengingat banyak pasien Covid-19 yang sama sekali tak menimbulkan gejala. 

 

“China terapkan 3T dan 3M secara ketat, karena China paham sains biologi dari Covid-19 ini. Kontak dan telusuri itu wajib karena kita tidak bisa berpatokan pada gejala,” kata Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (16/9/2020).

 

Menurut Ahmad, Indonesia jika dilihat dari sisi testing penanganan pandemi Covid-19, dikatakan sudah mulai bagus. Namun, ia mengatakan Indonesia perlu meningkatkan tracing atau penelusuran kontak. Oleh sebab itu, dia turut menyarankan agar dilakukan sebanyak 30 pelacakan kontak untuk setiap 1 pasien Covid-19. Hal ini seperti yang dilakukan oleh New York, Amerika Serikat yang telah memberlakukan 30 penelusuran kontak dari satu kasus Covid-19.

 

“New York kini punya standar 1 kasus akan dicari 30 kontak eratnya,” kata Ahmad.

 

Selain itu, bentuk keseriusan penelusuran kontak dalam menangani pandemi Covid-19 ini juga terlihat telah dilakukan Vietnam. Dimana, pemerintah Vietnam kala itu langsung melakukan penelusuran kontak ke 25 orang usai melaporkan satu kasus Covid-19 yang baru pulang dari Wuhan, China. Adapun pelacakan kontak ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada orang lain yang terjangkit setelah melakukan kontak dengan orang yang telah terjangkit. Baru kemudian, dilakukan treatment bagi para orang yang terjangkit.

 

“Maka perlu keseriusan untuk kenali individu yang terinfeksi dan diikuti dengan tracing. Artinya setiap 1 positif, minimal 30 penelusuran kontak,” kata Ahmad.

 

Sementara itu, Ahli Pandemi & Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengingatkan, bahwa China belum lulus terhadap pandemi Covid-19. Sebab, selama masih adanya negara yang mengalami pandemi Covid-19, maka tidak ada satu pun negara yang aman dari pandemi.

 

Namun, Dicky turut mengakui bahwa China berhasil menekan dan mengendalikan penularan. Dikarenakan, China telah menerapkan respons cepat dan tepat dengan melakukan 3T, protokol kesehatan, hingga lockdown.

 

“Saat jumlah kasus Wuhan meledak, provinsi lainnya itu langsung menutup perbatasan. Kalau Beijing sempat lockdown, provinsi-provinsi  lain yang belum dapat kasus dia langsung melakukan berbagai langkah cepat,” ujar Dicky.

 

Dicky mengatakan, salah satu contoh langkah cepat adalah Nanjing yang langsung melatih 10 ribu petugas atau ahli epidemiolog untuk melakukan tracing hanya dalam waktu 2 minggu setelah kasus Wuhan meledak. Kuantitas pelatihan di Nanjing ini, jelas tidak bisa dibandingkan di Indonesia. Dicky bahkan menyebut, jika jumlah Epidemiolog di Indonesia tak mampu menyaingi Nanjing.

 

“Bayangkan dibandingkan kita, kita aja jangankan untuk satu provinsi, untuk nasional saja masih seribu. Ini di (satu kota) Nanjing saja 10 ribu. Jadi China itu kunci keberhasilannya adalah respons awal yang cepat dan tepat, kemudian dia juga punya SDM yang lebih dari cukup,” tutur Dicky.

 

Mengenai respons awal yang sudah cepat dan tetap itu, dijelaskan Dicky tetap konsisten dijalankan. Sebagian besar masyarakat China juga sudah mengerti dengan strategi pemerintah lantaran telah belajar dari pandemi-pandemi sebelumnya.

 

“Jadi masyarakat sudah yakin dan terbiasa dengan strategi pemerintah menghadapi pandemi.  Jadi sistem surveilans mereka salah satu yang terbaik di dunia. Sebab masyarakat telah belajar saat H1N1, SARS dan beberapa wabah lainnya,” ujar Dicky.