Beredar Petisi Online Copot Menkes Terawan, Ini DPR RI

Rancah.com – Pro Kontra kinerja Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto terus bergulir, hingga sebuah petisi yang telah mendapatkan tanda tangan yang cukup banyak dari Masyarakat Indonesia mendesak agar Presiden Jokowi mengganti Terawan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin mengatakan bahwa keputusan untuk mengganti Menteri itu adalah hak Prerogatif Presiden karena Menteri merupakan pembantu Presiden yang dipilih dan diangkat langsung oleh Presiden Sendiri. Azis mengatakan, jika ada petisi untuk mendesak agar Menteri Kesehatan mundur, itu adalah sah-sah saja.

“Ya itu tergantung pemerintah aja dalam hal ini Presiden. Kan beliau pembantu Presiden. Permintaan petisi apapun itu kan silakan saja,” ujar Azis di kompleks parlemen MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020).

Jika melihat komunikasi kinerja antara DPR RI dengan Menkes Terawan, Azis mengakui semuanya berjalan lancar saja dan tidak ada masalah.

“Kinerja bersama-sama DPR dalam hal komunikasi bagus, lancar, nggak ada masalah. Kemudian nanti masalah-masalah yang apakah itu memenuhi kriteria daripada user, dalam hal ini Bapak Presiden ya, ini berpulang ke Bapak Presiden,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dashco Ahmad menambahkan pendapat yang serupa, bahwa Terawan adalah menjabat sebagai menteri dan itu adalah hak Prerogatif Presiden untuk melakukan pergantian kepada para pembantunya di setiap kementerian.

“Bahwa menteri adalah pembantu daripada presiden untuk melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan bidang masing-masing,” kata Dasco di kompleks MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020).

“Untuk dicopot nggak dicopot itu adalah hak prerogatif Presiden, sesuai dengan penilaian kompetensi di bidang masing-masing,” imbuhnya.

Diketahui, beredar petisi online yang mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto. Jokowi diminta mencopot dan mengganti Terawan dengan ahli kesehatan yang lebih kompeten.

Petisi mendesak agar Terawan diganti itu mencuat 30 September lalu yang awalnya menargetkan 5.000 tanda tangan. Lalu pada Senin (5/10) ini, petisi tersebut sudah mendapatkan lebih dari 6.500 tanda tangan dengan target baru 7.500. Dan tanda tangan terus bertambah.