Polisi Temukan Perencanaan Skenario Kerusuhan 1998 Hingga Penjarahan Toko China

Personel kepolisian berusaha membubarkan pengunjuk rasa menggunakan water canon saat demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Harmoni, Jakarta, Kamis (8/10/2020). Aksi tersebut berakhir ricuh. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp.

Rancah.com –  Polisi ungkap bahwa adanya ajakan dan anjuran dari para anggota KAMI Medan yang memberikan cara dan pola untuk menciptakan kerusuhan dalam aksi Demo tolak UU Cipta Kerja di Medan, Sumatera Utara.

Adanya Skenario kerusuhan 1998 itu diungkapkan langsung oleh Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono.

Tersangka JG dalam WAG group menyampaikan mengenai batu dan bom molotov.

Dia [JG] menyampaikan ‘batu kena satu orang, bom molotov bisa membakar 10 orang dan bensin bisa berjajaran,’ dan sebagainya itu. Kemudian ada juga yang menyampaikan ‘buat skenario seperti 1998. Kemudian penjarahan toko China dan rumah-rumahnya, kemudian preman diikutkan untuk menjarah‘,” kata Argo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

“Ada, sudah kita jadikan barang bukti,” imbuhnya.

Ada beberapa aktivis KAMI Medan yang ditangkap saat kerusuhan demonstrasi penolakan UU tersebut, yakni Khairi Amri selalu ketua KAMI Medan, Juliana (JG), NZ, dan Wahyu Rasari Putri (WRP).

Menurut dia, para pelaku punya peran masing-masing dalam menyebarkan ujaran kebencian dan penghasutan melalui WhatsApp group (WAG). Yakni, pelaku Juliana menghasut untuk aksi balas kepada petugas kepolisian yang mengamankan aksi.

Bahkan, kata Argo, pelaku JG ini menghasut dan memprovokasi masyarakat serta preman untuk melakukan penjarahan terhadap toko China dan rumah-rumahnya.

Sudah kita jadikan barang bukti kata-kata seperti itu, termasuk bom molotov dan pylox,” ujarnya.

Kemudian, Argo menambahkan peran pelaku NZ menyampaikan bahwa Medan cocoknya didaratin. Maksudnya, pemerintah sendiri bakal perang sama China dan ditambahkan pelaku WRP yang bilang wajib bawa bom molotov.

Akibatnya apa ini? Pola hasut dan pola hoax yang digunakan. Ada kelihatan semua peran-peran dari mereka masing-masing. Ada barang bukti handphone, dokumen chatting masing-masing tersangka kita jadikan barang bukti,” tutur Argo.