Kapolri Dan Kapolres Digugat Gegara Pelaku Pemerkosa Anak Masih Bebas Berkeliaran

Ilustrasi Kasus Perkosaan. Foto : kompas.com

 

Kapolri dan Kapolres Sikka digugat korban berinisial EDG dibantu 13 advokat lantaran penanganan kasus pemerkosaan bocah kelas 6 SD di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dianggap tidak jelas. Gugatan ini dilakukan mengingat penanganan kasus yang tak kunjung jelas meski kasus ini telah dilaporkan pada tahun 2016 lalu. Terlebih lagi, korban EDG kini telah duduk di bangku SMA.

 

Dikutip dari laman kompas.com, Jumat (16/10/2020), kasus pemerkosaan ini terjadi pada 23 April 2016. Kala itu, korban EDJ diperkosa oleh seseorang berinisial JLW. Kronologi kejadian bermula saat korban yang awalnya hendak mencari kayu api di kebun orangtuanya, dipanggil oleh JLW. Kemudian, JLW mengiming-imingi uang sebesar Rp 50.000 pada korban, akan tetapi ditolak.

 

“Karena di tempat itu sepi, pelaku dengan cepat mendekati korban lalu menangkapnya. Saat itulah ia melancarkan aksinya. Korban sempat berusaha kabur, tetapi kondisi geografis kebun membuat ia tidak bisa lolos dari kejaran pelaku,” ujar Ketua Tim Advokasi Hukum Kemanusiaan (TAHK), Yohanes.

 

Tak terima dengan perlakuan pelaku, orangtua korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polres Paga pada tahun 2016 silam. Pelaku sebelumnya sempat ditahan selama tiga pekan, namun kemudian ia dibebaskan. Terhitung sejak April 2016 hingga saat ini, pelaku pemerkosa itu dikatakan bebas berkeliaran. Terlebih lagi, tidak ada kepastian hukum dalam kasus ini. Sementara korban telah mengalami penderitaan karena diperkosa.

 

“Dasar pertimbangan melakukan gugatan adalah kepolisian sempat menahan pelaku selama tiga minggu, tetapi kemudian dibebaskan,” ungkap Yohanes.

 

Menurut kuasa hukum korban, Marianus Laka, kasus ini dinilai memang ada kejanggalan. Apalagi korban sendiri dikatakan belum mendapat kepastian hukum.

 

“Kasus ini memicu pertanyaan besar bagi kita semua. Mengapa korban yang sudah menderita secara fisik dan psikis belum mendapatkan kepastian hukum? Maka dengan gugatan ini, biarlah kita saling terbuka,” kata Marianus.

 

Terkait kasus tersebut, sebanyak 13 advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Hukum Kemanusiaan (TAHK) kemudian menggugat Kapolri dan Kapolres Sikka. Dimana, gugatan dalam kasus ini telah dimasukkan ke Pengadilan Negeri Maumere dengan nomor register : 134/Sk/PDT/9/2020/PN.Mme, Senin (21/9/2020).

 

Merespons gugatan tersebut, Kasat Reskrim Polres Sikka, Iptu Wahyu Agha Septyan menuturkan, bahwa kasus pemerkosaan ini sudah ditangani sejak awal dilaporkan. Akan tetapi, mengenai proses sendiri dikatakan masih terkendala oleh petunjuk jaksa yang masih belum lengkap.

 

“Kami sudah gelar kembali kasus ini guna diproses dan mendapat kepastian hukum. Kami sudah alihkan kasus ini dari yang sebelumnya ditangani Polsek Paga ke polres supaya kasus ini lebih cepat tuntas,” ucap Wahyu.