Polri Buka-bukaan Soal Percakapan Para Tersangka di Grup WhatsApp “KAMI Medan”

Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono. Foto : Dok. Divisi Humas Polri

 

Diduga terlibat dalam aksi demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berujung ricuh di Medan, Sumatera Utara, polisi akhirnya menangkap admin serta anggota grup aplikasi WhatsApp bernama “KAMI Medan”. Dalam kurun waktu 9-12 Oktober 2020, ada total empat orang yang ditangkap di Medan. Di antaranya yakni KA, JG, NZ, WRP.

 

Seperti dikutip dari laman kompas.com, Jumat (16/10/2020), KA atau Khairi Amri sendiri merupakan Ketua Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Medan. Diungkapkan oleh Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, bahwa KA sendiri merupakan admin grup tersebut.

 

“Ada foto kantor DPR RI yang dimasukkan di WAG ini, kemudian tulisannya, ‘Dijamin komplit, kantor, sarang maling dan setan’, ada di sana tulisannya,” ucap Argo di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan.

 

Menurut polisi, KA juga menuliskan dalam WAG seperti berikut ini “Mengumpulkan saksi untuk melempari DPR dan melempari polisi”  serta “Kalian jangan takut dan jangan mundur”.

 

Sementara itu, di grup yang sama, tersangka JG juga diduga menuliskan instruksi pembuatan skenario seperti kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998 silam.

 

“Kemudian ada juga (JG) menyampaikannya ‘Buat skenario seperti 98’, kemudian ‘Penjarahan toko China dan rumah-rumahnya’, kemudian ‘Preman diikutkan untuk menjarah’,” kata Argo.

 

Bahkan, polisi menduga jika tersangka JG menulis perihal bom molotov yang menurut polisi berbunyi “Batu kena satu orang, bom molotov bisa kebakar 10 orang dan bensin bisa berjajaran”.

 

Saat aksi di Medan tersebut, aparat pun mengklaim telah menemukan bom molotov. Diduga, bom molotov itu dilempar dan membakar sebuah mobil. Kemudian, polisi mengungkapkan jika tersangka NZ berperan menulis di grup tersebut.

“Dia (NZ) menyampaikan bahwa ‘ Medan cocoknya didaratin. Yakin pemerintah sendiri bakal perang sendiri sama China’,” tuturnya.

 

Sementara itu, tersangka WRP diduga menyampaikan perihal kewajiban membawa bom molotov. Dalam grup tersebut, WRP menuliskan kalimat seperti berikut ini “Besok wajib bawa bom molotov”.  

 

Dari tangan tersangka, polisi kemudian menyita barang bukti berupa telepon genggam, dokumen percakapan serta uang Rp 500.000. Dikumpulkannya uang tersebut melalui grup WhatsApp, diduga digunakan untuk kepentingan logistik saat aksi.

 

Atas tindakannya, keempat tersangka dijerat Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45A ayat 2 UU ITE dan Pasal 160 KUHP. Dengan ancaman hukuman yakni 6 tahun penjara. Kini, para tersangka tengah ditahan di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri. Dalam kasus ini, polisi menegaskan bahwa mereka tidak akan mengabulkan penangguhan penahanan.