Layanan Kesehatan Kritis, Sebanyak 136 Dokter Anggota IDI Meninggal Akibat Virus Covid-19

Ilustrasi Foto : Shutterstock

 

Layanan kesehatan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, disampaikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sedang mengalami masa kritis. Hal ini dikarenakan, jumlah dokter yang meninggal akibat terinfeksi Covid-19 jumlahnya meningkat.

 

“Total 136 dokter wafat akibat Covid-19,” ujar External PR Lead untuk Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI, Elizabeth, seperti dikutip dari laman dream.co.id, Sabtu (17/10/2020).

 

Adapun jumlah tersebut merupakan angka kematian dokter sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret hingga 15 Oktober 2020. Dengan rinciannya, yakni sebanyak 69 orang merupakan dokter umum dengan 4 guru besar dan 67 orang merupakan dokter spesialis.

 

“Untuk rinciannya sendiri, 63 dokter spesialis, 5 guru besar, serta 2 residen yang berasal dari 18 IDI wilayah dan 61 IDI cabang,” ujar Elizabeth.

 

Elizabeth menuturkan, bahwa berdasarkan data per wilayah, para dokter yang meninggal tersebut berasal dari 18 provinsi. Adapun rinciannya, yakni Jawa Timur sebanyak 32 dokter, Sumatera Utara 23 dokter, DKI Jakarta 19 dokter, Jawa Barat 12 dokter, Jawa Tengah 9 dokter, Sulawesi Selatan 6 dokter, Bali 5 dokter, Sumatera Selatan 4 dokter.

 

Kemudian, Kalimantan Selatan sebanyak 4 dokter, Aceh 4 dokter, Kalimantan Timur 3 dokter, Riau 4 dokter, Kepulauan Riau 4 dokter, DI Yogyakarta 2 dokter, Nusa Tenggara Barat 2 dokter, Sulawesi Utara 2 dokter, Banten 2 dokter, dan Papua Barat 1 dokter.

 

Diungkapkan oleh Wakil Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Ari Kusuma Januarto, bahwa kondisi pelayanan kesehatan saat ini sedang mengalami masa kritis. Terlebih lagi, angka terkini yang dicatat IDI terbilang cukup besar.

 

“Ini adalah situasi krisis dalam pelayanan kesehatan saat ini,” kata Ari.

 

Menurut Ari, tingginya data kematian tenaga medis khususnya dokter menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, para tenaga medis seharusnya mendapat jaminan rasa aman ketika bekerja menangani pasien.

 

Meningkatnya angka kematian dokter ini, dinilai Ari berjalan seiring dengan peningkatan kurva kasus positif Covid-19. Untuk menekan kurva tersebut, dia berharap agar masyarakat turut membantu pemerintah dalam masalah ini.

 

Yang perlu diingat, bahwa apabila kurva menurun, maka tenaga medis tentu tidak akan kewalahan mengatasi banyaknya pasien Covid-19. Sehingga, kesehatan para dokter bisa tetap baik dan semakin mampu menangani pasien Covid-19.

 

“Harus ada kerja sama menyeluruh baik dari pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan sehingga para tenaga medis dapat melanjutkan pekerjaan penting mereka tanpa mempertaruhkan nyawa mereka sendiri,” kata Ari.

 

Lebih lanjut Ari menambahkan, tenaga medis sebenarnya bukanlah garda terdepan menghadapi Covid-19. Yang justru menjadi garda terdepan melawan Covid-19 adalah masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini, kuncinya terletak pada penerapan protokol kesehatan. Apabila masyarakat masih abai dalam protokol kesehatan, maka dapat dipastikan pandemi tidak akan berhenti.

 

“Situasi ini tidak akan pernah selesai apabila tidak ada kerja sama penuh dari masyarakat sebagai garda terdepan,” ucapnya.