BPOM Resmi Cabut Izin Edar Penggunaan Obat Klorokuin dan Hidrosiklorokuin Sebagai Terapi Covid-19

Foto: ledroit.com

Rancah.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI secara resmi mencabut persetujuan penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) obat yang mengandung Chloroquine Phosphate dan Hydroxychloroquine Sulfate sebagai terapi Covid-19.

“Benar. Kedua obat tersebut dicabut EUA-nya (untuk pengobatan COVID-19) dengan pertimbangan karena risikonya lebih besar dari manfaatnya,” kata Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat dan Makanan, Dra Togi Junice Hutadjulu Apt, MHA, pada Selasa (17/11/2020).

Togi menjelaskan, bahwa pencabutan EUA dan izin edar kedua obat ini sudah melalui berbagai tahap pengkajian. Bahkan, data yang diperoleh untuk pengkajian ini didapatkan langsung dari rumah sakit.

“Pencabutan EUA obat ini sudah melalui proses pengumpulan data langsung dari rumah sakit (farmakovigilans aktif), pengkajian secara statistik dan pembahasan berulang kali dengan tim ahli, perwakilan Organisasi Profesi dan pemanggilan Industri farmasi,” jelasnya.

Perkembangan terkini studi klinik di dunia untuk pengobatan Covid-19, dan hasil pemantauan Badan POM bersama Tim Ahli, yang kemudian dibahas bersama lima Organisasi Profesi Kesehatan (PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI) terkait aspek keamanan hidroksiklorokuin dan klorokuin.

“Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan hidroksiklorokuin dan klorokuin pada pengobatan COVID-19 memiliki risiko yang lebih besar daripada manfaatnya,” tulis laman BPOM, dikutip dari laman viva.co.id.

Sebelumnya, United States Food and Drug Administration (US-FDA) telah mencabut EUA untuk klorokuin dan hidroksiklorokuin. Disusul oleh World Health Organization (WHO) yang menghentikan uji klinik (Solidarity Trial) hidroksiklorokuin karena dinilai memiliki risiko lebih besar daripada manfaatnya.

Dengan demikian, obat yang mengandung hidroksiklorokuin dan klorokuin tidak dapat digunakan lagi sebagai pengobatan Covid-19 di Indonesia. Akan tetapi, izin edar obat yang mengandung hidroksiklorokuin dengan indikasi selain pengobatan Covid-19 masih tetap berlaku.

Obat yang mengandung hidrosiklorokuin dan klorokuin diketahui masih dapat digunakan untuk pengobatan yang sesuai dengan indikasi yang disetujui pada izin edarnya. Sedangkan untuk obat yang mengandung klorokuin dicabut izin edarnya karena tidak digunakan untuk indikasi lain.