Respons Ahli Biologi Molekuler Terkait Uji Vaksin Covid-19 Sinovac Fase 2 Yang Baru Keluar

Ilustrasi Vaksin Covid-19. Foto : AP

 

Publikasi uji klinis sebuah kandidat vaksin Covid-19, diungkapkan oleh ahli biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo membutuhkan waktu yang berbeda. Adapun pernyataan tersebut, disampaikan Ahmad dalam merespon publikasi hasil uji klinis Fase 1 dan 2 vaksin CoronaVac buatan Sinovac China yang baru diterbitkan setelah beberapa bulan selesai dilakukan.

 

“Publikasi memang perlu waktu, nampaknya ilmuwan yang melakukan peer review terhadap hasil uji klinis Sinovac membutuhkan data yang lebih detil,” ujar Ahmad.

 

Dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (21/11/2020), Ahmad menuturkan bahwa Sinovac diduga membutuhkan data yang lebih detil terkait jumlah antibodi yang terbentuk pada relawan dan juga kualitas dari antibodi tersebut. Menurutnya, hal tersebut penting untuk mengetahui apakah kandidat vaksin memiliki kemampuan untuk memblok infeksi virus ketika diuji di laboratorium.

Apabila dilihat dari perbandingan artikel pre print dan artikel final, Ahmad melihat jumlah antibodi yang terbentuk kesannya tidak sebanyak antibodi yang terbentuk pada relawan vaksin Pfizer maupun Moderna.

 

Selain itu, ia juga turut menyampaikan soal lambatnya publikasi hasil uji klinisi vaksin Sinovac terkait dengan jumlah relawan yang menerima vaksin dalam uji tersebut. Dimana, ia membeberkan jumlah relawan uji klinis vaksin Sinovac hanya berjumlah 2.500 orang.

 

Berbeda dengan Pfizer dan Moderna dengan jumlah relawan mencapai lebih dari 30 ribu orang. Bahkan, lokasi uji klinis Pfizer dan Moderna di Amerika Serikat sendiri juga menjadi faktor publikasi sehingga menjadi lebih cepat.

 

“Artinya secara statistik menemukan kasus Covid-19 pada pool relawan yang banyak tentu lebih mudah apalagi di Amerika Covid-19 sedang menggila. Maka Pfizer dan Moderna ‘beruntung’ melakukan uji klinis di wilayah yang lagi zona merah,” ujarnya.

 

Ahmad bahkan juga menyinggung soal kepatuhan warga Indonesia yang menjadi lokasi uji klinis vaksin Sinovac. Menurutnya, relawan Indonesia diniali lebih patuh protokol kesehatan dibandingkan dengan warga AS.

 

“Jadi kemungkinannya sulit menemukan 150 kasus Covid-19. 150 adalah jumlah minimal untuk menganalisa data sementara efektivitas vaksin. Di mana akan dilihat dari 150 kasus Covid-19, berapa banyak pada grup plasebo versus grup vaksin,” ujar Ahmad.

 

Diungkapkan oleh Ahmad, bahwa efektivitas vaksin Pfizer yang naik menjadi 95 persen, dari semula 90 persen dan Moderna 94,5 persen bukan menjadi patokan bahwa kedua vaksin itu benar-benar efektif. Dikarenakan, persentase itu dinilai masih berasal dari laporan sementara.

 

“Persentase itu baru data efektifitas sementara yang bisa dipertimbangkan bagi regulator untuk mengeluarkan izin EUA. Tapi setelah data final keluar akan dievaluasi lagi,” ujarnya.

 

Lebih lanjut Ahmad mengaku enggan berkomentar jika vaksin Sinovac tidak memiliki persentase efektivitas yang tinggi seperti vaksin Pfizer atau Moderna. Akan tetapi, dia mengingatkan uji klinis sebuah vaksin Covid-19 saat ini didesain untuk mencegah terjadinya sakit, bukan untuk mencegah penularan.

 

Sebagai informasi, kandidat vaksin Covid-19 buatan perusahaan China, Sinovac Biotech, yang sedang diuji di Indonesia, dilaporkan aman dan memicu respons imun dalam uji klinis Fase 1 dan 2.

 

Bahkan, Sinovac menyebut vaksin CoronaVac buatannya dapat ditoleransi dengan baik pada semua dosis yang diuji. Ini berdasarkan dari hasil pengujian yang diterbitkan di jurnal The Lancent dan sudah diulas oleh rekan sejawat. Adapun vaksin Coronavac sendiri kini tengah melakukan uji tahap 3 di sejumlah negara termasuk Indonesia.