Pengakuan Keluarga Korban Pembunuh di Rumah Kontrakan Depok

Penemuan Mayat di Rumah Kontrakan Depok. Foto : Istimewa

 

Terkait pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pemuda pedagang bakso berinisial J terhadap D pada pekan lalu, turut diungkapkan oleh adik kandung korban S bernama Reni. Fakta lain terungkap, bahwa D merupakan kakak tiri J. Dimana, dalam kasus tersebut, D dihajar sampai tewas oleh J menggunakan tabung gas elpiji di rumah kontrakan mereka berdua di Sawangan, Depok. Mirisnya, J menguburkan mayat D di bawah lantai rumah kontrakan.

 

“Kalau ini enggak ketahuan, abang saya enggak bakalan ketemu,” ujar Reni seperti dikutip dari laman kompas.com, Sabtu (21/11/2020).

 

Usai kejadian tersebut, J memilih untuk pulang ke kampungnya di Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor. Pada Rabu (18/11/2020) lalu, sang pemilik kontrakan bernama Sukiswo (60) berniat mengecek toilet rumah itu. Namun, dia menemukan ubin yang berbeda warna. Lantaran curiga, Sukiswo membongkar ubin itu dan menggalinya lebih dalam karena mencium bau bangkai. Dan rupanya, dia menemukan jasad D yang dikubur di bawah rumah itu.

 

Penemuan mayat tersebut, sontak membuat geger warga setempat. Polisi bahkan langsung memburu J ke Gunung Pongkor setelah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Dan tak berselang lama, J ditangkap polisi di kampungnya. Dia akhirnya mengaku bahwa ialah yang membunuh D. Bahkan, ia juga pernah membunuh S dengan modus sejenis pada Agustus silam.

 

Menurut informasi yang dihimpun, korban S merupakan abang Reni yang sudah 3,5 bulan hilang kontak. Reni mengatakan, bahwa keberadaan kakaknya tak diketahui sejak pamit mau menyambangi J di Gunung Pongkor. Namun, dengan adanya temuan mayat D di Sawangan akhirnya membuat pencarian Reni selama ini tuntas. Oleh J, jasad S diketahui telah dipendam di halaman rumah kosong dekat kediamannya di Gunung Pongkor sejak Agustus silam.

 

“Kalau ini (pembunuhan D) enggak ketahuan, kakak saya juga enggak ketahuan karena dikuburnya rata. Enggak akan ketahuan siapa pun. Orangnya (J) sudah terlatih, sudah berencana,” ungkap Reni.

 

Kejadian ini sontak membuat Reni tak habis pikir dengan ulah J. Pasalnya, beberapa bulan lalu ia sempat menyambangi kediaman J di Gunung Pongkor untuk mencari keberadaan S, abangnya. Menurut Reni, S selama ini amat dekat dengan J. Bahkan, mereka berdua sudah seperti kakak beradik.

 

“Dicariin kerjaan, dikasih duit, apa yang dia (J) mau, diturutin, sampai warung dijual setengah,” kenang Reni.

 

Diungkapkan oleh Reni, bahwa saat mampir ke rumah J di Gunung Pongkor, ia sama sekali tak menaruh curiga apa pun. Bahkan, J sempat menemaninya mencari S menggunakan sepeda motor. Sementara pada waktu itu, S rupanya sudah tewas dibunuh dan mayatnya telah dipendam.

 

“Si J ikut mencari. Selalu ikut cari, seperti orang enggak bersalah. Datar saja,” ujar Reni.

 

Dengan kejadian yang menimpa kakaknya, Reni berharap agar J memperoleh karma setimpal. Bahkan, ia ingin agar J dihukum seberat-beratnya.

 

“Hukum seberat-beratnya. Kalau bisa, hukum mati. Kan dia bisa matiin abang saya, abang sendiri, hukum mati lah,” ungkap Reni.

 

Dan apabila nantinya pengadilan tak menjatuhkan vonis mati kepada J, Reni berharap agar J yang kini meringkuk di sel tahanan Polres Metro Depok itu dipenjara seumur hidup. Sebab, Reni menilai bahwa J merupakan pemuda yang berbahaya.

 

“Penjara saja seumur hidup. Karena, kalau dia keluar, dia itu psikopat. Dia bisa bunuh keluarga,” ucapnya.

 

Di sisi lain, J hanya bisa melontarkan kata-kata bernada penyesalan. Dia hanya bisa berujar kata maaf, maaf, dan maaf ketika digelandang polisi.

 

“Saya meminta maaf kepada keluarga korban. Selama ini saya sudah berbohong selama ini. Saya sudah menutupinya. Saya hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada semuanya,” kata J.

 

Tak hanya itu, J bahkan mengucapkan maaf kepada calon istrinya yang menurut rencana, akan ia nikahi 4 bulan mendatang. Hal itulah yang rupanya membuat J membunuh D, abang tirinya, pada pekan lalu. Dalam pengakuannya, J mengaku bahwa D tak suka jika adik tirinya itu menikah duluan. Itulah yang membuat D kerap naik pitam. Lantaran J yang tak tahan dengan sikap D, akhirnya ia nekat menghabisi nyawa abangnya itu saat tengah tertidur.

 

Berbeda dengan kasus pembunuhan terhadap S. Motif pelaku dilakukan karena J menganggap S yang sebelumnya mengajak berbuat asusila. J menyebut, bahwa ia bersedia menerima segala konsekuensi hukum akibat kekejiannya.

 

“Kepada nama daerah Bogor, kepada nama kampung saya, terutama kepada keluarga, saya sudah mengecewakan semua, saya meminta maaf sebesar-besarnya. Saya merasa terbebani karena saya telah melakukan kesalahan yang besar dan saya sudah berbohong kepada semua orang. Saya sangat menyesal dengan semua ini,” ungkap J.

 

Atas tindakannya, J dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dengan ancaman hukuman yang diterima J, yakni hukuman maksimal pidana mati.