Begini Jawaban Tegas Petahana Medan Saat Hadapi Kritik Keras Menantu Presiden Jokowi

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan 2, Bobby Nasution-Aulia Rahman. Foto : ANTARA

 

Debat putaran kedua Pilkada Medan yang berlangsung di Hotel Mercure Medan, pada Sabtu (21/11/2020) malam, membuat pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan nomor urut dua, Bobby Nasution dan Aulia Rahman semakin gencar mengkritik sejumlah permasalahan yang terjadi. Bobby yang tak lain adalah menantu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), bahkan mulai mengkritik soal jalan berlubang hingga kasus korupsi.

 

“Sudah menjadi tugas utama pemerintah dalam memberi jaminan pelayanan ke masyarakat untuk bisa baik, tepat dan cepat. Apalagi pelayanan di Kota Medan ini bisa kita bilang buruk. Dan diperparah lagi dengan indeks persepsi korupsi dari 12 kota besar di Indonesia, Kota Medan menjadi kota terendah. Banjir juga tak pernah usai, jalan berlubang sampah dimana- mana, korupsi tidak pernah selesai,” kata Bobby seperti dikutip dari CNN Indonesia, Minggu (22/11/2020).

 

Bahkan, Bobby juga melontarkan sejumlah pertanyaan yang menyudutkan paslon petahana, Akhyar Nasution yang berpasangan dengan kader PKS Salman Alfarisi dalam debat tersebut.

 

“Bagaimana ada di Kecamatan Medan Baru sampai ada korban meninggal dan bunuh diri. Karena bantuan sosial tidak dirasakannya selama pandemi Covid. Apa yang sudah dilakukan Udak Akhyar selaku Plt Wali Kota Medan yang juga Ketua Gugus Tugas Medan,” ujarnya.

 

Mendapat pertanyaan dari rivalnya tersebut, membuat Calon Wali Kota Medan nomor urut 01, Akhyar Nasution langsung menjawab dengan lantang dan tegas. Diakui Akhyar bahwa kasus bunuh diri itu bukanlah disebabkan korban tidak mendapat bantuan selama pandemi Covid-19.

 

“Mengenai yang bunuh diri di Padang Bulan itu saya hadir ke sana. Dan sudah saya cek itu merupakan persoalan keluarga. Real saya di lapangan, saya bukan mendengar berita, tapi saya langsung di lapangan. Itu dia jawaban saya, jadi bukan kata orang, tapi saya langsung ke lapangan. Saya bertanggung jawab terhadap masalah ini,” sebutnya.

 

Tak cukup sampai disitu, Bobby juga menyebutkan tidak adanya transparansi di Kota Medan. Dia bahkan sempat mengatakan bahwa Kota Medan mendapatkan anggaran Rp 30 triliun. Menurutnya, setiap tahun seharusnya ada progres dari pembangunan di Medan.

 

Dengan nada tinggi, Akhyar lantas menanggapi pernyataan itu. Dimana, ia turut mempertanyakan dari mana Bobby bisa mendapat data mengenai hal itu. Terlebih lagi, pada tahun 2016 realisasi APBD Medan hanya sebesar Rp 4,3 triliun, tahun 2017 realisasi Rp 4,4 triliun, tahun 2018 sekitar Rp 4,5 triliun, dan tahun 2019 sekitar Rp 5,05 triliun.

 

“Jadi ini masih empat tahun anggaran. Totaliiin, itu hanya Rp 18 triliun. Jadi, untuk Bapak Ibu sekalian, kota Medan transparansi anggaran ada. Silakan tinggal buka website Pemko Medan semua ada. Sudah seharusnya data yang tidak benar harus diperbaiki. Maka dari itu, kita jadi pemimpin di Medan harus mampu menyampaikan data yang benar. Jangan hanya berdasarkan asumsi dan perkiraan,” ucap Akhyar emosi.

 

Ketika Bobby Nasution dan Aulia Rachman mempertanyakan mengenai honor paramedis di RSUD dr Pirngadi Medan yang masih tertunda dan dokter-dokter di rumah sakit itu keluar, sontak hal itu langsung membuat emosi Akhyar. Namun, dia pun lantas menjawab pertanyaan itu.

 

Aulia menyebut, kondisi tersebut berdampak buruk terhadap pendapatan Pemko Medan. Sementara mengenai honor paramedis yang tertunda, Akhyar menyebut jika hal itu disebabkan karena BPJS Kesehatan yang berbelit-belit membayar klaim dari seluruh rumah sakit yang ada di Medan.

 

“Memang benar terjadi honor tertunda. Karena pembayaran honor tertunda sekian lama. Pendapatan Pirngadi adalah BPJS. Kita minta BPJS jangan berbelit untuk membayar klaim dari seluruh rumah sakit. Kita minta badan layanan umum di Medan ini dilayani baik oleh BPJS” bebernya.