Respons Polisi Terkait Aksi Serda Lili yang Menangis Minta Keadilan Lantaran Tangan Anaknya Putus

Serda Lili Muhammad Yusuf Ginting dan Anaknya, Teguh Syahputra Ginting (20). Foto : Screenshot Video

 

Terkait laporan pengaduan Teguh Syahputra Ginting (20) yang merupakan korban kecelakaan kerja yang mengakibatkan tangan kirinya terputus, diungkapkan oleh Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Edi Sukamto, bahwa proses hukum tetap berjalan sesuai dengan SOP

 

Sementara itu, Edi enggan memberikan penjelasan rinci mengenai ayah Teguh, Serda Lili Muhammad Yusuf Ginting yang menangis meminta keadilan dan titik terang atas laporan tersebut. Dia menyebut, bahwa saat itu anggota TNI yang bertugas di Rindam I/Bukit Barisan itu mengadu kepada pimpinan TNI.

 

“Ya, dia nangis mintanya ke siapa? Iya tanyalah (konfirmasi) ke beliau, jangan sama saya. Kalau (Polisi) ya sesuai dengan prosedur saja,” ujar Edi seperti dikutip dari laman kompas.com, Rabu (13/1/2021).

 

Meski begitu, Edi mengatakan bahwa pihaknya telah menetapkan dua orang tersangka atas kasus tersebut. Adapun penetapan tersangka tersebut dilakukan pada pertengahan Desember 2020. Dengan kedua tersangka, yakni karyawan PT Agung Beton Persada Utama inisial MMA (28) selaku kepala produksi dan AL (23) yang bertindak sebagai operator. Diketahui, keduanya diciduk dari dua lokasi berbeda.

 

Dimana, MMA yang merupakan warga Kabupaten Labuhan Batu, ditangkap di Sigura Gura, Kabupaten Toba. Sedangkan AL dijemput di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Sergai.

 

Dalam kasus tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 360 KUHPidana tentang kelalaian yang mengakibatkan luka berat. Dengan ancaman hukuman maksimal yakni 5 tahun penjara. Di samping itu, Edi mengatakan bahwa berkas laporan Teguh Syahputra Ginting sampai saat ini belum lengkap.

 

“Belum (P21),” ucapnya.

Di pihak lain, Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Pematangsiantar, M Chadafi mengatakan, bahwa pihaknya sudah menunjuk jaksa yang akan menangani kasus tersebut. Bahkan, pihaknya juga sudah memeriksa berkas laporan yang diajukan penyidik polisi ke jaksa.

 

Dan hasilnya mengatakan, bahwa Tim Jaksa akan mengembalikan berkas (P-19) tersebut ke penyidik Polres Pematangsiantar. Chadafi menilai, masih banyak petunjuk jaksa yang harus dipenuhi penyidik dalam kasus tersebut, sehingga mereka mengembalikan berkas (P-19).

 

“Disini, kami melakukan P-19. Yaitu sebagai petunjuk jaksa untuk memenuhi beberapa materi yang harus dipenuhi penyidik untuk menindaklanjuti kasus tersebut sebelum disidangkan,” jelasnya.

 

Chadafi menambahkan, bahwa masih memungkinkan adanya tersangka lain dalam kasus tersebut. Bahkan, pihaknya mengaku sangat berhati-hati dalam menindaklanjuti kasus yang menjadi perhatian publik.

 

“Artinya, masih memungkinkan akan ada tersangka lain dalam kasus tersebut,” jelas Chadafi.

 

Diberitakan sebelumnya, Lili sempat mendampingi putranya, Teguh Syahputra Ginting (20) yang memberikan keterangan sebagai pelapor. Yakni atas pengaduan kecelakaan kerja yang dialaminya di PT Agung Beton Persada Utama pada Rabu 15 April 2020.

 

Diketahui, Lili bersama anaknya melaporkan perusahaan pembuat aspal beton untuk kebutuhan pembangunan jalan tol itu pada 29 September 2020 ke Polres Pematangsiantar. Tampak anggota TNI berpangkat Serda itu menangis meminta keadilan terhadap kasus yang menimpa anaknya di depan Markas Polres Pematangsiantar, pada Senin (11/1/2021) siang.

 

Lili menyebut, bahwa kasus itu sudah 8 bulan tidak menemui titik terang. Oleh karena itu, dia dan anaknya menuntut pertanggungjawaban direktur PT Agung Beton Persada Utama.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kronologi kejadian bermula ketika Teguh Syahputra Ginting yang merupakan buruh di bagian produksi PT Agung Beton Persada Utama di Jalan Medan Kilometer 7, Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, diminta menjahit karet belting yang tak layak pakai pada mesin conveyor.

 

Kala itu, Teguh membersihkan mesin conveyor itu hingga terjadilah kecelakaan. Pada saat dibersihkan oleh Teguh, mesin tersebut malah dihidupkan oleh operator tersebut. Padahal, posisi tangan kiri Teguh saat itu masih berada di dalam mesin conveyor yang menyala.

 

“Dan pas (tangan) saya masuk, hidup mesinnya tergulung tangan saya. Yang menghidupkan mesin operator,” ucap Teguh.

 

Akibatnya, Teguh langsung dibawa ke RS Vita Insani Pematangsiantar lalu dirujuk ke RS Murni Teguh Kota Medan untuk dilakukan amputasi pada tangan kirinya. Buntut panjang kasus tersebut kian bergulir hingga ke kepolisian. Yang mana, akhirnya polisi menetapkan dua tersangka dari karyawan PT Agung Beton. Meski demikian, pihak korban menemukan kejanggalan dan ada dugaan kelalaian perusahaan.