Jika Terbukti Bersalah, Edhy Prabowo : ‘Jangankan Dihukum Mati, Lebih dari Itu Pun Saya Siap’

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. Foto : ANTARA

 

Belakangan ini, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengatakan siap bertanggung jawab, termasuk dihukum mati jika terbukti bersalah. Diketahui, Edhy merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap perizinan ekspor benih lobster (benur) di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

 

Dan sekali lagi saya katakan, kalau memang saya dianggap salah, saya tidak lari dari kesalahan, saya tetap tanggung jawab. Jangankan dihukum mati, lebih dari itu pun saya siap yang penting demi masyarakat saya,” kata Edhy seperti dikutip dari laman kompas.com, Selasa (23/2/2021).

 

Dalam pengakuannya, Edhy mengaku siap bertanggung jawab dan tidak akan lari dari kesalahannya. Bahkan, dia mengklaim setiap kebijakan yang diambilnya, termasuk soal perizinan ekspor benur, semata-mata hanya untuk kepentingan masyarakat.

 

Disini saya tidak bicara lantang dengan menutupi kesalahan, saya tidak berlari dari kesalahan yang ada. Untuk itu, silakan proses peradilan berjalan. Karena pada intinya adalah setiap kebijakan yang saya ambil untuk kepentingan masyarakat. Dan kalau atas dasar masyarakat itu harus menanggung akibat akhirnya saya dipenjara, itu sudah risiko bagi saya,” ucapnya.

Adapun sebagai bukti kebijakannya adalah untuk kepentingan rakyat, Edhy mencontohkan soal kebijakan yang dikeluarkannya terkait perizinan kapal. Dimana, dia menyebutkan bahwa sebelum kebijakan soal izin kapal ia keluarkan, izin kapal bisa memerlukan waktu hingga 14 hari.

Jika Anda lihat izin kapal yang saya keluarkan, ada 4.000 izin dalam waktu satu tahun saya menjabat. Kemudian, bandingkan yang sebelum yang tadinya izin sampai 14 hari saya bikin hanya satu jam, banyak izin-izin lain,” kata Edhy.