Rencana Sekolah Buka Pembelajaran Tatap Muka Mulai Juli 2021 Menuai Pro Kontra Orang Tua Siswa di Jakarta

Ilustrasi Foto : DOK. PIXABAY

 

Terkait rencana sekolah tatap muka yang akan dimulai Juli 2021, hingga kini masih memunculkan pro kontra bagi kalangan orang tua siswa. Seperti diketahui, bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim telah merencanakan bahwa sekolah tatap muka dimulai kembali setelah proses vaksinasi Covid-19 bagi para tenaga kependidikan selesai.

 

“Dan kami ingin memastikan kalau guru dan tenaga kependidikan sudah selesai vaksinasi di akhir Juni. Sehingga di Juli, Insya Allah sudah melakukan proses belajar tatap muka di sekolah,” ungkap Nadiem seperti dikutip dari laman kompas.com, Rabu (2/3/2021).

 

Walaupun nantinya sudah belajar tatap muka, namun Nadiem menyebut bahwa siswa dan guru tetap mematuhi protokol kesehatan di sekolah. Adapun rencana ini turut disambut dengan antusias oleh sebagian orang tua. Salah satunya adalah warga Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Dwi Lestari yang memiliki tiga anak yang masih bersekolah.

 

Iya kan anak saya tiga masih bersekolah semua. Di sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Dan tentu mereka semua sangat antusias untuk sekolah lagi,” kata Dwi.

 

Dalam pengakuannya, Dwi menyebut bahwa anak-anaknya mengaku sudah jenuh melakukan sekolah lewat daring.

 

Ya karena daring sangat membuat jenuh kurang pemahaman. Jadi, memang tidak semua guru mengadakan pertemuan daring,” tuturnya.

 

Di samping itu, Dwi mengatakan bahwa rencana sekolah tatap muka bisa dimulai kembali asalkan protokol kesehatan tetap dijaga. Akan tetapi, orang tua siswa lain yakni Erlinda Wati mengaku masih khawatir jika sekolah tatap muka digelar Juli tahun ini.

 

Kalau melihat kasus Covid-19 belum menurun kok agak sedikit khawatir ya. Ya masih takut ngelepas anak keluar,” kata Erlinda.

 

Dikatakan oleh Erlinda, bahwa sebenarnya anaknya yang masih bersekolah di salah satu SD di Jakarta Timur jenuh sekolah lewat daring. Tetapi, dia terus berupaya agar anaknya tetap semangat belajar.

 

Ya saya sebagai orangtua tentu sudah capek dengan keluhan anak di rumah. Akan tetapi, menurut saya kita ya harus lebih cerdas aja menyikapinya. Kasih penjelasan agar anak tidak bosan di rumah,” ucap Erlinda.

 

Erlinda mengatakan bahwa meskipun nantinya para tenaga kependidikan selesai divaksinasi semua, hal itu tidak menjamin penyebaran virus akan berhenti.

 

Kan itu tidak menjamin. Karena anak-anak kadang sulit diawasi kalau sudah ketemu temannya. Dan guru juga manusia biasa, pasti kewalahan juga mengatur anak-anak. Sehingga, guru-guru pasti nanti capek mengingatkan ke anak-anak untuk menjaga jarak di sekolah,” tutur Erlinda.

 

Senada dengan Dwi, salah satu orangtua siswa yang lain, Hingawati juga mengaku setuju dengan rencana Mendikbud. Dia bahkan mengaku setuju jika sekolah tatap muka digelar di daerah zona hijau Covid-19.

 

Kalau untuk daerah zona hijau, untuk semua tingkatan setuju, terlebih siswa SD. Ya karena pendidikan di rumah dari orang tua kurang,” ujar Hingawati, warga Sunter Agung, Jakarta Utara.

 

Hingawati menyebut bahwa penugasan lewat daring bagi anak-anak sekolah kurang maksimal.

 

Karena memang banyak pekerjaan rumah (PR) yang dikerjakan siswa lain,” katanya.