Bicara Soal Pelanggaran HAM, Komnas : ‘Kejagung Harus Dengarkan Korban’

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik. Foto : CNN Indonesia

 

Dalam menyelesaikan dugaan pelanggaran kejahatan atau pelanggaran HAM, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Ahmad Taufan Damanik mengatakan bahwa seyogyanya harus mendengarkan suara korban atau keluarga korban.

 

Hal itu juga yang senantiasa diingatkan lembaganya kepada Kejaksaan Agung (Kejagung). Yakni yang memiliki peranan penting dalam penyelesaian kasus HAM di masa lalu.

 

Karena yang paling utama adalah mendengarkan suara korban dan keluarga korban. Apalagi mereka pihak yang paling berkepentingan terhadap proses keadilan,” kata Damanik dalam diskusi Merawat Ingatan Menjemput Keadilan yang digelar secara daring, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (2/3/2021).

Damanik mengatakan bahwa semua pihak penegak hukum harus dengan sungguh-sungguh menyelami perasaan dan apa yang diinginkan pihak korban.

 

Yang terpenting kita harus selesaikan dengan sangat penuh perhatian. Terutama saya katakan tetap penting untuk dengarkan suara dan aspirasi keluarga korban,” katanya.

 

Di samping itu, Damanik menerangkan bahwa saat ini bukan hanya semua elemen bangsa Indonesia saja yang menunggu penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu di negeri ini.

 

Kalau itu ditunggu banyak pihak penyelesaiannya. Yakni baik korban dan keluarga, publik nasional kita maupun publik internasional,” kata Damanik.

 

Bahkan, Damanik turut menceritakan salah satunya pertanyaan dari publik internasional itu selalu mencuat kala dirinya menghadiri sebuah diskusi kelompok terfokus (focus grup discussion/FGD). Dimana, hal itu berkaitan dengan kasus-kasus dan penyelesaian persoalan HAM yang digelar Kemenko Polhukam maupun Kemenlu RI.

 

“Dan mengenai pertanyaan kapan Indonesia bisa selesaikan dengan penuh martabat, apakah melalui satu pendekatan yang kita kenal pendekatan yudisial, maupun nonyudisial atau pendekatan gabungan atau yang lain yang sangat mungkin dilakukan oleh kita sebagai satu bangsa,” katanya.