Sejumlah Fakta Penangkapan Bos Terkait Kasus Pelecehan 2 Karyawati di Jakarta Utara

Wakapolres Metro Jakarta Utara, AKBP Nasriadi. Foto:detik.com

 

Diduga melakukan pelecehan seksual kepada dua karyawatinya yang berinisial DF (25) dan ESF (22), seorang bos di sebuah perusahaan di Jakarta Utara (Jakut) berinisial JH (47) akhirnya diamankan pihak kepolisian. Dalam pengakuannya, JH mengaku tindakannya itu merupakan proses ritual sembahyang.

 

Seperti dikutip dari laman detik.com, Rabu (3/3/2021), tindakan JH tersebut diketahui dilakukan pada September 2020 lalu. Dimana, korbannya adalah DF. Adapun pelaku melakukan aksi bejatnya itu saat perusahaan sedang sepi.

 

Iya benar, pelaku melakukan perbuatannya saat korban sedang sendirian. Dan selama korban masih bekerja di TKP, korban tidak pernah berani melaporkan perbuatan pelaku dengan alasan takut,” kata Wakapolres Metro Jakarta Utara, AKBP Nasriadi.

 

Namun, selang satu bulan kemudian, pelaku kembali melakukan pelecehan terhadap karyawatinya. Dan pada Oktober 2020, JH juga nekat melakukan aksi bejatnya terhadap ESF.

 

Mendapati perlakuan tidak menyenangkan dari bosnya, kedua korban sempat merasa malu dan khawatir kesulitan mendapatkan pekerjaan jika melaporkan kasus pelecehan yang dialami. Akan tetapi, kedua korban akhirnya membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Utara pada Senin (8/2/2021) lalu.

 

Usai menerima laporan tersebut, polisi akhirnya langsung bergerak cepat untuk melakukan penyelidikan. Adapun pelaku ditangkap pada Jumat (26/2/2021). Dimana, saat itu pelaku ditangkap saat berada di kantornya di daerah Jakarta Utara. Adapun sejumlah fakta terkait penangkapan bos tersebut yakni sebagai berikut :

1. Pelaku mengaku sebagai peramal

Usai diamankan, JH kemudian digelandang ke Polres untuk dimintai keterangan. Pelaku pun bahkan telah mengakui perbuatan mesumnya kepada dua korban tersebut.Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, modus JH melakukan tindakan pelecehan seksual dengan mengaku sebagai peramal.

 

Iya, tersangka mengaku sebagai peramal atau orang pintar yang bisa meramal nasib orang dan rezeki seseorang,” ujar Nasriadi.

 

Diketahui, kedua korban berposisi sebagai sekretaris di perusahaan yang dipimpin pelaku. Adapun ESF dan DF memutuskan berhenti bekerja di perusahaan tersebut pada Oktober 2020. Dan setelah itu, mereka melaporkan kasus ini ke Polres Jakarta Utara pada Senin (8/2/2021).

 

Sejumlah barang bukti yang diamankan polisi yakni berupa rekaman video tindakan pelecehan dan pakaian korban. Dalam kasus ini, JH pun dijerat Pasal 289 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.

 

2. Pelaku membawa senjata tajam di kantor

Diungkapkan oleh Nasriadi, bahwa DF dan EFS tidak berani melawan saat pelaku melakukan perbuatan mesumnya. Hal ini karena JH selalu membawa senjata tajam di kantor.

 

Memang korban ini tidak berani melawan karena tersangka sering membawa senjata tajam di pinggangnya. Karena takut menjadi korban pembunuhan, akhirnya pasrah,” ujar Nasriadi.

 

Di samping itu, JH juga mengaku sebagai orang pintar dan peramal kepada kedua korban. Bahkan, dia sempat mengajak korbannya mandi bersama dengan tujuan membuka aura.

 

Pernah mereka diajak mandi bareng, artinya untuk membuka aura atau untuk membuka hal-hal positif di tubuhnya. Namun, kemudian ditolak oleh kedua korban ini,” ucapnya.

 

3. Pelaku mengaku mabuk hingga lakukan ritual sembahyang

Dalam pengakuanya, JH mengaku tindakannya itu merupakan proses ritual sembahyang. Dia juga mengatakan aksinya itu dilakukan dalam keadaan sedikit mabuk.

 

Dan memang pada saat itu posisi saya lagi setengah mabuk, Pak. Hingga terjadilah proses ritual,” ujar JH.

 

“Ritual apa?” tanya Nasriadi.

 

“Ritual sembahyang,” jawab JH.

 

Mendengar pernyataan tersebut, Nasriadi lantas menanyakan tempat JH melakukan ritual sembahyang dan mabuk-mabukan. Dikatakan JH, bahwa tempatnya di sebuah altar yang juga berada di kantornya.

 

“(Minum) di altar. Altar adanya di kantor kita, Pak,” tutur JH.

 

Menurut pernyataan JH, dia tidak sampai berhubungan badan saat melecehkan DF dan EFS. Bahkan, dia menyebut para korbannya telah dilecehkan berulang kali di lokasi yang sama.

 

“Di kantor, Pak, ada ruang pengetikan komputer,” ucap JH.

 

4. Pada korban dilecehkan di ruang meeting

Menurut pengakuan salah seorang korban EFS, pelaku melakukan aksi bejatnya di ruang meeting saat keadaan sedang sepi. Dia mengaku bekerja bersama JH dari September hingga November 2020. Dimana, dia diketahui bekerja sebagai sekretaris JH.

 

“Iya di kantor saat-saat meeting, di ruangan meeting, saat ruangan itu sepi. Dan setiap kali ada kesempatan, JH melakukan itu,” ujar EFS.

 

Tak disangka, EFS juga mengaku telah mengalami pelecehan di dua minggu pertama dia bekerja. Dia bahkan mengaku hampir setiap hari mendapat pelecehan seksual dari pelaku.

 

“Iya benar, (sehari bisa lebih dari sekali),” ucap EFS

 

Dikatakan oleh EFS, bahwa pelaku melakukan aksinya saat keadaan kantor sedan sepi. Dimana, pintu ruang meeting pun dikunci.

 

Iya, jadi hanya bisa dibuka dari dalam, orang dari luar nggak bisa masuk,” ucapnya.

 

Sementara itu, korban lainnya DF mengaku takut melawan pelaku saat dilecehkan. Hal ini katrena pelaku membawa senjata tajam saat melakukan aksi bejatnya.

 

Bahkan, DF mengatakan jika dia sempat merasa takut aksi merekamnya ketahuan. Akan tetapi, karena pelaku sudah sering melakukan pelecehan, DF pun akhirnya memberanikan diri untuk merekam.

 

Dan memang saya coba untuk merekam, di laptop ditaruh handphone saya. Kemudian, handphone saya dinyalakan video, terus awalnya pada saat dia datang dan memaksa, saya juga otomatis takut. Ya takut dia melihat handphone saya,” ucap DF melanjutkan.

 

Dalam pengakuannya, DF menerangkan bahwa pelaku membawa senjata tajam saat melakukan aksi bejatnya. Bahkan, pelaku selalu membawa keris di belakang sakunya.

 

“Kalau mengancam, dia tidak mengancam. Tapi dia sering membawa keris di belakang sakunya,” kata DF.