Bikin Geli Polisi, Begini Bunyi Kalimat Jenaka Pada Mercon Besar Sitaan

Ilustrasi Mercon. Foto : Dok. Polres Blitar

Rancah.com – Dari ratusan mercon yang disita polisi selama pengamanan malam takbir dan shalat Idul Fitri 1442 H di Blitar, Jawa Timur, rupanya ada satu mercon berukuran besar yang dibubuhi tulisan menggelikan. Diketahui, mercon berukuran panjang 13 centimeter dan diameter sekitar 37,5 centimeter itu ditempeli tulisan dalam Bahasa Jawa. 

Seperti dikutip dari laman kompas.com, Sabtu (15/5/2021), berikut ini bunyi kalimat menggelikan pada mercon tersebut.

“Dear mantan. Mugo-mugo luputmu lan luputku dilebur koyo mbledose mercon iki!!” (Dear mantan. Semoga kesalahanku dan kesalahanmu dilebur seperti meletusnya mercon ini!!).

“Geli juga kita bacanya. Rekan-rekan juga tertawa geli ketika melihat ada tulisan seperti itu,” ujar kepala Sitipol di Polres Blitar, Budi yang memimpin penggerebekan terhadap sekelompok pemuda pemilik ratusan mercon di Kelurahan Bajang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, pada Rabu dini hari (12/5/2021).

Diketahui, mercon dengan kalimat bernada curhat itu merupakan milik sekelompok pemuda terdiri dari 10 orang yang juga turut digelandang ke Kantor Polres Blitar bersama ratusan mercon tersebut. Adapun kesepuluh pemuda tersebut di antaranya yakni AW (29), WT (25), RR (26), DU (19), FK (22), MR (21), PT (19), BR (20), AS (25), dan SH (38).

Diakui polisi Budi, bahwa pihaknya sempat iseng-iseng menanyakan kepada para pemilik mercon apakah kalimat tersebut sekedar candaan atau serius.

“Katanya mereka, bercanda iya, serius juga iya. Katanya, ‘siapa sih yang gak punya mantan (kekasih),” ujar Budi.

Selain itu, Budi mengatakan jika bagian seriusnya lagi yakni mengenai kata-kata berisi peleburan kesalahan yang itu juga identik dengan momen lebaran. Dimana biasanya masyarakat saling bertemu dan saling meminta maaf, melebur kesalahan.

Dikatakan oleh Budi, bahwa sepuluh pemilik ratusan mercon itu patungan uang untuk membeli bubuk peledak mercon, sumbu dan kertas. Bahkan, mereka lantas mengerjakan pembuatan mercon itu bersama-sama di rumah salah satu di antara mereka.

Adapun para pemuda yang sebagian besar sudah berumah tangga itu, kata Budi, berencana menyalakan ratusan mercon itu persis setelah shalat Idul Fitri. Dimana, ratusan mercon itu diketahui dirangkai sedemikian rupa sehingga sekali sumbu disulut api akan terjadi letusan beruntun.

“Mercon dengan tempelan tulisan jenaka itu sedianya menjadi ‘gong’ atau meletus paling keras dan paling akhir,” terang Budi.  

Meski demikian, polisi tidak memproses kasus hukum terhadap mereka. Namun, mereka hanya diminta menandatangani pernyataan tidak mengulangi tindakan serupa dengan diketahui orangtua atau anggota keluarga mereka masing-masing serta aparat desa setempat.

Dalam hal ini, Kapolres Blitar, AKBP Leonard M Sinambela mengatakan bahwa penindakan tegas terkait kepemilikan mercon dan bubuk peledak mercon terutama diprioritaskan kepada peracik bubuk mercon dan penjualnya.

Adapun ratusan personel TNI, Polri, Satpol PP dan relawan bekerja keras melakukan pengamanan malam takbir dan shalat Idul Fitri di wilayah Kabupaten Blitar sejak Rabu hingga Kamis. Tak hanya dengan menyita sekitar 800 petasan dari berbagai ukuran di beberapa lokasi berbeda, petugas juga menghalau puluhan kelompok massa yang melakukan takbir keliling.

“Meski takbir keliling ini jelas dilarang, antara lain berdasarkan surat edaran Bupati Blitar, tapi petugas tetap mengedepankan cara-cara penegakan aturan dengan pendekatan humanis, persuasif,” ujarnya.

Akan tetapi, terdapat beberapa pelaku takbir keliling yang menolak diminta pulang sehingga petugas keamanan melakukan penyitaan peralatan dan membawa para pelaku ke kantor polisi terdekat.

“Kepada mereka kami kenakan pasal-pasal tindak pidana ringan,” ujarnya sembari menyebut setidaknya ada tiga kelompok takbir keliling yang ditindak tegas. Walaupun dikatakan berbahaya dan dilarang, masih lebih banyak masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar dan sekitarnya yang luput dari penindakan petugas keamanan. Dan entah sejak kapan tradisi menyalakan petasan atau mercon selama lebaran, meskipun berbahaya dan menghamburkan uang, masih banyak masyarakat di Kabupaten Blitar yang tetap dapat menyalakan mercon.