Heboh Soal Ujian SD Sukabumi Bahas Alat Kelamin-Ganja Hingga Disorot DPRD

Potret Soal Ujian SD di Sukabumi. Foto : Istimewa

Rancah.com – Lantaran terdapat materi yang dinilai belum layak untuk diberikan, soal Ujian Penilaian Akhir Semester II (PAT) bagi Siswa kelas V Sekolah Dasar (SD) di Kota Sukabumi belakangan ini mendapat sorotan dari sejumlah pihak.

Seperti dikutip dari laman detik.com, Jumat (11/6/2021), contoh soal yang menuai sorotan yakni terdapat pertanyaan atau memuat tentang alat kelamin, rokok hingga ganja. Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Sukabumi, Melan Maulana mengaku mendapat banyak laporan dari masyarakat terkait soal ujian tersebut.

Memang beberapa SD di Kota Sukabumi, kalau SD tempat anak saya sekolah diubah, soal nomor 21 sampai 30 nya bagus itu. Dan mengenai soal langsung diubah setelah dibaca dulu sama guru PJOK. Bahkan, dia langsung ubah karena ketelitian dari guru-guru di sekolah tempat anak saya sekolah itu,” kata Melan.

Dikatakan Melan, bahwa ada poin pertanyaan soal yang memang isinya dianggap tidak patut disampaikan kepada siswa kelas V SD. Sebab, di soal tersebut terdapat kata alat reproduksi, alat kelamin, ganja dan rokok.

Ya kan karena di situ dipertanyakan soal yang isinya yang menurut saya belum cocok untuk di sampaikan kepada siswa usia kelas 5 SD. Dan apalagi sudah ada kata alat reproduksi, ada kata alat kelamin ada ganja dan tentang rokok. Ini jadi pertanyaan kenapa ada soal seperti ini, ini yang mengeluarkan Disdikbud Kota Sukabumi. Kalau pun teman-teman di Disdik membuat soal ini saya ingin pertanyakan juga arahnya ke mana,” ungkap Melan.

Di samping itu, Melan juga mengatakan bahwa seandainya memang soal semacam itu menurut tim perumus tidak bermasalah, akan tetapi menurut pandangan dirinya sebagai anggota DPRD dan orang tua murid materi dalam ujian itu merupakan sebuah ‘kelengahan moral’.

Ya kan kalau menurut tim perumus soal itu tidak apa-apa menurut pandangan kami saya dan orang tua murid bahkan kebanyakan masyarakat Sukabumi. Ya walaupun kota tapi adat ketimurannya masih tetap kental. Dan saya pikir itu sebuah kelengahan moral, kalau menurut mereka itu sah-sah saja menurut kami tidak,” tegas Melan.

Di pihak lain, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, Yemmy Yohani mengatakan bahwa materi tersebut sudah sesuai dengan kurikulim yang berlaku secara luas di Indonesia.

“Ini ada di bukunya, berlaku se Indonesia. Bahkan, teman-teman guru tidak akan membuat soal di luar kurikulum, sebab mereka akan melihat soal dari kurikulum dan memang diimplementasikan ke anak. Ya kalau dulu oke, tabu bicara masalah seks kalau sekarang harus terbuka ke anak-anak. Memang sejak usia dini, harus terbuka. Kan memang kurikulumnya seperti itu, karena pasti dikaji oleh ahli makanya muncul buku itu,” kata Yemmy.

Lebih lanjut, Yemmy juga turut menuturkan bahwa saat ini masih ada masyarakat yang menganggap hal itu masih tabu, vulgar soal materi tersebut.

Dan memang masih ada sebagian masyarakat yang tabu, terbuka, vulgar ada yang menganggap oh ia ini perlu diketahui oleh anak-anak. Kan jadinya segelintir orang saja mungkin yang bahwa itu vulgar dan mereka tidak tahu bahwa di kurikulumnya ada soal seperti itu. Terlebih karena kita sekarang musim daring, jadi mereka (orang tua) hanya melihat sampai detil tidak sampai mengetahui,” ujar Yemmy.

Untuk itu kita harus mengetahui juga, betul tidak anak itu sekolah di Kota Sukabumi. Karena saya sudah mengetahui (soal), dan kalau misalkan kecamatan satu membahas itu kecamatan lain membahas soal itu, mengacu ke situ, ke buku itu. (Soal yang beredar) apakah pakai kop surat kita, kalau kop dinas artinya kita yang membuatnya, ini dari mana ini?” tanya Yemmy.

Sejumlah pihak yang mneyorot soal tersebut datang dari Ikatan Guru Olahraga (IGORA). Seperti misalnya melalui humas IGORA, Muhammad Taufik Hidayat yang mengatakan bahwa soal-soal yang beredar tersebut tidak menyalahi kurikulum yang ada saat ini. Bahkan, dia menyebut jika materi itu juga diajarkan kepada siswa.

Kalau mengenai masalah itu, pertama memang soal itu tidak bertentangan dengan kurikulum yang kita ajarkan. Karena buktinya materi itu ada dalam kurikulum dan itu ada. Dan pada materi pelajaran mengenai Napza (Narkotika Zat Adiktif) rokok, obat-obat terlarang ada dalam materi kelas V,” kata Taufik.

Diakui Taufik bahwa dirinya juga sempat kaget saat muncul informasi kejadian munculnya soal ada di Kecamatan Warudoyong. Dia sendiri bahkan mengaku tidak merasa membuat soal-soal itu.

Ya kan kalau mengenai masalah pembuatan soal itu, sayakan di Warudoyong, untuk masalah materi soal dikoordinir oleh KKG. Dan memang kebetulan saya ketua KKG nya. Dan karena itu kan soal guru olahraga kalau di KKG Warudoyong itu soal itu dikoordinir oleh KKG saya ketuanya. Karena memang tidak merasa mengeluarkan soal seperti itu, bisa dicek datanya ada di kita,” jelas Taufik.

Meski demikian, saya pribadi sebagai tim editor juga yang memantau materi soal tidak merasa mengeluarkan soal isinya seperti itu. Dan mengenai masalah substansi soal tidak ada masalah tidak ada yang salah, yang ditanyakan itu soal zat berbahaya yang ada di dalam rokok. Jadi ini bukan berarti melegalkan (bahwa) ganja itu tidak berbahaya. Akan tetapi si anak diberikan pilihan contohnya begini zat yang terkandung di dalam rokok itu satu nikotin, dua tar, tiga karbonmonoksida nah yang tidak terdapat dalam rokok apa, ganja nah ganja kan tidak ada dalam rokoknya bukan berarti mengarahkan si anak untuk berpikir ganja itu tidak berbahaya tidak seperti itu. Jadi kalau si anak membaca materi ataupun ortu membaca materi mengenai zat yang terkandung didalam rokok itu akan tahu bahwa ganja itu di dalam kandungan rokok,” sambungnya.