Home Berita Nasional Pembesuk Hanya Bisa Lihat Habibie dari Balik Kaca

Pembesuk Hanya Bisa Lihat Habibie dari Balik Kaca

Rancah.com – Eks Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo membesuk Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie yang sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9).

Namun, Indroyono mengaku dirinya tak bisa bertemu atau bertatap muka langsung dengan Habibie. Pasalnya, Indroyono tak bisa masuk ke dalam ruang perawatan.

“Saya dengar dari yang jaga sudah mulai bagus, pagi tadi. Saya dari kaca, jadi tidak masuk, Pak Habibie menghadap ke tembok–tidak menghadap ke kaca. Kami lihat dari belakang,” kata Indriyono saat ditemui di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9).

Selain itu, pria yang menjabat menko kurun waktu Oktober 2014-Agustus 2015 itu tak sempat berbicara dengan anggota keluarga Habibie. Pria yang pernah berkarier sebagai pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu hanya menanyakan kondisi kesehatan Habibie ke petugas yang berjaga.

“Pas sepi tadi. Saya lihat ada kelompok pengajian dari wilayah Jakarta. Dari keluarga saya tidak lihat, mungkin di dalam. Saya dari kaca soalnya,” ujar Indriyono.

Indriyono merupakan jajaran anak buah Habibie saat pertama kali Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berdiri. Habibie adalah kepala pertama BPPT. Ia menjabat di sana sejak didirikan pada 28 Januari 1974 hingga 1998.

Kurun waktu tersebut, Habibie sempat didapuk Presiden kedua RI sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), lalu ditunjuk jadi Wapres pada 1998.

“Saya dulu anak didiknya Pak Habibie. Beliau Menristek, saya deputinya,” kata Indriyono.

Indriyono lantas mengungkapkan gagasan-gagasan visioner Habibie di bidang teknologi.

Menurutnya ide Habibie melampaui masa. Salah satunya, kata Indriyono, teknologi hujan buatan dan pendeteksi kebakaran hutan dan lahan pada 1990an.

“Satelit pendeteksi kebakaran hutan sekarang itu dari beliau. Kalau sekarang kebakaran ada yang namanya hujan buatan, itu beliau yang merintis. Kalau kelautan waktu 1990an kapal-kapal Baruna Jaya itu beliau juga,” katanya.

Baruna Jaya adalah kapal penelitian bawah laut yang juga kerap digunakan untuk operasi penyelamatan di bawah air seperti saat upaya pencarian korban Lion Air dan Air Asia di Laut Anambas.

“Itu semua beliau yang rintis 1980-1990an. Lalu pesawat Gatot Koco N250 itu diluncurkan 10 Agustus 1995, itu pesawat yang paling canggih pada kelasnya waktu itu,” kata Indroyono.

Saat itu dia melanjutkan, pembuatan pesawat tersebut telah sampai pada tahapan sertifikasi. Hanya saja kemudian gagal dieksekusi lantaran ada krisis pada 1998 dan pemberhentian program pengembangan.

“Nah kalau Anda sekarang melihat ATR, ya itulah pasarnya pesawat itu [N250]. Harusnya kalau itu jadi dibuat, sekarang kita pakai pesawat buatan dalam negeri.

BJ Habibie hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Cerebro Intensive Care Unit (CICU) RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Peraturan perawatan di ruangan ini hanya memberikan izin terbatas ke pengunjung yang membesuk langsung. Selain Indroyono, datang juga pembesuk lain di antaranya Najwa Shihab dan ayahnya, Quraish Shihab.

Dari sejumlah tokoh yang menjenguk Habibie sejak Selasa (10/9) kemarin, beberapa pengunjung yang bisa langsung masuk ke ruang poerawatan di antaranya Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhono, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sementara itu, semalam putra bungsu Habibie, Thareq Kemal menyatakan keluarga akan berupaya membatasi penjenguk ayahnya. Hal itu, sambungnya, diputuskan karena Habibie membutuhkan waktu istirahat.

“Makanya ditaruh di CICU agar benar-benar istirahat, sesuai peraturan hanya orang sangat terbatas yang boleh jenguk. Keponakan tidak semua. Hanya anak, cucu, adik-kakak Bapak saya atau adik-kakak almarhum ibu,” ujar Thareq.

Ia lantas mengatakan, secanggih apapun perawatan medis jika istirahat sang ayah tak cukup maka akan menihilkan hasil.

Menurut Thareq pihak keluarga memilih tetap akan merawat Habibie di Indonesia. Ia mengatakan puas dengan penanganan dan pelayanan kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto.







Loading...