Operasi Ketupat di Tengah Pandemi Covid-19 Dinilai Polisi Lebih Rumit

Pemberlakuan PSBB di Kota Tasikmalaya. Foto : kompas.com

 

Seperti Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, pihak kepolisian selalu disibukkan dengan berbagai persiapan dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri, lewat Operasi Ketupat. Seperti yang kita tahu jika Operasi Ketupat sendiri merupakan operasi rutin setiap tahun yang digelar polisi sebagai pengamanan arus mudik dan arus balik.

 

Namun untuk Hari Raya Idul Fitri tahun ini sepertinya sedikit berbeda, mengingat kondisi di tengah pandemi Covid-19. Jika di tahun sebelumnya arus mudik sangat ramai, kali ini aktivitas mudik lebih lenggang karena adanya larangan dari pemerintah kepada masyarakat untuk mudik. Meskipun demikian, hal tersebut tak lantas membuat tugas polisi menjadi lebih santai dari biasanya bahkan kali ini lebih rumit.

 

Dikutip dari kompas.com (22/5/2020), Kabag Ops Korlantas Polri, Kombes Pol Benyamin, mengatakan, bahwa Operasi Ketupat di tahun 2020 ini dinilai sangat berbeda dengan kegiatan tahun lalu sebelum adanya pandemi Covid-19 sehingga dibutuhkan penyesuaian

 

“Perbedaan tahun lalu kita punya target menurunkan angka kecelakaan lalu lintas dan korban vatalitas, kedua mengurangi titik macet atau jalan menjadi lancar, itu target kita biasanya,” kata Benyamin.

Benyamin menuturkan, meskipun di tahun ini berbeda namun target utamanyya adalah dengan tetap menurunkan angka kecelakaan dan korban vatalitas. Selain itu, tetap melarang masyarakat untuk mudik sesuai intruksi dari presiden.

 

“Ini bisa dikatakan lebih ringan tapi juga lebih berat buat anggota di lapangan. Karena kalau tahun lalu kita bisa bergantian, tidak terlalu capek, karena sudah rutinitas. Tapi kalau sekarang ini ada sisi terus menerus harus di lapangan,” katanya.

 

“Kami harus benar-benar mengecek kendaraan, kalau dahulu kan tidak, cukup dari jauh, jika terlihat ‘oh ini macet kita buang ke sini, bikin contraflow, alihkan jalan,’ tapi kalau sekarang dengan penyekatan untuk mengembalikan masyarakat,” tambahnya.

 

Benyamin menambahkan jika upaya melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halaman dalam merayakan hari raya dirasa tidak mudah. Dikarenakan selain lebih intensif melakukan pengawasan juga nanti dipastikan akan ada pergolakan antar sesama manusia.

 

“Kadang kita kasihan juga orang kepingin pulang tapi harus kecewa diputar balik, tapi ada juga yang memaksa berhari-hari dipelabuhan atau penyekatan. Kadang ini dilema ada sisi kemanusiaan, tapi kita juga harus tegas melarang agar penyebaran tidak meluas,” pungkasnya.