Disebut Melenceng dari Pakem Budaya Betawi, Ondel-ondel Ngamen di Jalan Menuai Kontroversi

Ondel-ondel Ngamen di Jalanan. Foto : detik.com

 

Kontroversi Ondel-ondel ngamen di jalan, dipandang sudah melenceng dari pakem seni Ondel-ondel dan budaya Betawi di kalangan komunitas kesenian asli Jakarta itu sendiri. Dalam hal ini, pakem yang dimaksud yakni melibatkan oknum non seniman Betawi, melibatkan anak-anak di bawah umur hingga penggunaan musik Minus One.

 

Menanggapi hal tersebut, pimpinan Sanggar Ondel-ondel Sinar Betawi Entertainment, Yudi Hermawan mengatakan, bahwa fenomena tersebut membuatnya bingung.

 

“Gimana ya di satu sisi emang peraturan gubernur, emang saya sendiri ikut waktu rapat itu Perda Gubernur termasuk 8 ikon budaya Betawi. Di satu sisi kita tidak bisa berbuat apa apa kita paksakan (nggak boleh ngamen ke jalan) meraka mau makan dari mana. Kita liat satu sisi ini tapi di sisi lain gimana, bimbang,” kata Yudi seperti dikutip dari laman detik.com, Rabu (1/7/2020).

 

Dikatakan oleh Yudi, bahwa saat ini kebanyakan oknum yang memakai kostum Ondel-ondel terlihat urakan. Di antaranya yakni baju Ondel-ondel yang bolong sampai kedok (topeng) Ondel-ondel yang asal jadi, para pengaraknya yang terdapat anak-anak, perempuan hingga cuma sendal jepitan saja.

 

Baca Juga :   Kemenko Maritim Dan Investasi Ajak Semua Pejabat Belanja Online Saat Sidang Kabinet Paripurna

“Contohnya kayak kostum yang kotor, bolong nggak pernah dibenerin. Entah dia pake selendang atau nggak entah kembang kelapanya cuma tiga biji ya beda sama Sanggar Murni, kembang kelapanya harus full sesuai pakem. Mereka kan asal kayak kedok itu ya gimana sih mereka asal bikinnya. Yang penting ada. Kan sekarang asal pake kaos, pake celana pendek, sendal kadang nyeker. Kita nggak menutupi memang kenyataan di lapangan kayak gitu,” tambahnya.

 

Yudi menambahkan, jika banyaknya Ondel-ondel ngamen di jalan saat ini, tak terdaftar dan tak berizin. Bahkan, tindakan tersebut dipandangnya sebagai bentuk protes terhadap dinas terkait karena susah mengurus izin berkesenian.

 

Baca Juga :   Serukan Takbir dan Selawat, Massa Aksi Mujahid 212 Bergerak Menuju Istana

“Banyak yang nggak terdaftar kayak ondel-ondel ngamen tuh itu dia nggak terdaftar tuh dia nggak punya izin UMKM-nya trus nggak punya legalitas di Walikotanya makanya mereka turun ke jalan. Dalam artian, mereka emang protes lah ke dinas terkait mereka nggak difasilitasi. Serba salah juga sih mereka nggak mau daftar perizinannya, merasa nggak difasilitasi jadi begitu kontroversinya,” ungkapnya.

 

Meskipun mendapat perizinan, Yudi mengatakan jika mereka belum tentu mendapatkan job yang bagus. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas untuk membuat Ondel-ondel layak untuk ditampilkan.

 

“Sedangkan kalau pun mereka membuat perizinan belum tentu mereka dikasih job yang ini (bagus). Harus pinter-pinter kita, regulasi khusus harus kreatif buat ondel ondel kayak gimana bajunya harus rapi. Ya kayak ondel-ondel (ngamen di jalan itu). Ya mohon maaf ya ada yang bolong, ada yang dekil,” sambung Yudi.

 

Baca Juga :   Pria Ini Mengamuk di Masjid, Lalu Sandera dan Tikam Seorang Anak

Selain itu, Yudi juga menilai terhadap musik Minus One yang dipakai oleh oknum pengamen jalanan tersebut. Dia menganggap, jika musik tersebut merusak pakem. Dia menyarankan agar musik pengarak Ondel-ondel dinilainya lebih baik sesuai pakem. Apabila nantinya, memakai instrumen musik asli yang dimainkan secara langsung.

 

“Yang jadi permasalahan yang namanya musik Minus One itu yang dianggap nggak full itu. Itu yang dianggap seniman kita sering berkumpul itu merusak. Silahkan ngamen tapi musiknya dilengkapi. Nggak ngilangin pakem ya, jadi Betawi itu ada pakem ya ada aturan main, jadi gendangnya harus ada tehyannya harus ada terompetnya itu harus lengkap jangan pake kaset, cuma mereka kalo di-fullin bisa cuma pembagian hasilnya (uang ngamen berkurang),” kata Yudi.