Jampi Warisan Nusantara

Jampi Warisan Nusantara

Rancah.com – Di masa Majapahit, ada sisi yang jarang sekali terungkap, yakni mengenai ramuan jampi-jampi. Jampi memiliki arti jamu dan juga bisa berarti mantra atau doa. Berbagai ramuan jampi ini sangat populer hingga sampai diekspor ke mancanegara. Majapahit juga terkenal memiliki banyak tabib, misalnya Ra Tancah, yang terkenal sebagai tabib istana di masa Prabu Wijaya.

Dalam situasi yang menggelisahkan umat manusia dewasa ini, orang kembali tersadarkan akan keberadaan jampi-jampi. Jampi yang merupakan produk dari tanaman rempah-rempah berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan imunitas. Memang dari hasil penelitian belum ada yang sahih bahwa jampi atau jamu dapat menyembuhkan mereka yang terpapar covid-19. Namun, khasiatnya diyakini banyak pihak dapat menangkalnya. Alhasil, permintaan rempah-rempah pun meningkat sangat tajam. Bahkan Presiden Jokowi memberikan dukungan agar para petani memproduksi rempah-rempah secara besar-besaran.

Sejarah mencatat bahwa jampi rempah-rempah pernah menempati posisi penting yang mengharumkan nama Nusantara. Nusantara pernah menjadi pemasok utama dalam perdagangan dunia, jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara. Begitu pentingnya rempah-rempah, sehingga ia menjadi komoditas utama yang ikut menentukan kondisi politik, ekonomi, serta sosial budaya dalam skala global.

Jalur perdagangan rempah memacuh berkembangnya beragam pengetahuan dan kebudayaan yang bukan saja menjadi warisan budaya Nusantara, namun juga menjadi warisan budaya bagi dunia. Membicarakan jampi bukan sekedar soal perilaku hidup sehat, namun lebih dari itu, yakni memori kolektif jampi-jampi yang mampu menumbuhkan kebanggaan dan rasa nasionalisme, serta memberikan pemaknaan penting tentang arti berbangsa. Edukasi tentang kekayaan Nusantara berupa jampi ini harus dilestarikan, tidak boleh tenggelam oleh jaman.

Fenomena pandemi Covid-19 telah menyadarkan sebagian masyarakat akan pentingnya mengangkat warisan Nusantara berupa jampi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui gerakan berkesinambungan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat berusaha menghidupkan jalur rempah sebagai memori kolektif, dengan memberikan edukasi, di antaranya mengenai kedudukan rempah-rempah yang mempersatukan dan membentuk perkembangan peradaban Nusantara dan dunia.

Seiring dengan itu, pembudidayaan dan pengembangan rempah-rempah dan jampi harus dilakukan secara optimal, yang mencakup produksi, pemasaran, serta penggunaannya dalam industri kesehatan, kecantikan, kuliner, dan lainnya. Dengan demikian, budaya jampi bisa meresap dalam masyarakat dan terlestarikan dengan baik kepada generasi muda.

Tabib dan jampi ini tercantum dalam berbagai prasasti. Ini merupakan bukti bahwa pada masa itu Kerajaan Majapahit sangat peduli dengan kesehatan dan mendorong masyarakatnya untuk terus menggali dan melestarikan berbagai ramuan-ramuan jampi.

  1. Prasasti Madhawapura

Prasasti Madhawapura tidak berangka tahun, akan tetapi dari gaya bahasanya dapat diketahui dari masa kerajaan Majapahit. Kutipan dari bagian prasasti di sisi muka adalah:

“…..Abhasana (pembuat busana), Angawari (pembuat kuali), Acaraki (peracik dan penjual jamu), …..”

Acaraki berasal dari bahasa sanskerta. Secara linguistic Acaraki adalah orang yang meracik bahan-bahan dari alam untuk dijadikan jamu.

Craki penjual bahan-bahan jamu atau pedagang jamu.

Crakèn : bahan obat-obatan.

  1. Prasasti Bendosari

Prasasti Bendosari juga disebut prasasti Manah i Manuk dan prasasti Jayasong. Prasasti Bendosari berangka tahun 1360 M. Kutipan dari bagian prasasti tersebut adalah:

“…..kepada orang-orang tua dalam pertapaan di Pakandangan, sebidang sawah 16 lirih (satuan ukuran luas tanah), kepada lingkaran perdikan di Kuku 2 lirih, kepada Janggan (dukun desa) di …..”

  1. Prasasti Balawi

Prasasti Balawi berangka tahun 1305 M. Kutipan dari bagian prasasti tersebut adalah:

“…, Juru gusali (pandai besi), tuha nambi (tukang obat), tuha dagang (ketua pedagang),…..

…..Kdi (dukun wanita), Walyan (dukun laki-laki),….”

  1. Prasasti Biluluk

Prasasti Biluluk berasal dari masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350 M – 1389 M) dan Wikramawardhana (1389 M – 1429 M). Kutipan dari bagian prasasti pad sisi muka adalah:

Sisi muka :

“ …, selanjutnya segala penjaga tanah perdikan yang menjalankan usaha pekerjaan, semuanya masing-masing satu, mereka itu dibebaskan dari segala macam beban bea dan cukai, yaitu (yang berkaitan dengan) padadah (dukun pemijatan), pawiwaha (perkawinan),…..”

Selain dari prasasti, ada juga kitab-kitab yang memuat mengenai ramuan jampi dan bahkan menuliskan resep-resep ramuan kuno tersebut secara detil, yang sayangnya kurang dihargai oleh generasi setelahnya. Kini jampi-jampi itu nyaris punah. Padahal kerajaan Majapahit menjadi besar karena ditunjang oleh masyarakatnya yang sehat, dan masyarakat yang sehat tidak terlepas dari ramuan makanan dan minuman yang menyehatkan pula.

Salah satu ramuan warisan Majapahit yang berhasil populer hingga masa kini adalah minuman sekoteng. Ini adalah minuman yang disajikan kerajaan untuk menghormati tamu istimewa.