Cerpen Dear Nana

Rancah.com – Aku Arkana, siswa SMA yang kini naik kelas tiga dan umurku beranjak dewasa. Hari-hari sekolahku sungguh membosankan. Bagamana tidak? Materi fisika, biologi, kimia, matematika menjadi makananku sehari-hari. Aku bukanlah siswa yang pandai malah bisa dibilang di bawah rata-rata. Aku sungguh berharap masa SMA ku ini segera berakhir meskipun banyak yang mengatakan jika masa SMA itu masa yang paling indah. Ah sudahlah mari berpindah ke cerita yang lain. Akan ku ceritakan teman sebangkuku yang bernama Robin. Entah mengapa aku selalu sekelas dengannya, jadi tak heran jika kami jadi saling mengenal satu sama lain.

Lamunanku di pagi hari kini terpecah ketiga guru mapel kimia memasuki kelasku. Aku menghela napas pasrah untuk dua jam ke depan karena akan berhadapan dengan rumus-rumus kimia. Namun hal yang membuatku terkejut adalah seseorang yang mengikuti Bu Nita di belakangnya, seorang gadis cantik yang sepertinya siswa baru. Robin langsung menyenggolku dengan cukup keras membuatku melirik ke arahnya

“Apa sih Rob! “ dengusku kesal

“Liat deh cantik ga menurut kamu Na? “ jawab Robin sambil menunjuk siswa baru itu.

“Anak-anak perkenalkan, dia Alfina siswa baru dikelas kita. Alfina, silakan duduk di tempat yang kosong”

Seluruh kelas langsung hening memandangi gadis itu yang berjalan menuju tempat duduk di belakangku. Darel yang duduk tak jauh dari sana langsung menyapa Alfina yang hanya tersenyum dari tadi. Begitulah Darel yang akan langsung tertarik pada gadis cantik. Kurasa dari tadi dia hanya diam saja, aneh menurutku. Aku pun menoleh dan menatap matanya, memang dia cantik dan aku merasa ingin mengenalnya. Dasar aku.

Hari itu berjalan seperti biasa, dengan segudang pr yang akan kukerjakan nanti di rumah. Saat aku menaiki motor dan menyusuri jalanan yang sepi kulihat di pinggir jalan ada seseorang yang menarik perhatianku di halte. Dia Alfina si anak baru. Entah mengapa aku langsung menepi dan menghampirinya.

“Hei! Rumahmu dimana? Mau bareng? Kenalin namaku Arkana, sekalas denganmu“ seruku padanya.

Dia hanya menatapku dengan senyumnya yang lucu, tapi tak menjawab pertanyaanku. Aku pun kebingungan dengan tingkahnya, yang hanya diam sambil menatapku tak lama. Kemudian Alfina mengambil notenya dan menulis sesuatu “Hai! Aku Alfina rumahku di perumahan Asri, sebenarnya aku masih bingung dengan daerah sini. “ Itulah yang ia tulis di notenya dan aku menyadari bahwa dia sebenarnya bisu.

“Oh ini masih satu kompleks denganku, mau pulang denganku? “

Alfina langsung mengangguk dan tersenyum, mengikutiku ke arah motor dan pulang bersamaku. Saat sampai di depan sebuah rumah berwarna putih dia menepuk pundakku, kurasa itu rumahnya. Aku berhenti dan Alfina turun dari motorku. Dia menulis lagi . “Terimakasih ya. Mau mampir dulu? “. Namun aku menggeleng dan mengatakan padanya lain kali saja. Aku pun menyalakan motorku dan langsung pulang. Rumahku tidak terlalu jauh dari rumahnya karena kita sebenarnya masih satu kompleks.

Keesokan harinya, aku berangkat dan memberi salam pada Papa dan Mama lalu menaiki motorku. Kulihat nampaknya Alfina sedang berjalan menuju arah halte. Aku tersadar dan berhenti untuk memberi tumpangan pada Alfina. “Ayo naik! “ ucapku padanya dibalik helmku. Dia hanya mengangguk dan tersenyum lalu menaiki motorku yang cukup tinggi. Di sepanjang perjalan kami hanya terdiam karena aku tahu jika dia bisu, namun tak masalah. Sesampainya di sekolah kami berjalan bersama dan jadi pusat perhatian seisi koridor sekolah. Sepertinya mereka berbisik sesuatu.

“Eh bukannya dia anak baru itu ya? “

“Iya bener, kamu tahu gak kalo dia ternyata bisu. “

“Serius? Cantik-cantik kok bisu haha”

“Tapi kok Arkana mau ya jalan sama si bisu? Dia ganteng padahal.”

“Mungkin karena si bisu cantik kali ya.”

Suara mereka membuat telingaku gatal dan kulihat Alfina hanya menunduk dengan tatapan sedih. Bagaimana mereka bisa tahu jika Alfina bisu? Yang jelas aku tidak mau ambil pusing dengan hal ini. Kuraih tangan Alfina dan menariknya menjauhi kerumunan. Dia terkejut dan sepertinya semakin banyak mata yang menyaksikan kami berdua. Namun setiba di kelas suasana lebih buruk lagi, anak-anak perempuan sedang sibuk menggunjing soal Alfina. Kami pun terkejut dan raut muka Alfina semakin terlihat sedih. Segera ku tarik tangan Alfina untuk duduk di kursi belakangku.

“Kamu jangan dengerin ya omongan mereka kan ada aku, aku temen kamu sekarang. Kamu ga usah sedih. “ ucapku padanya.

“Eh Na biasa kalo cewek emang suka gosip gitu, jangan diladenin.” Robin yang sudah di kelas dari tadi pun ikut menenangkan Alfina.

Raut muka Alfina pun kembali cerah dan dia tersenyum padaku. Senyum itu mampu membiusku seketika. Aku merasa kikuk.

“Boleh aku minta nomormu? “ tak sadar aku berkata seperti itu pada Alfina.

“Eh dasar si Arkan, aku juga minta dong Na” sahut Robin

Dia pun langsung menulis dengan cepat di notenya dan memberikan nomornya padaku dan Robin, gadis itu sungguh lucu. Sepertinya dia sudah tidak memikirkan ucapan anak-anak yang tadi menggunjingnya. Aku lega. Pelajaran pun dimulai namun Pak Edo hanya memberikan tugas matematika di buku paket karena ada rapat katanya. Kupandangi soal-soal itu membuatku menghela napas sebal. Niatku bertanya pada Robin tapi aku yakin Robin juga tidak mengerti. Aku menoleh ke arah Alfina yang sedang mengerjakan dengan gampangnya, membuatku takjub.

“Eh Na,  nanti belajar bareng di rumahku yuk. Ajarin aku matematika pliss.” Suaraku seperti orang yang memohon.

Alfina memandangku dengan senyumnya kemudian mengangguk.

Setiba di rumahku, Alfina duduk di sofa sementara aku mengambil minuman dan beberapa camilan di dapur kemudian kembali ke ruang tamu. Alfina mengajariku dengan sabar dan kuakui tulisannya bagus. Dia memberiku tips supaya dapat memahami rumus matematika dengan caranya, membuatku semakin terkesima.

“Boleh aku panggil kamu Nana? “ tanyaku tiba-tiba.

Alfina tampak bingung lalu menulis di notenya.

“Kenapa Nana?” tulisan itu membuatku tersenyum.

“Soalnya kaya Akana and Alfina gitu loh” jawabku sambil tertawa.

“Boleh. Lucu juga menurutku. “ jawaban Alfina eh maksudku Nana pada notenya membuatku senang.

Sembari aku mengerjakan latihan soal, Nana sepertinya menulis sesuatu di bukunya. Tetapi saat aku ingin melihat apa yang dia tulis membuatnya langsung menutup buku itu.

“Kamu nulis apa sih? Kayanya sibuk banget”

Dia hanya menggeleng dan menulis pada notenya. “Aku lagi nulis puisi.”

“Puisi apaan? Coba liat sini. “

Membuatku semakin penasaran dan Nana menulis lagi di notenya “Jangan sekarang, suatu saat aku akan perlihatkan ke kamu kok. “ tulisnya di note itu. Seketika aku cemberut namun gadis itu hanya tertawa sunyi hingga giginya terlihat. Gadis itu kembali menulis di notenya.

“Kamu kenapa mau temenan sama aku? Aku bisu, aku ga asik, aku punya banyak kekurangan, aku bikin kamu malu.”

“Siapa bilang aku malu Na? Jujur baru kali ada cewek kaya kamu, kamu beda dari yang lain, senyum kamu tulus, kamu baik, lucu juga. Ah pokoknya ga kaya cewek lain yang pernah aku liat. Dari sekian banyak cewek mereka fake semua.” Jawabku panjang lebar setelah membaca note milik Nana.

“Oh iya Na, besok lusa ada festival kembang api aku pengen banget nonton temenin aku yuk. Udah lama aku pengen ke sana dan jarang ada juga, setiap mau nonton ga ada temen.”

Nana mengangguk dengan cepat sambil tersenyum lebar hingga matanya terlihat sipit dan menggemaskan, sebenarnya aku ingin mencubit pipinya yang chubby itu. Tak terasa hari semakin sore kami memutuskan untuk mengakhiri belajar kami. Aku pun mengantar Nana pulang ke rumahnya dengan motor.

“Besok berangkatnya aku jemput kamu ya, daripada sendirian.”

Nana menjawab dengan kedua jempolnya. Aku memutar motor meninggalkan gadis yang melambaikan tangannya padaku. Sepanjang jalan aku hanya tersenyum sambil memgulum bibir ketika mengingat Nana. Ah mungkin aku sudah gila. Sesampainya di rumah ternyata Papa dan Mama sudah pulang kerja, kami pun makan malam bersama.

Keesokan harinya kami berangkat bersama. Pagi ini seperti biasa dengan koridor yang ramai siswa memandang kami yang berjalan bersama. Saat masuk ke kelas aku kaget dengan keadaan meja Nana membuatku emosi seketika. Kugebrak sembarang meja membuat seisi kelas kaget.

“SIAPA YANG NGELAKUIN INI NGAKU KALIAN!! SEKALI LAGI KALIAN GANGGU ALFINA URUSAN KALIAN SAMA GUE!”

Kulihat para anak perempuan terlihat ketakutan dan diam. Siapa yang tidak marah ketika melihat meja dengan tulisan kasar seperti itu.

Dasar cewe bisu

Ga tau diri

Jauh-jauh lo dari Arkana! lo ga pantes!

Dan kata-kata kotor lain yang tak ingin kukihat

Nana tampak akan menangis, kutarik lengannya dan membawanya ke atap sekolah supaya tenang. Dia memang belum lama hadir di hidupku, tapi aku ingin melindunginya. Nana menangis tanpa suara, kuelus rambutnya yang sangat lembut dan kuelap air matanya yang jatuh.

“Udah kamu jangan nangis lagi, ada aku disini. Kamu aman sama aku. Kamu ga lupa kan besok kita mau nonton kembang api? Jangan sedih lagi dong, aku ikut sedih nih.”

Nana kemudian menulis di notenya “Aku udah biasa dibully dari dulu, aku nangis karena baru kali ini ada yang belain aku, makasih ya Arkana. Ga tau kenapa aku terharu.”

“Aduh ada-ada aja kamu, jangan nangis lagi dong ututu.” Jawabku gemas, entah mengapa Nana terlihat begitu menggemaskan setelah menangis.

Sekarang pukul 9 malam, malam dimana aku dan Nana janjian untuk ke festival kembang api meskipun acaranya pukul 11, tak tahu mengapa aku cukup deg-degan. Setibanya di rumah Nana terlihat gadis dengan penampilan sederhana namun indah yang sudah menungguku di depan gerbang rumahnya. Terlihat anggun dan bercahaya dengan senyumnya melihat ke arahku yang menjadi candu bagiku. Rambut Nana terurai panjang membuatnya semakin terlihat cantik. Ahkirnya gadis itu naik ke motorku dan berpegangan pada jaketku, semakin membuatku berdebar. Aku rasa aku mulai menyukainya. Selama pejalanan terasa rintik-rintik hujan yang membuat kami berteduh di minimarket.