Dimensi Rasa Yang Berbeda

rancah.com – Dalam semilir angin malam lembut menyapa, bersama secangkir kopi, sebatang rokok yang kutarik dalam dalam di sudut kamar menjelang pukul 11 malam. Terlihat keadaan sekeliling mulai sepi, udara dingin mulai menghinggapi, sebagian orang baru saja merebahkan tubuh setelah seharian penuh berlari meraih mimpi. Sebagian lagi segera bersiap menghadapi dunia, mempersiapkan diri, kemudian bergegas pergi menuju tempat peraduan, meninggalkan istri yang dicintai dan si buah hati.

Satu persatu dari mereka kulihat dengan tatapan yang berbeda, ada yang terlihat dengan tatapan penuh semangat, ada yang sepertinya penuh masalah, ada pula yang terlihat nanar. Kembali kutarik rokok yang sedari tadi ada di tanganku…. Anganku tiba-tiba saja melambung jauh pada satu cerita yang enggan kuceritakan pada orang lain.

Apa kabarmu hari ini ? Baik-baik sajakah? Masihkah harimu dipenuhi dengan tawa yang renyah itu ? Terkadang ingin rasanya sesekali aku kembali melihat suara tawa lepasmu, memandangnya dari jauh dan kemudian pergi membawa senyuman itu. Suatu saat nanti, aku akan melihatmu berbahagia dengan yang lain, walau mungkin aku hanya akan melihat itu dari jauh, kemudian tersenyum dan kembali pergi. Tanpa harus kau tahu bahwa aku terus saja melihatmu, memastikanmu hidup dengan baik, menjagamu walau tidak bersamamu.

Tanpa terasa rokok kretekku mulai habis, kupantik kembali api dan membakar sebatang rokok lagi…rasanya aku masih ingin mengingatmu. Bukan tentang bagaimana rasa yang kita miliki, tapi tentang bagaimana kau mampu menyadarkanku tentang sesuatu hal penting, tentang bagaimana pada akhirnya kau mampu merubahku pada keadaan yang lebih baik lagi.

Musik Klassik? Ya, itu kegemaranmu. Tanpa pernah kau tahu bahwa sedari dulu aku juga seorang pengagum musik klassik. Mozart, Bethoven, Chopin, dll. Bagiku, musik klassik adalah sesuatu yang menentramkan hati, menjadikan suasana hati menjadi lebih baik. Ya, sama seperti alasan yang pernah kau sampaikan padaku.

Alam ? Suasana pegunungan, pantai, atau alam terbuka adalah sesuatu hal yang mampu membuatmu kembali tersenyum. Tanpa kau tahu aku juga sangat menyukai suasana di pegunungan. Bagiku pegunungan mengajarkan banyak hal, mulai dari maha dahsyatnya ciptaan Sang Pencipta, Besarnya Allah SWT dan Lemahnya kita dihadapannya. Hal yang hanya dapat kita peroleh dengan mendaki gunung dan menyisiri pantai.

Introvert ? Ya, itulah dirimu… dan itu pulalah yang kau jelaskan padaku. Tanpa kau tahu lagi bahwa aku sebenarnya adalah seorang introvert. Sifat, Sikap, Serta karakter yang ada pada dirimu hampir seluruhnya juga ada pada diriku. Rasanya seperti aku tak lagi perlu mengenalimu secara lebih jauh. Sebab segala sikap dan sifat yang terbentuk dari dirimu tidak berbanding jauh dengan apa yang ada didalam diriku.

Cinta ? Itulah yang tidak pernah aku mengerti sampai disaat ini, kau dan aku melaluinya hanya dengan berupaya memberikan yang terbaik bagi satu dengan yang lainnya. Lantas, dapatkah hal itu disebut dengan cinta? Dapatkah itu dikatakan cinta? Atau hanya sebuah rasa yang tiba-tiba muncul lalu menghilang. Cinta seperti apakah yang dimaksud? Apakah dengan mampu nya kita merubah seseorang menjadi lebih baik itu disebut dengan ketulusan cinta ? Mana yang terpenting dalam cinta, prioritas diri sendiri atau prioritas orang tercinta ? Manakah yang utama, membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu lalu membahagiakan orang lain? Atau sebaliknya, berbagai persepsi tentang cinta timbul dalam ruang dan waktu yang kubentuk di malam ini.

Hujan mulai reda, mulai terasa angin malam yang menusuki kulit hingga ke tulang. Kututup jendela kamar dan mulai merebahkan tubuh. Sudah hampir satu jam ku berada disudut jendela itu dan sudah 3 batang puntung rokok kretek dalam asbak. Apapun yang telah ditakdirkan ALLAH SWT untuk kehidupan kita adalah yang terbaik buat diri kita ke depannya. Enta itu terlihat buruk, mengecewakan, dan tidak baik menurut kita, tetapi percayalah bahwa sebenarnya itulah yang terbaik untuk kita. Sebab, sebaik-baiknya perencana hanyalah Dia, Dia yang tahu apa yang kita butuhkan, bekal apa yang harus kita miliki, dan ALLAH SWT pasti akan membekali kita dengan bekal terbaik menurutnya.

Apapun hal yang menjadikan kita tak bersatu, pasti akan selalu ada hikmah dibalik segala cerita yang ALLAH SWT tuliskan untuk kita. Karena Dia lah sebaik-baiknya penulis skenario kehidupan yang fana ini. Kututup malamku dengan mendoakan hal yang terbaik untuknya, semoga segala apapun yang ia ingini dalam hidupnya dapat terwujud, selalu dipenuhi dengan rasa syukur, rasa sabar, dan senantiasa menjadikan shalat sebagai penolong untuk mencengah perbuatan keji dan munkar.

Rantauprapat, 20 Januari 2020