Filsafat Cinta Part 1

Dalam filsafat hukum islam tingkatan tertinggi dari cinta disebut dengan makrifat dan oleh sebagian sufi disebut dengan mahabbah. Esensi cinta yang sesungguhnya, melakukan apapun untuk yang dicinta, mengorbankan apapun terhadap yang dicinta, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, tanpa imbalan, tanpa balasan, dan hanya mengharapkan keridhoannya semata.

Dalam filsafat barat yang berkiblat di Negara yunani, tingkatan cinta terbagi atas 3 bagian utama. Eros, Phillia, dan Agape. Eros berada pada tingkatan terendah karena hanya berlandaskan kepada hawa nafsu semata, sementara Phillia ada pada tingkatan diatasnya sebab pada tingkatan cinta ini tidak hanya berlandaskan kepada hawa nafsu semata, Saling membutuhkan, Saling memerlukan, atau dapat disebut dengan Simbiosis Mutualisme. Dan pada  tingkatan tertinggi adalah Agape, tahapan cinta ini tidaklah mementingkan kepentingan diri sendiri, namun lebih kepada kepentingan orang yang dicinta. Contoh paling kongkretnya adalah Cinta Ibu kepada Anaknya.

Cinta dalam artian yang sebenarnya adalah menghilangkan Ke-Aku-An didalam diri sendiri, ego yang ada dalam diri, keinginan untuk memiliki. Cinta yang hanya berlandaskan kepada kebahagiaan terhadap orang yang dicinta, tanpa memandang akankah mendapatkan balasan dari orang yang dicinta. Persis seperti cintanya ALLAH SWT kepada setiap hambanya, Cinta yang paling tulus, Cinta yang paling Hakiki, dan Cinta yang paling Indah.

Cinta yang berlandaskan kepada keinginan harus memiliki apapun yang dicinta adalah cinta yang berlandaskan kepada hawa nafsu.  Hawa nafsu yang tak pernah berkesudahan sampai segala keinginannya dapat terwujud. Hawa nafsu yang hanya bersandar pada kepuasan semata, keegoan yang meraja, melakukan apapun asalkan segala keinginannya jadi nyata. Hawa nafsu yang lebih membawa diri kita kepada penderitaan bila tak mampu untuk mengendalikannya. Sebab dalam hawa nafsu terdapat segala keinginan yang tak pernah berkesudahan.

Cinta dalam Hakikat yang sesungguhnya harus melepas segala ke-aku-an yang dimiliki. Bukan tentang bagaimana saya harus dibahagiakan? tapi tentang bagaimana saya harus membahagiakan? Bukan tentang apa keuntungan yang dapat saya peroleh? tapi tentang apa yang dapat saya lakukan untuknya? Bukan tentang menerima? tapi memberikan yang terbaik? Bukan tentang keinginan diri semata? Namun lebih kepada keinginan yang dicinta?

Maka nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan ? Maka nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan? Maka nikmat tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan? Kalimat ini diulang-ulang bahkan sampai lebih kurang 33 kali didalam Surah Ar-rahman. Cinta adalah salah satu cara Allah SWT menunjukkan kepada kita manusia, bahwa segala kenikmatan itu asalnya dari ALLAH SWT. Maka jika rasa itu muncul didalam diri kita kembalikanlah rasa itu kepada Sang Pemiliknya.

Cinta itu bukan tentang kata, tapi lebih kepada tindakan dan perbuatan. Cinta itu bukan hanya tentang pengertian, namun lebih kepada pemahaman. ada ungkapan sederhana yang mengatakan bahwa seseorang yang tahu itu belum tentu mengerti, orang yang mengerti itu belum tentu memahami, dan orang yang memahami itu belumlah tentu melakukan.

Tempatkan segala sesuatu pada tempatnya, sebab segala sesuatu yang diracik dengan takaran dan cara yang tepat akan terasa lebih nikmat.