Review Kdrama Extracurricular: Antara Bisnis dan Menjaga Mental Health

Kasus Nth Room yang sempat menggemparkan Korea Selatan, ternyata kalah telak melawan serangan virus corona. Media minim mengekspos kasus tidak senonoh yang meresahkan ini. Rilisnya Extracullicular di tengah pandemi terasa sangat pas karena bisa kembali menghangatkan kasus tersebut.

Kami melihat isu mental health disinggung di sini. Drama ini bercerita bagaimana tekanan hidup, moralitas dan cita-cita bertubrukan satu sama lain. Pesan pentingnya adalah ketika kamu punya masalah, better untuk cerita pada orang lain bukan dipendam sendiri hingga menjadi bom waktu yang entah kapan akan meledak.

Extracurricular mengisahkan bagaimana siswa SMA berjuang untuk meraih mimpinya (kuliah) dengan bekerja sambilan yang relatif tidak biasa –menjadi mucikari. Cerita kemudian berpusat pada tokoh utama yaitu bagaimana mereka tetap bisa menjaga keberlangsungan bisnis dan menyeimbangkan kehidupan pribadi sebagai siswa sekolah. Pertaruhan tokoh utama tiap pada setiap harinya selalu diliputi bahaya karena berhubungan dengan polisi dan berandalan yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa. Kehidupan tokoh utama mau tidak mau akan dipengaruhi oleh kerja sambilan mereka, utamanya mengenai keamanan dan moralitas yang secara intens memengaruhi kondisi mental mereka. Dari ini, judul Extracurricular menjadi make sense dipilih.

Drama ini menggunakan alur maju dengan tempo yang cepat. Tidak ada kilas balik dramatis apalagi kisah romantis sebagai bumbu cerita. Drama fokus pada apa yang ingin disampaikan dalam cerita, yaitu kehidupan gelap remaja. Sangat cocok bagi penikmat genre crime karena ketegangan yang dihasilkan begitu terasa. Debut screenwriter, Jin Han Sae patut diacungi jempol. Daebak.

Namun, tidak ada bumbu romantis, bukan berarti tidak ada kisah cinta. Menurut kami ciri khas drama korea adalah menggunakan momen jatuh cinta sebagai momen kejatuhan tokoh utama. Extracurricular menggunakan pola yang sama, walaupun tidak memberi bumbu romantis pada kisah tokoh utama. Cerita mulai bergerak saat Oji berkencan dan meliburkan bisnisnya sementara waktu. Bukannya menikmati kencan, ia malah mendapatkan hal buruk bertubi-tubi –mendapat gangguan dari customer berbahaya, kehilangan ponsel bisnis, sampai kehilangan seluruh uang tabungannya!

Oji anak polos yang baru pertama kali jatuh cinta, seluruh indranya tertutup husnudzan oleh crush, hingga tidak pernah berpikiran bahwa Baeggyul yang menyembunyikan ponsel bisnis. Hampir tidak ada adegan romantis di drama ini, penekanan cerita pada dunia gelap remaja benar-benar tersampaikan dengan rapi. Mungkin, ini merupakan gambaran riil kehidupan remaja di Korea Selatan. Who knows?

Menurut kami, aktor penggerak cerita adalah Minhee dan Baeggyul. Baeggyul tiba-tiba hadir di hidup Oji dan membuat kondisi manajemen bisnis runyam, meskipun dia tetap berupaya membantu. Minhee menjadi celah bisnis Oji dicium polisi. Kekakacauan ini mirip kehidupan awal pasutri, di mana satu sama lain perlu beradaptasi karena kehidupan pribadinya akan dipaksa melebur.

Kisah cinta antara Oji dan Baeegyul lucu, strike forward. Langsung-langsungan. Tapi bagi kami itulah hal yang stand out dari drama lain yang biasanya cenderung manis serta menye atau malah tragis-dramatis. Sementara kisah cinta Minhee dan Kwakki terkesan maju mundur, seperti tidak pernah punya kemajuan.

Ada empat pemeran utama dari drama ini.

Oji, siswa cerdas dan pendiam yang tidak pernah membuat masalah di sekolah. Dia memiliki watak pecundang. Oji anak korban broken home yang tinggal sendiri, dan berjuang untuk membiayai hidup serta kegiatan sekolahnya demi mencapai mimpinya untuk kuliah.

Baegyul, teman sekelas Oji yang kemudian akrab karena satu UKM penelitian sosial. Baeggyul lahir dalam keluarga kaya namun tidak bahagia karena selalu didikte orang tua, utamanya dalam hal akademik serta pilihan hidup. Baeggyul anak yang aktif, pandai berbicara dan memiliki saraf motorik yang bagus serta cenderung bertindak nekat.

Kemudian ada juga teman sekelas mereka yang terlibat dalam bisnis, Minhee.

Minhee hidup mandiri bersama dengan beberapa temannya yang juga terlibat prostitusi. Minhee memiliki gangguan panik karena sempat ditangkap klien berbahaya. Meski tetap memaksa untuk ‘bekerja’ Minhee tidak bisa membuang ingatan traumatis tersebut.

Minhee berpacaran dengan Kwakki yang notebene adalah siswa populer di sekolah walau tidak dijelaskan lebih detil apa yang membuat Kwakki populer. Background keluarga Kwakki tidak ditampilkan jelas. Secara persona Kwakki adalah anak yang mampu bersikap manis di hadapan guru namun melakukan persekusi kepada beberapa teman dan adik kelasnya. Kwakki anak yang kasar tapi bisa memobilisasi massa.

Perwatakan dari tiap tokoh sangat matang. Terkesan melekat dan sangat kuat, konsisten dari awal sampai akhir episode. Begitupun dengan pemeran pembantu seperti bu polisi yang teliti, dan Pak Lee yang diam namun perhatian. Kami tidak menemukan real antagonist dalam drama ini. Semua bisa jadi teman dalam satu kondisi, dan bisa jadi lawan dalam kondisi yang lain. Satu-satunya masalah sekaligus musuh besar tokoh utama adalah dirinya sendiri.

Sinemanya digarap dengan baik dan nyaman untuk dinikmati. Ada adegan kekerasan dan berantem, namun tidak sebombastis genre aksi. Adegan sejenis lebih diredam dan menyesuaikan dengan dunia anak SMA. Namun vibe sinemanya cenderung dark untuk menunjukkan dan mendukung representasi kondisi mental tokoh utama yang relatif bermasalah. Ada vibe tegang juga, seperti ditunjukkan pada OSTnya.

Settingnya biasa, seperti keseharian dan normal life. Tidak ada hal wow yang terekspos namun sangat mendekati nyata. Penonton bisa merasa relate karena kedekatan tiap scenenya dengan hidup sehari-hari. Hampir tidak ada hal yang menarik selain mobil Pak Lee yang dipenuhi alat-alat dan rumah teman lamanya ia kunjungi selepas kabur dari rumah sakit bersama Minhee. Setting paling detail ada pada tempat tersebut yang dapat membuat penonton bisa langsung tau masa lalu Pak Lee lewat situasi rumah, bahkan tanpa naskah dan dialog sekalipun.

Nan Molla! Kami sangat menikmatinya! Tiap scene bisa mengalir, lighting setiap tempat nyaman sekali di mata. View saat perkelahian dan lari-larian juga sangat hidup. Extracurricular ingin menyampaikan pesan bahwa seperti apapun alasan berbuat hal jahat, di depan norma sosial, hal tersebut tetap sebuah kesalahan. Ending drama memuaskan, meski terkesan menggantung dan leading pada season selanjutnya.

Kalau menurutmu, bagaimana?