Menjaga Kesehatan Lembaga Keuangan Non-perbankan Ditengah Krisis Resesi Ekonomi Indonesia yang Menghantui

Indonesia terancam terkena resesi  akibat adanya pandemic Covid 19 yang diproyeksi pertumbuhan ekonomi  akan  negative pada kuartal II sebesar -4,3% yang diumumkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia karena melihat Negara Singapura telah mengalami resesi pada kuartal II sebesar -41% sehingga untuk melihat kemungkinan Indonesia terkena resesi dibuatlah proyeksi tersebut. Resesi ekonomi adalah penurunan kegiatan produksi secara tajam yang menyebabkan banyak sector ekonomi mengalami kebangkrutan dan berakibar pada Pengurangan tenaga kerja. Akan tetapi, Sri Mulyani mengatakan bahwa kita belum masuk ke dalam resesi hanya mengalami kontraksi ekonomi atau penurunan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, Resesi akan terjadi apabila pertumbuhan negative selama 2 kuartal. Oleh karena itu, kita akan menantikan proyeksi pada kuartal ketiga untuk melihat kondisi ekonomi Indoneseia kedepannya

Kondisi Indonesia saat ini akan sangat menakutkan bagi dunia usaha dan jasa keuangan perbankan  maupun non perbankan. Mengingat keadaan masyarakat yang terkena dampak dari penetapan PSBB dan phisycal distancing secara ketat  sehingga tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi dan banyaknya PHK( Pemutusan Hubungan Kerja). Kasus penderita  Pandemik Covid 19  yang terus meningkat membuat masyarakat ketakutan atas kondisi ekonomi yang terus menurun yang menyebabkan daya beli masyarakat juga ikut menurun. Peningkatan penderita Covid 19 berdasarkan data  yang diambil  dari situs Kementerian Kesehatan yang diakses pada Rabu (22/7/2020) sore sekitar pukul 15.50 WIB, Diketahui bahwa saat ini  terdapat 91.751 kasus Covid-19 di Indonesia, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Dimana ada penambahan kasus baru sekitar 1.882 orang.  Oleh karena itu, pemerintah telah membentuk komite penanganan covid dan pemulihan ekonomi nasional yang dipimpin oleh Menteri BUMN Erick Tohir.

Lembaga keuangan Non perbankan seperti Asuransi juga ikut terkena dampaknya  yaitu banyaknya klaim dari masyrakat ke Asuransi sangat tinggi. Misalnya PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia yang sudah membayarkan sebanyak 37 klaim untuk nasabah yang terinfeksi Covid-19 dengan nilai total Rp 3,77 miliar hingga dengan tanggal 15 Mei 2020. Menurut CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman, mengatakan klaim atas asuransi digunakan untuk biaya perawatan,perawatan rumah sakit, dan alat pelindung diri(APD) hingga perlindungan financial bagi keluarga korban Covid yang meninggal. “ diberikan perlindungan tambahan oleh asuransi Generali Indonesia sebesar  10% dari uang pertanggungan (UP) sampai  maksimal Rp 500 juta, hal tersebut  merupakan santunan UP tambahan untuk nasabah baru yang tergabung sejak 16 Maret 2020. Manfaat tambahan ini berlaku hingga September 2020. Jadi pada dasarnya, nasabah existing kami bisa klaim jika positif terdiagnosa Covid-19, dan bagi nasabah baru akan ada manfaat tambahan lagi,” ujar Edy pada Senin (27/5).  Oleh karena itu, Pihak asuransi harus melakukan tindakan agar dapat menyesuaikan cashflow perusahaan agar keuangan di intern perusahaan tidak collapse akibat pandemic ini. Berikut langkah yang dapat dilakukan asuransi dalam menjaga keuangan perusahaan :

  1. Menaikkan premi kepada nasabah. Seperti PT Asuransi Jasa Indonesia(persero) telah menaikkan premi sebesar 15.2% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019. Hal tersebut menjadi langkah Jasindo untuk memberikan pelayanan terbaik tetapi tidak mengganggu keuangan internal perusahaan
  2. Melakukan pengawasan monitoring serta mengeluarkan produk baru. Pengawasan terhadap tenaga pemasar untuk memperbanyak promosi produk asuransi serta menerbitkan produk baru seperti BNI Life. Seperti yang dikatakan Direktur BNI Life Eben Eser Nainggolan pada Minggu (19/4/2020). “Kami juga meluncurkan program spesial BNI Life Peduli Corona, untuk nasabah yang membeli life plan multi protection dengan uang pertanggungan Rp1 miliar,”

Itulah beberapa langkah yang dikeluarkan asuransi dalam menjaga keuangan perusahaan ditengah Resesi yang menghantui. Terima kasih