Efek Pandemi Corona, Mal Terbaik di Dunia Terpaksa PHK 450 Karyawan

Rancah.com – Pandemi  virus corona memberikan dampak negatif pada semua bidang bisnis, bahkan bisnis ritel kelas atas tidak lepas dari pengaruhnya.

Kondisi tersebut salah satunya dialami pusat perbelanjaan Selfridges. Perusahaan ritel asal Inggris yang merupakan satu-satunya mal (department store) yang dinobatkan sebagai ritel terbaik di dunia sebanyak empat kali.

Mengutip dari laman CNN,  Rabu (29/07/20), Selfridges mengaku memangkas 14 persen tenaga kerjanya atau sekitar 450 orang karena menghadapi tahun terberat akibat pandemi. Perusahaan mengaku sedang mengevaluasi semua biaya yang tidak penting serta menghentikan beberapa proyek.

Selfridges sudah mulai kembali membuka pusat perbelanjaannya pada Mei lalu, usai penguncian wilayah (lockdown) yang dimulai sejak Maret lalu. Sejumlah restoran dan salon kembali beroperasi, namun sekitar 30 persen pekerja masih mengikuti program cuti pemerintah.

Perusahaan ritel yang berdiri pada 1908 ini memiliki empat gerai di Inggris, meliputi satu gerai di Oxford Street, London, lalu dua gerai di Manchester dan satu di Birmingham.

Sebelum pandemi menyerang, penjualan Selfridges meningkat dalam beberapa tahun terakhir totalnya mencapai 1,85 miliar poundsterling atau setara dengan US$2,38 miliar pada Februari 2019.

Selfridges berinvestasi besar-besaran untuk memberikan layanan pengalaman pelanggan, termasuk aula aksesoris seluas 60 ribu kaki persegi yang merupakan terbesar di dunia.

Perusahaan juga mengembangkan toko Oxford Street yang ikonis. Selfridges juga berinvestasi dalam aplikasi Android, situs web berbahasa China, dan layanan pengiriman berlangganan.

Kemudian pandemi memberikan pukulan kepada ritel yang memiliki gerai di sepanjang jalanan di Inggris. Sebab, para pembeli terpaksa tinggal di rumah dan membeli secara online untuk menghindari penularan virus corona.

Merek-merek termasuk Topshop, Arcadia, Harrods, dan peritel pakaian pria TM Lewis terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada hampir 2.000 pekerjaan hanya dalam 48 jam pada awal Juli. Selain itu, perusahaan ritel yang menjual alat kecantikan Boots (WBA) juga mengumumkan akan memangkas 4.000 pekerjaan dan menutup 48 toko kacamata.

Sementara itu, jaringan department store John Lewis menutup delapan lokasi, sehingga menempatkan 1.300 pekerja dalam risiko PHK.

“Seperti yang lain, kami merasakan efeknya dan mengakui bahwa pemulihan akan lambat. Penjualan tahun ini diperkirakan jauh lebih rendah daripada di 2019,” kata Direktur Pelaksana Grup Selfridges Anne Pitcher.

Sebetulnya, banyak peritel telah mencoba mengalihkan fokus melalui belanja online. Imbasnya, penjualan e-commerce Inggris tahun ini diprediksi meningkat dari 5,3 miliar poundsterling atau setara US$$6,3 miliar tahun lalu, menjadi 78,9 miliar pou setara US$10,18 miliar.

Namun, penjualan dari inti bisnis Selfridges tetap merosot hingga 28 persen pada Juni karena tidak ada turis yang berbelanja.

 

0