Kafe Media Cinta Milenial Kepada Budaya Nusantara

Rancah.com – Peradaban masyarakat terus mengalami perubahan dan perkembangan menuju dunia tanpa batas. Fenomena ini disebut dengan globalisasi. Pada era ini masyarakat mudah mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia akibat pesatnya pertumbuhan teknologi. Gejala globalisasi telah merambah keseluruh tatanan hidup masyarakat yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan bangsa, seperti salah satunya yaitu kebudayaan.

Kebudayaan memiliki makna berupa nilai yang menjadi panutan masyarakat atau pandangan masyarakat pada suatu hal. Secara jelas kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu ide yang tumbuh di masyarakat serta di hormati oleh masyarakat tersebut. Kebudayaan sangat erat hubunganya dengan gaya hidup yang muncul dimasyarakat. Gaya hidup itu sendiri merupakan sebuah pola hidup dalam bergaul dan memenuhi kebutuhan.

Berbicara masalah gaya hidup, di era globalisasi ini muncul istilah generasi milenial. Generasi milenial pertama kali dicetuskan oleh William Strauss dan Neil dalam karya buku mereka yang berjudul Millennials Rising: The Next Great Generation (2000). Berdasarkan kesimpulan beberapa ahli dari berbagai negara maka yan disebut dengan generasi milenial merupakan generasi yang memiliki tahun lahir antara 1980 sampai dengan 2000. Jumlah geneasi milenial di Indonesia pada tahun 2017 menurut Susenas (2017) jumlahnya telah mencapai 88 juta jiwa atau 33,75 % dari jumlah penduduk Indonesia. Penyebaran jumlah mileneal masih didominasi 55% berada diperkotaan.

Pada era moderenisasi saat ini muncul gaya hidup yang menarik bagi kaum milenial. Fakta menunjukan bahwa saat ini kaum milenial sangat tertarik untuk meluangkan waktunya pergi kekafe. Kaum milenial menjadikan kafe sebagai tempat ketiga setelah rumah dan sekolah/tempat kerja. Berbagai alasan kaum milenial lebih suka menghabiskan waktunya di kafe sehingga menjadi fenomena yang menarik dan berdampak pada kehidupan sosial.

Berdasarkan sejarahnya kafe di Indonesia memiliki notasi negatif yaitu sebagai warung remang-remang dimana tempat berkumpul para anak muda dan orang tua untuk menikmati hiburan dimana tersedia minuman keras serta para penghibur. Namun berjalanya waktu konsep kafe di Indonesia mengalami perubahan, dimana para pengusaha kafe mulai mengkonsep kafe menjadi tempat nyaman dan nongkrong bagi kaum anak muda. Sehingga keberadaan kafe saat ini perlu diapresiasi karena  sudah memiliki konotasi positif.

Keberadaan kafe khususnya bagi para kaum milenial telah mendapatkan posisi tersendiri yang dapat menjadi alternatif dalam memanfaatkan waktu luang atau tujuan lainya yang lebih penting. Berbagai hal mungkin saja dapat terjadi ketika individu datang kekafe sehingga memberika kontribusi terhadap konsumsi ruang di kafe. Pola konsumsi akan dapat mengalami perubahan sejalan dengan selera, motif, dan berbagai kepentingan bagi setiap pelaku didalamnya. Selain itu perubahan desain interior kafe dan gaya hidup juga akan mempengaruhi pola konsumsi dan motif pribadi individu untuk mengunjungi kafe. Hal ini terjadi akibat tedensi gaya hidup suatu pribadi ditentukan melalui cara memilih, menggunakan sesuatu, dan proses konsumsinya. Hal ini sesuai dengan amanat pasl 27 ayat 2 UUD 1945 bahwa tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kehidupan.

Disisi lain munculnya fenomena gaya hidup kaum milenial untuk berkunjung ke kafe, terdapat fakta yang memprihatinkan terhadap kondisi kearifan lokal masyarakat Indonesia. Pada era globalisasi dewasa ini, kearifan lokal telah mengalami penurunan eksitensi . Adat istiadat, kebudayaan, dan pola hidup masyarakat hukum adat semakin hari mulai termaginalkan akibat dianggap tradisional serta tidak sesuai dengan perkembang zaman. Kearifan lokal yang seharusnya menjadi identitas budaya masyarakat  pada era saat ini mulai dilupakan akibat dari globalisasi yang membuat dunia tanpa batas. Kondisi ini diperlukan penanganan khusus supaya kearifan lokal tetap terjaga eksitensinya sehingga dampak negatif dari era globalisasi saat ini tidak dapat merusakan tatanan kehidupan berbangsa. Terutama bagi anak muda usia sekolah menengah yang memanfaatkan kafe untuk nongkrong sambil main game online.

Melihat pemaparan di atas dari munculnya fenomena gaya hidup pergi kekafe serta kearifan lokal yang mengalami penurunan eksitensi, maka penulis menyarankan kafe yang akan dibuat harus mengandung nilai estetika atau makna kearifan lokal dari masing-masing daerah. Sehingga kafe dapat menjadi media pembelajaran dan pengenalan berbagai macam kearifan lokal bagi kaum milenial. Kafe perlu memiliki nilai yuridis, sosiologis, dan filosofi dari suatu kearifan lokal agar kaum milenial memiliki rasa cinta terhadap budayanya.