Nafas Ilahi

*NAFAS ILAHI*
_Oleh Andri Herdiyanto_
~ ~ ~

Masa yang lalu telah meniada. Sedang yang akan datang belum terjadi. Segala yang ada terjadi di masa kini. Kesekarangan yang mengabadi.

Itulah sesungguhnya hakikat Sang Waktu. Terdiri dari sekarang, sekarang, dan sekarang. Terus begitu dari dahulu hingga kelak. Yang terekam memori di dalam benak.

Sang Waktu Yang Berkesadaran. NafasNya yang membuahkan kehidupan. Menyejarah dalam lintasan masa. Lintas generasi saling berjalin kelindan.

Pepohonan bertumbuhan. Bersama-sama membentuk rerimbunan hutan. Ekosistem tempat bernaungnya para hewan. Kerajaan besar bagi berbagai varian bentuk kehidupan.

Lalu kemudian muncul pula hewan yang dibekali kesadaran. Yang dengan nafasnya kini ia mampu membuahkan perkataan. Sehingga ia mampu saling berbincang menceritakan. Kisah-kisah masa lalu serta impian masa depan.

Itulah insan, Putra Sang Waktu. Yang kesadarannya berupaya menyadari Kesadaran Pencipta. Yang dariNya ia berawal dan berasal. Lalu kepadaNya ia akan pulang dan kembali.

Merindukan ia kampung halaman. Tempat kesadaran murni yang jernih dan menggembirakan. Di tempat persinggahan ia membuat prosa dan puisi. Yang menggambarkan kerinduan terdalam ini.

Lalu tindakan demi tindakan membuahkan kebiasaan. Terus menerus dilakukan hingga menjadi bagian dari karakter. Dijalani hingga membentuk kesadaran berikutnya. Yang akan dibawanya melampaui kematian.

Kelak ketika ia pulang melintasi alam transisi. Beranjak pada kehidupan setelah lewati tidur pulas kematian. Ia kan temui buah kesadaran yang dibangunnya. Tak ada satupun yang luput dari memori.

Cukuplah dirinya sebagai saksi. Yang berbuat sekaligus kesaksian itu sendiri. Dirinya yang satu menjelma kehidupan yang telah dijalani. Saatnya untuk menuai apa yang telah ia tanam.

Ya, Sang Waktu itulah Nafas Ilahi. Yang berhembus melintasi beberapa kehidupan dan kematian. Hembusannya keluar menghidupkan perjalanan petualangan. Sedangkan hirupannya kedalam menarik perjalanan pulang kembali.

Sumber foto: vustudents.ning.com

Dan bersamaNya kita akan tenang. Menyaksikan segala Keindahan dan Keagungan. Yang sebelumnya tersembunyi dalam khazanah suci. Terjelmakan dalam kesadaran yang baru, dan bangkit dalam bentuk yang hidup.

Yang ke manapun kita arahkan pandangan. WajahNya jua yang akan kita temukan. Sedemikian takjubnya kesadaran kita. Sehingga dalam jenak itu pun kita melupakan segalanya selain Dia.
~ ~ ~

Artikel lainnya dari penulis:

Jangan Batasi Diri, Lakukan Kreasi dan Temukan Hal Baru

Nikmati Momen, dan Akses Kebahagiaan Sejati

Jaga Keseimbangan, Jangan Tersandera Oleh Teknologi

Lika Liku Perjalanan Hidup Manusia

Berhentilah Memunggungi Manusia

Mendidik Diri adalah Amanat Semesta

Buku Diri Adil Priyatama (1)

Buku Diri Adil Priyatama (2)

Resep Mie Goreng Jawa

Cara Mudah Menguasai Tenses

~ ~ ~
Bantu share tulisan ini ke teman-teman Anda.
Dengan berbagi kita peduli.