Perkara Mulia yang Pertama

Rancah.com – Pada Bulan Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriah atau Bulan Juli tahun 610 Masehi, ketika Muhammad sedang di dalam gua, datanglah sosok berwujud manusia yang memperkenalkan diri sebagai Malaikat Jibril. Muhammad merasakan kedamaian yang luar biasa sebagaimana yang pernah hadir dalam mimpi-mimpinya.

“Bergembiralah hai Muhammad!” sapa Malaikat itu, “Aku adalah Jibril, dan Anda adalah utusan Allah untuk umat manusia!” Selanjutnya Jibril berkata, “Bacalah!”

“Aku tidak bisa membaca,” jawab Muhammad gugup karena terkejut. Beliau memang ‘ummi’ (buta huruf) karena belum pernah belajar membaca. Lalu Jibril mendekap Muhammad dengan selimut yang dipakai tidur sehingga Beliau merasa begitu kelelahan. Jibril lalu melepaskan Beliau dan kembali berkata, “Bacalah!”

“Aku tidak bisa membaca.”

Jibril kembali mendekap sesaat dan melepaskan sambil mengulang ucapannya hingga kejadian itu terulang untuk ketiga kalinya, “Bacalah!”

Akhirnya Muhammad, dengan bimbingan Jibril, Sang Rasul itu mampu mengucapkan kata-kata sebagai berikut,

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah dan Rabbmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” {Surah Al Alaq 1-5}

Membaca adalah perkara mulia yang pertama kali diperintahkan Allah kepada Rasul terkasihNya. Membaca adalah mendiskripsikan segala sesuatu, tidak cukup hanya berupa kata atau kalimat, melainkan juga bisa pada semua peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan. Begitu mulianya perkara ini sehingga menjadi pintu awal turunnya ayat-ayat selanjutnya.

Kegiatan membaca memberikan beberapa manfaat, antara lain:

  1. Memperluas wawasan
  2. Menambah pengetahuan
  3. Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis
  4. Memperbaiki kondisi memori
  5. Meningkatkan kemampuan konsentrasi
  6. Merangsang kematangan mental
  7. Memperbanyak kosa-kata
  8. Membangkitkan semangat untuk menulis
  9. Sebagai sarana hiburan untuk mengurangi stres

Di tengah masyarakat yang minat bacanya rendah, yang berakibat minimnya pengetahuan dan dangkalnya wawasan, maka akan mudah disesatkan oleh berita-berita yang tidak benar. Mudah sekali terhasut oleh kabar burung, rumor, isu dan gosip-gosip murahan.

Belakangan ini, di banyak tempat di Indonesia, marak berita-berita menyesatkan yang memakan korban orang-orang malas membaca atau yang tidak mau membaca dengan baik. Sehingga marak pula kegelisahan, keresahan, dan kekacauan di tengah masyarakat, akibat yang ditimbulkan dari berita sesat itu. Bisa jadi kekacauan itu memang disengaja dan diharapkan terjadi demi keuntungan serta kepentingan pihak tertentu, namun itu akan sulit terjadi apabila masyarakat rajin membaca.

Sebaliknya di tengah masyarakat yang minat bacanya tinggi, biasanya berita-berita murahan itu akan dengan sendirinya masuk tong sampah, sebab mereka memiliki ketrampilan berpikir kritis dan analitis, mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, sehingga mampu memilah antara yang benar dan yang salah.

Membaca adalah perkara mulia yang pertama diperintahkan Tuhan, bahkan jauh sebelum perintah shalat, puasa, zakat dan pergi haji diturunkan. Anehnya kegiatan membaca seringkali dipandang sebelah mata. Itulah yang terjadi di negeri tercinta ini.